Dokter Meets CEO

Dokter Meets CEO
Tegar


satu bulan kemudian


Ayana menghela nafas, kala pekerjaannya sudah selesai, akhirnya ia bisa bisa pulang lebih cepat dari biasanya. Ia melihat jam di pergelangan tangannya, ternyata waktu menunjukkan pukul 04.30 dan dia bisa pulang setengah jam lagi.


Ia melihat ponselnya,.kemudian melihat foto Moa. Hari ini, ia sudah mendapat gajih dan ia akan mengajak Moa pergi berjalan-jalan. Ia tersenyum, lalu membelai foto putrinya.


Selama sebulan ini, pekerjaan Ayana sangat berat. Tapi ia bersyukur, Raymond dak memecatnya, dan tidak terpengaruh dengan Jordan. Hingga kali ini, ia benar-benar bisa bekerja dengan tenang.


Tak lama, Ayana mengingat sesuatu. Ia lupa belum meminta tanda tangan Ray, ia pun bangkit dari duduknya, kemudian pergi ke ruangan Ray.


•••


“Rai kau sedang apa?" tanya Justin yang tak lain adalah sahabat Rey, ia langsung masuk ke ruangan Rey.


Rey yang sedang duduk di mejanya, langsung menoleh. Kemudian berdecak kesal.


“Selalu saja begitu! Apa kau tak bisa mengetuk pintu dulu!” gerutu Ray, ia pun bangkit dari duduknya. Kemudian menyusul Justin yang sudah duduk di sofa.


“Aku lihat sekretarismu sangat tidak asing. Apakah kita pernah mengenalnya?” tanya justin. Karena saat akan masuk ke ruangan Rei, dia melihat Ayana di ruangan sekretaris.


“Hmm, dia wanita yang pernah menolakku dulu dengan angkuhnya!” ucap Ray, membuat mata Justin membulat.


“Dia wanita yang pernah menolakmu?” ulang Justin. Ray menggangguk.


“Lalu kenapa dia bisa bekerja di kantormu?” tanya Justin lagi, Justin tampak berpikir.


“Rey, apa kau ....”


seketika Ray tertawa, “Pikiranmu benar, aku menariknya menjadi sekretarisku untuk membalasnya. Kau tahu rasanya sangat menyenangkan, ketika melihat dia menurut hanya karena uang.”


•••


Ayana menutup mulut saat mendengar percakapan Raymond, ini sudah 20 menit dia berdiri di depan pintu ruangan Raymond. Selama 20 menit itu pula, ia mendengar semuanya.


Ia yang tadinya ingin meminta tanda tangan Raymond, menghentikan langkahnya saat mendengar percakapan antara Raymond dan seseorang.


Pintu itu sedikit terbuka, hingga Ayana mendengar semuanya, dan Ia tidak menyangka bisa mendengar itu dari mulut Raymond. Ayana menghela nafas kemudian menghembuskannya, ia berusaha menguatkan hatinya.


Seperti biasa, apapun yang dilakukan orang lain kepadanya, ia tidak akan bisa melakukan pembelaan apapun. Apalagi Ray adalah bosnya, dan ia harus menahan semuanya, walau pun ucapan Ray barusan benar-benar menusuk sampai jantung. Apalagi Ray membahas hubungan ia dengan Jordan. Tapi, setelah mendengar semuanya. Ayana tetap tak bisa berbuat apa pun. Sebab, hanya perusahaan Ray lah yang memberinya pekerjaan dan tidak terpengaruh oleh Jordam.


Ayana menghela nafas, kemudian menghembuskannya. Lalu, ia mengetuk pintu dan ia pun masuk ke dalam ruangan Ray, membuat Raymond yang sedang berbicara sambil tertawa menghentikan ucapannya


Mata Ray membulat saat melihat Ayana ada di depannnya. Seketika, ia Justin saling tatap.


“Tuan, ada berkas yang harus anda tanda tangani,” ucap Ayana dengan bibir yang sedikit bergetar, ia bahkan tidak berani menatap Ray


“Saya akan menaruh berkas ini di meja Anda tuan, kalau begitu saya permisi!” Setelah menaruh berkas itu, Ayana berbalik, kemudian ia keluar dari ruangan Ray, meninggakan Raymond yang diam terpaku.


Tunggu, padahal beberapa detik lalu ia masih bersemangat menceritakan apa yang ia lakukan pada Ayana, tentang ia yang ingin membalas kesombongan Ayana. Tapi saat melihat Ayana dan saat mendengar suara Ayana yang bergetar, kenapa tiba-tiba ada yang aneh dengan perasaannya.


“Ray, apa menurutmu dia mendengar semuanya!”


Ray ....


Plis inimah ya udah update 4 bab, ga friend sih kalau ga komen dan ga sampai 500 komentar