
Setelah Jeremy pergi. Gabby membuka hasil tes milik Laura dan Naura. Tangan Gabby bergetar, ia sungguh takut Laura dan Naura mengalami hal yang serius.
Gabby kembali duduk di di kursi, kemudian ia langsung melihat satu persatu deretan huruf yang yang tertulis di laporan tersebut.
Nafas Gabby tersendat, dunia berhenti berputar. Jantungnya seakan berhenti berdetak saat melihat apa yang dialami oleh kedua putrinya. Tiba-tiba Gabby menjatuhkan kertas yang sedang berada di tangannya, kemudian ia menatap Stella.
“Nona, anda tidak apa-apa?” tanya Stella. Tiba-tiba Gabby bangkit. Lalu, ia berhambur memeluk Stella. Ternyata, Laura dan Naura menderita penyakit yang sama dengannya. yaitu leukimia.
Gabby memeluk Stela, lalu menangis tersedu-sedu. Dunia Gabby benar-benar hancur. Hari ini, ia diterpa kemalangan yang luar biasa hebat. Ia kehilangan kedua orang tuanya, dan ia harus mengetahui bahwa ternyata putrinya mengalami leukimia, penyakit yang sama dengannya. Gabby benar-benar berada di di titik lemahnya.
“Nona Gaby ... Nona Gaby!” Panggil Stella yang terkejut saat Gabby menangis di pelukannya Gabby tersadar, kemudian ia berusaha menguatkan dirinya lagi. Lalu, ia melepaskan pelukannya dan menghapus air matanya.
“La- Laura dan Naura menderita leukimia,” ucap Gabby. Seberapa keras pun Gabby menahan air matanya. Tetap tak bisa, air matanya kembali tumpah. Ini benar-benar menyakitkan bagi Gabby. Sedangkan Stella menutup mulut tak percaya dengan apa yang di ucapkan oleh Gabby. “No-Nonna Gabby.... ” Kali ini, Stella yang berhambur memeluk Gabby, hingga tangis kedua orang itu pecah.
•••
Waktu menunjukkan pukul satu malam, Gabby masih terjaga. Sejak mengetahui bahwa Naura dan Laura menderita penyakit yang sama dengannya. Gabby tidak beranjak sedikitpun dari kursi. Ia terus menggenggam kedua tangan putrinya, ia terus menatap putrinya yang tampak terbaring lemah dan berdaya.
Gabby bisa menahan ketika dirinya sendiri yang terkena penyakit leukimia. Tapi ketika mengetahui bahwa Laura dan Naura menderita penyakit yang sama dengannya. Rasanya Gabby tidak sanggup lagi membuka matanya.
Ini sangat menyakitkan. Rasanya, membayangkan apa yang akan dilalui kedua putrinya itu sangat mengerikan dan Gabby harus tetap kuat di kala kondisinya yang melemah.
Gabby menutup mulutnya, ia tiba-tiba merasakan mual. Rasanya, perutnya bergejolak. Ia llangsung berlari ke arah kamar mandi dan berusaha memuntahkan seluruh isi perutnya.
Tapi semuanya sia-sia, karena memang Gabby belum makan apapun seharian ini. Gabby menyandarkan tubuhnya di bidt toilet. Tiba-tiba, hidungnya mengeluarkan darah. Kepala Gabby berkunang-kunang
Gaaby berusaha untuk tetap sadar, ia tidak ingin sampai tak sadarkan diri dan pingsan. Gaby mencoba meraup sebanyak-banyaknya. Kemudian ia keluar dari kamar mandi. lalu setelah itu, ia nembaringkan dirinya di sofa.
Perlahan, sakit di kepala Gabby mulai memudar. Napas Gabby sudah berangsur membaik. Gabby menatap brankar yang ditempati Laura dan Naura dengan berderai air mata.
“Laura...Naura, apakah kita sanggup menjalani ini semua?” tanya Gabby. Dia bergumam pelan. Perlahan, Gabby mulai memejamkan matanya dan ia pun tertidur dengan membawa sakit yang luar biasa hebat.
Scroll gengs