
Setelah Laura tidak terlihat lagi, Andre langsung masuk ke dalam mobil, kemudian ia menyandarkan tubuhnya ke belakang. Ia tidak langsung pergi, Ia terus melihat penthouse Laura dari mobilnya.
Andre mengelus dadanya yang terasa pedih. Namun, tak lama ia tersadar. Ia tidak boleh egois. Barusan, sebenarnya ia tidak sengaja mengatakan itu, mengatakan bahwa Bella tidak boleh dekat dengan lelaki lain. Padahal, sebenarnya ia tidak bermaksud melakukan itu, ia hanya kehilangan kontrolnya.
Setelah cukup lama melihat penthouse Laura, Andre pun langsung menyalakan mobilnya dan menjalankannya, untuk pulang ke apartemennya.
Setelah melewati perjalanan yang cukup jauh, mobil yang dikendarai Andre sampai di basement apartemennya. Andre pun turun, kemudian ia langsung berjalan ke arah lift untuk naik ke apartemen miliknya.
Andre membuka pintu apartemennya, kemudian ia melihat ke sekelilingnya. Sepi, Apartemennya begitu sepi, membuat hati Andre kian hampa. Ia pun melangkahkan kakinya untuk pergi ke kamar.
Saat berada di kamar, Andre membuka jasnya kemudian ia langsung membaringkan dirinya di ranjang, tanpa melepaskan pakaiannya. Tatapan Andre lulus ke depan, ia melamun dalam kegelapan. Tangannya merogoh bantal mengambil foto seseorang.
•••
“Mommy, hari ini siapa yang menjemputku? Mommy atau Daddy?” tanya Bella pada Laura Laura yang sedang menyiapkan sarapan tersenyum.
“Sepertinya kau akan dijemput oleh paman Jefri. Mommy ada meeting, dan Daddy ....” Laura menghentikan ucapannya, ia bingung harus menjawab apa.
Karena selama ini, tidak pernah ada koordinasi antara Laura dan Andre tentang penjemputan Bella di sekolah. Tapi, Laura selalu mengirimkan supir setiap hari ke sekolah Bella, dan menyuruh supir menunggunya dari jauh untuk memastikan saja jika Andre menjemput atau tidak, karena jika anda tidak menjemput sopirlah ya akan menjemput Bella.
“Baiklah!” wajah Bella tanpa sendu saat mendengar ucapan Laura, membuat Laura mengerutkan keningnya.
“Kau kenapa? apa ada yang mengganggu pikiranmu? apa teman-teman membuatmu tidak nyaman?” tanya Laura.
Bella menggeleng. “Tidak Mommy, aku pikir Daddy sedang sakit,” ucapnya. Seketika Laura menghentikan gerakannya yang sedang memindahkan makanan ke tempat bekal. Ia terdiam sejenak
“Ayo makan sarapanmu!” kata Laura, Laura tidak ingin terlibat lebih jauh lagi dengan urusan Andre. Hingga ia menghentikan putrinya berbicara tentang Andre. Ia benar-benar tidak mau tahu apapun lagi tentang mantan suaminya.
Akhirnya, acara makan pun selesai. Laura sudah siap begitupun Bela. Laura berencana untuk mengantarkan Bella terlebih dahulu ke sekolahnya, lalu pergi ke kantor.
Saat ia akan keluar dari penthouse, tiba-tiba bel berbunyi. Hingga Laura pun langsung berjalan dengan cepat ke arah pintu dan membuka pintu tersebut.
“ Arthur!” panggil Laura, ternyata Arthurlah yang datang.
“Hai,.” Sapa Artur, Laura tersenyum.
“Kenapa kau tidak memberitahuku bahwa kau akan kemari?” tanya Laura.
“Jika kau tidak keberatan, maukah kalian berangkat denganku?” tanya Arthur. Laura tampak menoleh ke arah Bella, Bella yang ditatap menggangguk, pertanda ia ingin berangkat bersama Arthur.
“Terima kasih Arthur!” kata Laura lagi. Arthur pun berbalik, kemudian berjalan mendahului Laura kemudian membukakan pintu mobil untuk Bella, dan membukakan pintu mobil bagian depan untuk Laura. Lalu, dia sendiri pun masuk ke dalam mobil.
Hening, tidak ada percakapan apapun di dalam mobil. Arthur diam, begitupun dengan Laura. Ini sudah sebulan berlalu Arthur mencoba mendekati Laura. Namun, sepertinya ia harus butuh effort yang lebih besar lagi untuk mendekati Laura, agar perjuangannya tidak sia-sia dan apa yang ia inginkan tercapai.
“Biar aku saja yang turun dari mobil!” kata Artur saat sampai di sekolah Bella, ia langsung membukakan pintu untuk Bella.
“Bolehkah Paman menjemputmu nanti?” tanya Arthur. Dengan polosnya, Bella mengangguk. Lalu setelah itu, ia melambaikan tangannya dan pergi masuk ke dalam sekolah, dan setelah Bella pergi, Arthur langsung masuk kembali ke dalam mobil. Lalu, menjalankannya lagi menuju kantor Laura.
•••
“Laura, aku sudah berjanji menjemput Bela. Kau tidak keberatan kan?” tanya Arthur ketika sampai di kantor Laura.
Laura mengangguk. “Aku tidak keberatan, terima kasih jika kau mau menjemputnya,” jawab Laura. Sebenarnya Laura sedikit agak keberatan, karena ia tidak ingin Artur memberi harapan palsu pada Bella,.karena walau bagaimana pun, hatinya masih belum yakin. Ia tidak ingin mengambil keputusan terburu-buru. Tapi, untuk menolak pun rasanya Laura tidak tega.
“ Arthur terima kasih sudah mengantarkanku, kalau begitu aku permisi.” Saat Laura akan turun, Arthur menarik tangan Laura, Hingga Laura Refleks menarik tangannya kembali.
“Maaf Arthur, bukan maksudku,” ucap Laura yang tidak enak. Jujur saja Ia hanya refleks menarik tangannya karena ia terlalu terkejut.
“Tidak apa-apa, maukah kau makan siang denganku nanti?” tanya Arthur lagi, Laura tampak berpikir.
“Maaf, Artur. sepertinya aku ada meeting mungkin kita bisa pergi lain kali.”
•••
Saat Laura masuk ke dalam ruangannya, Laura terpekik, ternyata sudah ada Naura di dalam. ”Kenapa kau masuk ke dalam ruanganku tidak memberitahuku, dari mana kau bisa mendapatkan akses untuk masuk?”. tanya Laura pada saudara kembarnya.
“Apa kau tidak ingat kita kembar,” jawabnya, karena memang ruangan Laura memakai scan wajah, hingga Naura bisa masuk ke dalam ruangan saudaranya.
“Tidak, aku diantarkan oleh Arthur.”
Mendengar nama Arthur, Naura terdiam. Ia seperti ragu untuk berbicara sesuatu pada Laura. “Kau sudah mulai dekat dengannya?” tanya Naura, Laura yang sudah membuka blazernya langsung menoleh.
“Tidak terlalu dekat. Tapi sudah ada perubahan. memangnya kenapa?”jawab Laura yang menundukkan diri di seberang Naura.
“Tidak, aku hanya memintamu untuk berhati-hati saja. Jangan terlalu percaya pada orang asing!” kata Naura, Laura menyipitkan matanya, karena Jika Naura yang sudah berbicara, Laura selalu merasa bahwa ucapan Naura selalu benar.
”Maksudmu apa? apa menurutmu dia tidak baik?’ tanya Laura.
“Tidak, aku tidak termasuk begitu hanya saja Aku ingin kau lebih berhati-hati,” ucap Naura lagi..
Laura pun hanya mengangguk-anggukan kepalanya. “Kenapa kau kemari, apa ada yang penting?” tanya Laura.
“ Aku akan terbang lagi ke Hawaii besok, dan ini mengenai mantan suamimu ...”
“Naura cukup, aku tidak mau membahas dia lagi? lagi pula kenapa kau masih peduli tentang dia, apa kau ingin kembali lagi bersamanya?” tanya Laura dengan sarkas.
“Kau ini!” Naura mengambil bantal dan melemparkannya pada Laura
“Sudahlah, aku pergi!” Naura bangkit dari duduknya, kemudian keluar dari ruangan Laura membuat Laura menggeleng. Laura pun bangkit dari duduknya, kemudian ia langsung ke meja kerjanya.
•••
“Apa!? pembangunan hotel kita di menangkan oleh perusahaan Aerpin?” tanya Andre pada stafnya, yang mengatakan bahwa hotel yang akan dibangunnya ternyata memakai jasa kontraktor Aerpin, di mana Laura menjadi arsitek di sana.
“Ia tuan, perusahaan Aerpin yang mendapatkannya,” jawab staf tersebut, membuat Andre mengusap wajah kasar.
“Siapa arsitek yang bertanggung jawab untuk merancang semuanya?” tanya Andre.
“Ada dua arsitek yang bergabung, Nona Laura Dan tuan Michael!” lagi-lagi Andre mengusap wajah kasar, mati-matian ia tidak ingin berhubungan lagi dengan Laura. Tapi kenapa Tuhan seolah memberikan jalan untuk selalu berhubungan dengan mantan istrinya.
“Kau boleh pergi!” kata Andre pada stafnya.
“Tuan, jadwal bertemu dengan pihak Aerpin group akan dilaksanakan nanti siang. Mohon meluangkan waktu sebentar untuk mendiskusikan semuanya!” lagi-lagi Andre mengusap wajah kasar
”Baiklah, siapa perwakilan yang akan bertemu dengan kita?” tanya Andre.
”Kemungkinan Nona Laura atau kemungkinan juga Tuan Michael. Mereka akan mendiskusikan seperti kemauan anda," jawab staf tersebut membuat Andre mengangguk-anggukkan kepalanya.
Setelah staf tersebut pergi, Andre menyandarkan tubuhnya ke belakang, kemudian ia mengusap dadanya lalu menghirup oksigen sebanyak-banyaknya.
“ Tuhan Kenapa semua ini begitu rumit!” lirih Andre, ia memegang dadanya yang terasa sesak.
•••
Waktu menunjukkan pukul 11.00 siang, Andre bangkit dari duduknya menuju hotel tempat di mana dilaksanakan meeting.
Setelah sampai di hotel, Andre masuk ke dalam ballroom, di mana sudah ada beberapa orang di sana termasuk Laura. Mata Laura dan mata Andre saling mengunci. Namun keduanya sama-sama memalingkan tatapannya ke arah lain .
Akhirnya, meeting selesai dan mereka pun memutuskan untuk makan siang bersama. Di meja makan, sudah ada beberapa orang termasuk Laura. Sebenarnya Laura tidak nyaman makan bersama Andre, apalagi posisi Andre dan Laura bersebelahan, karena kursi yang dipesan sudah pas.
Tadinya ia ingin langsung pulang, tapi tidak enak menolak akhirnya mau tak mau, ia harus ikut makan siang bersama mantan suaminya. Pesanan pun datang, pelayan sudah memberikan pesanan pada masing-masing orang.
Saat Andre akan memakan makanannya, tiba-tiba Andre melihat ke arah makanan yang sudah tersaji di depan Laura. Andre memejamkan matanya, berusaha memutar otak.
Tanpa basa-basi, Andre menukarkan piring Laura dan piringnya membuat Laura langsung menoleh dan melotot galak pada mantan suaminya. karena Laura rasa, Anda tidak sopan.
“Di dalam makananmu ada kandungan nanas, dan Alergimu bisa kambuh.” Sebelum Laura berbicara, Andre sudah terlebih dahulu berbicara membuat Laura langsung terdiam.
Seketika
gas komen ya gengs pliss