
Mendengar semua ucapan Laura, tiba-tiba tangis Nael pecah. Ucapan Laura dan pertanyaan Laura barusan begitu menamparnya.
Seketika itu juga Nael bangkit dari duduknya, kemudian ia menggendong Naura yang sedang menangis. Lalu ia mendudukkan dirinya kembali dan mendudukkan Laura di atas pangkuannya. Kemudian, ia memeluk Laura begitu erat. Hingga tangis kedua ayah dan anak itu pecah
“Maafkan Daddy ... Maafkan Daddy!” Nael memeluk Laura begitu erat, ia menciumi kepala Laura bertubi-tubi, begitupun Laura. Kali ini, ia membalas pelukan sang ayah dan memeluk ayahnya sama eratnya, menyalurkan kerinduan yang selama ini ia pendam.
Mungkin Naura pun mempunyai perasaan yang sama seperti Laura yang merindukan ayahnya, hanya saja rasa sakit telah menutup hatinya
apalagi sifat Naura sama seperti Nael yang keras, berbeda dengan Laura yang gampang memaafkan sama seperti Gabby.
Dan setelah sekian lama menangis, akhirnya akhirnya Nael dan Laura sama-sama bisa mengendalikan diri mereka masing-masing.
Saat tangis Laura sudah mereda, Nael menjauhkan tubuhnya. Hingga pelukan keduanya terlepas, ia menangkup pipi Laura kemudian ia menghapus air mata putrinya.
“Kau udah memaafkan Daddy?” tanya Nael.
“Aku akan memaafkan Daddy, jika Naura juga maafkan Daddy. Jika tidak, Naura pasti akan memusuhiku,” jawab Laura, Nael mencium semua wajah putrinya. Rasanya hari ini ia begitu berbunga-bunga saat Laura sudah luluh kepadanya. Kini, ia hanya tinggal membujuk Naura.
“Bagaimana jika di depan Naura kau berpura-pura membenci Daddy,” kata Nael
Senyuman Laura begitu memikat Nael, hingga rasanya ia ingin mengabadikan senyum putri pertamanya. Tanpa menjawab ucapan sang ayah, Laura kembali merebahkan kepalanya di dada Nael, ia kembali memeluk Nael, melampiaskan kerinduannya.
Saat sang putri memeluknya, Nael memejamkan matanya dengan tangis berlinang. Sungguh, ia benar-benar bahagia saat ini. Sekarang, ia hanya tinggal menaklukan Naura.
“Daddy, timang-timang aku seperti kau menimang-nimang Elsa dulu,” ucap Laura, ia mengingat saat dulu Elsa sedang sakit dan Nael menimbang-nimbang Elsa yang tak lain adalah Putri dari kakak Nael
Dan saat itu, Nael menimbang-nimbang Elsa untuk memanasi kedua putrinya, dan sekarang, saat mendengar permintaan Laura, Nael merasakan hatinya benar-benar sedih. Hingga tangis yang sempat mereda kembali menerjangnya, ia tak bisa membayangkan kedua betapa pedihnya hati kedua putrinya saat itu.
Nael pun bangkit dari duduknya, kemudian Laura langsung merebahkan kepalanya di bahu Nael. Setelah itu, Nael lang langsung mengelus punggung Laura dan menimang-nimang tubuh putrinya.
Hangat dan nyaman, elusan tangan sang ayah membuat Laura sangat nyaman, dan rasa nyaman ini tak pernah ia dapatkan di masa lalu.
Dan satu jam berlalu terdengar nafasLaura mulai teratur, Nael sedkit menjauhkan kepalanya dari kepala sang putri dan ternyata benar Laura sudah tertidur. Ia pun langsung berjalan untuk masuk dan membaringkan Laura di di kamar yang berbeda, ia tidak ingin Laura tidak nyaman tidur di sofa dan setelah membaringkan Laura,Nael pun langsung pergi ke kamar untuk menemani Naura.
Nael meringkuk di sebelah Naura, ia menghela nafas ketika Naura sudah tidak panas lagi. Kantuk mulai menyerang Nael, ia menggengam tangan putrinya kemudian memejamkan matanya dan mulai terlelap.