
Gabby menggenggam tangan Nael, matanya tak lepas memperhatikan Nael yang menjalankan matanya. Ia menggenggam tangan Nael begitu erat, seolah takut kehilangan Nael lagi.
Saat ini Nael, sedang terbaring di ranjang. Setelah tak sadarkan diri, di gudang Gabby meminta sopirnya untuk membawa Nael ke apartemen miliknya yang selama ini selalu ia gunakan untuk menyendiri dan Gabby mengobatin Nael di apartemen.
Dan Ini sudah satu jam berlalu. Tapi sayang, Nael belum sadarkan diri, dan selama 1 jam pula, Gabby terus menggenggam tangan Nael, dengan mata yang tak lepas menatap wajah Ayah dari anak-anaknya.
Lama-kelamaan, mata Gabby mulai memberat. Ia pun menyimpan kepalanya di atas tangan Nael, hingga pada akhirnya ia memejamkan matanya dan mulai terlelap.
tepat saat Gabby terlelap, Nael membuka matanya, karena faktanya ia sudah sadar beberapa menit lalu. Hanya saja, ia terlalu malu menatap Gabby dan akhirnya ia berpura-pura berpura-pura belum sadarkan diri.
Walaupun ia malu pada Gabby.Tapi saat ini, ia sungguh ingin berteriak sekencang-kencangnya. Ia pikir, ia harus melakukan hal yang lebih jauh seperti mengoperasi wajahnya saat Gabby sudah tertarik pada wajah Joan..Tapi ternyata tidak.
Gabby lebih dulu mengetahui identitasnya, Gaby lebih dulu menyadari kehadirannya dan sekarang ia tidak perlu memakai identitas lain lagi untuk mengikat hati Gabby dan anak-anaknya.
•••
Gabby terbangun, kala sinar matahari menelusup masuk ke dalam kaca jendela. Ia mengerjapkan kemudian membuka matanya, lalu melihat ke sekelilingnya, dikamar itu kosong tidak ada siapapun.
Semalam yang ia ingat, ia tertidur dengan berbantalkan tangan Nael. Tapi sekarang ia malah tertidur di rajang.
“Dimana dia?” tanya Gabby, Ia turun dari ranjang kemudian berniat mencari Nael. Entah kenapa, ia merasa takut Nael akan pergi lagi.
Pintu kamar mandi terbuka, sosok Nael keluar dengan bertelanjang dada, membuat Gabby tersadar. Lalu memejamkan matanya.
”A-aku tidak tega membangunkanmu. Jadi?Ma-maaf, aku lancang jika aku memakai kamar mandi,” ucap Nael, seketika kegugupan dan kecanggungan melanda mereka berdua. Gabby dan Nael sama-sama merasa canggung.
Gabby mengangguk dengan pipi yang bersemu merah, kemudian ia berjalan ke arah lemari lalu ia mengambil pakaian milik Gabriel. “Kau bisa memakai pakaian ini terlebih dahulu. Ini pakaian milik Gabriel dan belum pernah Gabriel pakai,” ucap Gabby. Ia berbicara tanpa menoleh kearah Nael.
”Aku akan mandi dulu. Setelah itu kita bicara.” Gabby mendahului Nael untuk berbicara karena merasakan gugup yang luar biasa. Ia bahkan berlalu melewati tubuh Nael dan berlari ke kamar mandi.
••••
Setelah selesai dengan membersihkan diri, Gabby pun keluar dari kamar mandi. Saat akan masuk kedalam, ia mengintip, memastikan keberadaan Nael. Ia menghela nafas lega, kala Nael mungkin sudah keluar dari kamar, setidaknya Gabby bisa sedikit bernafas
Setelah rapih dan mengganti pakaian, Akhirnya Gabby memberanikan diri untuk keluar dari kamar, ia mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan, mencari Naek. Hingga, tatapannya berhenti di balkon, di mana Nael sedang berdiri membelakanginya.
“Ekhemm!” Gaby berdehem, membuat Nael tersadar, ia mengerjap-ngerjapkan matanya sebelum berbalik. Ia menyiapkan dirinya untuk berbicara pada Gabbt, setelah bisa menguasai diri, akhirnya Nael berbalik kemudian menatap Gabby hingga tatapan keduanya saling mengunci.
Scroll gengs