
“Kenapa, Kau juga sekarang sudah berubah menjadi lebih baik. Jadi, aku rasa, tidak ada alasan alasan lagi untuk kau merasa minder bersanding dengan Gisell," kata Nael.
Arsen tak menjawab. Pikirannya menerawang entah kemana. Dua tahun ini, ia menjadi pengacara perusahaan mendiang Stuard yang ada di Swiss dan sekarang di pimpin oleh Gissel. Hingga otomatis hubungan mereka semakin dekat. Gissel, memang tidak mengatakan mempunyai perasaan padanya. Hanya saja dari gerak-gerik Gissel, Arsen bisa menyimpulkan, bahwa Gisel tertarik padanya
Begitu pun Arsen. Entah kapan tepatnya
Seiring berjalannya waktu, perasaan itu mulai muncul, setiap di dekat Gisel, ia
akan merasa nyaman dan ia merasakan bahwa ia mulai tertarik pada Gisel, mantan Adik iparnya.
Tapi semakin lama, semakin membaiknya hubungan mereka. Arsen menyadari sesuatu. Ternyata ia melangkah terlalu jauh, ia sadar ia tak pernah bisa masuk ke dalam kehidupan Gisel. Bahkan membayangkannya saja Arsen tidak berani. Terlalu banyak kesalahan di masa lalu yang ia lakukan pada pada Gabby. Hingga ia tidak seberani itu untuk untuk membayangkan ia bersama Gisel. Apalagi, ia harus mengahadapi Gabriel.
“Sudahlah jangan membahasnya. Aku kemari hanya untuk berlibur. Bukankah kalian akan ada event bersa di pantai,” ucap Arsen yang mengalihkan, seketika Nael teringat sesuatu.
“Ya, kau benar. Satu minggu lagi, akan ada event di pantai,” Wajah Nael, berbinar kala teringat bahwa akan ada event yang selalu di adakan oleh para pengusaha setiap tahunnya. Dan kali ini, para pimpin perusahaan yang berada di satu klub memilih untuk mengadakan pesta di pantai. Nael dan Gabby bergabung di club itu dan pasti mereka akan bertemu.
satu minggu kemudian
Gabby, terdiam ia yang sedari tadi berdiri
mulai merasa bosan dengan pesta yang sedang berlangsung. Saat ini, ia sedang berada di pesta pantai yang diselenggarakan oleh rekan-rekan pengusaha yang berada di klub.
Sedari tadi Ia datang sampai sekarang, Gabby merasa ini adalah hal yang sangat membosankan, seandainya ia tidak mewakili Gabriel dan Giseel, tentu saja ia lebih memilih untuk tinggal di rumah bersama Laura dan Naura, karena merasa bosan.
Ia pun menenteng sepatu heels miliknya, kemudian ia berjalan ke arah selatan, dimana pantai tampak sepi. Gabby berjalan sambil bersenandung, ia seperti anak kecil yang memainkan air dengan kakinya.
Angin Malam menerpa wajah Gabby, semakin menambah rasa sejuk yang dirasakan oleh Gabby. Tak lama, Gabby menghentikan langkahnya saat merasakan ada yang mengikutinya.
Ia sudah mengambil ancang-ancang untuk menghajar orang yang berada di belakangnya. Namun tak, lama tubuh Ganby kembali rileks saat mendengar seseorang memanggil namanya.
“Nona Gabby!” Panggil Joan yang mengikuti Gabby. Gabby menoleh, kemudian tersenyum canggung.
“Ha-hai, tuan Joan,” ucap Gabby.
“Apa kau sedang sendiri?” tanya Joan.
Gabby, tergagap, pipinya bersemu merah tiba-tiba jantungnya berdebar tak karuan kemudian Gaby mengangguk.
“Ya, aku rasa pesta terlalu membosankan untukku,” ucap Gabby,.seketika Joan maju ke arah Gabby, kemudian ia memberikan kleng bir pada Gabby dan Gabby langsung menerimanya.
“Terimakasih, kau sendiri? Bukankah seharusnya kau ada di sana?” tanya Gabby Joan menggeleng.
“Aku rasa, aku setuju denganmu. di sana juga terlalu membosankan,” kata Joan. “Apakah kau tidak keberatan jika kita berjalan-jalan bersama?” tawar Joan, Gabby tampak berpikir kemudian mengangguk.
Scroll gengs