
“Yoshi!” panggil Arsen, ia menatap tak percaya pada Yoshi yang ada di kantornya. Selama ini, kedua adiknya mendapat kemewahan darinya. Ia bisa habis jika Gabby tahu ia menggunakan dana perusahaan untuk kemewahan dan untuk gaya hidup adik-adiknya.
Mata Arsen semakin membulat, ketika melihat Gabby memegang tab miliknya. Ternyata, Gabby mendapatkan tab itu dari mobil Arsen, karena sebelum pergi ke kantor firma hukum, Gabby kembali ke apartemen Kristine untuk memeriksa mobil Arsen.
Nafas Arsen tercekat, sesak mengisi rongga dadanya, ketika tab tersebut ada di tangan Gabby. Semua data, termasuk rincian uang yang dikirimkan oleh Arsen pada Kristine dan juga pada yang lain-lain ada di tab tersebut.
“Apa dia mengenal Kristine?” tanya Gabby pada Arsen.
“Tidak, Yoshi tidak mengenal kristin, tidak ada yang tahu hubungan kami,” jawab Arsen dengan cepat. Ia berbohong Padahal semua keluarganya sudah tahu tentang Arsen dan Kristen.
Gabby mengangguk-anggukan kepalanya, tanda percaya pada Arsen, membuat Arsen menghela nafas, setidaknya Gabby tidak akan terlalu murka.
“Berlutut!” titah Gabby pada Yoshi. Kelegaan yang Arsen rasakan hanya sebentar, wajahnya kembali pucat, kala Gabby menyuruh sang adik berlutut.
“Gabby, apa-apaan kau!’ kali ini Arsen berusaha untuk memprovokasi Gabby, dengan tak menerima apa yang dilakukan oleh istrinya.
“Kau mau ikut juga berlutut seperti mereka?” tanya Gaby dengan santai, ia memainkan kuku-kukunya, kemudian menatap Arsen dengan tatapan mengejek, membuat harga diri Arsen benar-benar jatuh.
Arsen mengusap wajah kasar, kemudian mencoba menguasai diri, ia tak boleh menampakan kemarahannya agar Gabby tak semakin murak. “Gabby, Ini kantor, tak baik untukmu seperti ini,” jawab Arsen.
“Mungkin akan lebih baik jika ayahku mengetahui semuanya?” tanya Gabby lagi, seketika Arsen terdiam, ketika Gabby membawa nama ayah mertuanya. Ia ingung harus menjawab apa.
“Ka-ka Gabby, kenapa kau begini?” tanya Yoshi. Kali ini, ia mengangkat suaranya.
“Jika kau berbohong, maka kau akan menerima akibatnya, Yoshi kau tidak lupakan, kau berkuliah di yayasan siapa?" tanya Gaby lagi.
“Aku hanya pernah melihatnya beberapa kali,” jawab Yoshi terbata-bata, Gabby mengangguk-anggukan kepalanya, membuat Yoshi sedikit bisa bernafas lega.
“Berlutut!” titah , Gaby lagi saat Yoshi masih mengelak dan tidak mau berlutut. Ia bersumpah akan membuat keluarga suaminya berlutut di hadapannya.
“Kak, kenapa kau seperti ini. Ap ....” Yoshi menghentikan ucapannya, ketika melihat tatapan Gabby yang begitu menusuk, ia melihat ke arah Arsen, Arsen mengangguk, pertanda Yoshi harus mengikuti perintah Gabby.
“Apa ayah Ibu mu tahu tentang kelakuan lelaki ini?” tanya Gabby pada Yoshi, Yosi menunduk ia tak berani mengangkat kepalanya, ternyata melihat gabby marah sungguh menakutkan.
Selama ini, Gaby adalah sosok kakak ipar yang baik, hangat dan penyayang. Tapi sekarang, ia seperti melihat Gaby yang lain, bukan seperti kakak iparnya.
Belum Yoshi menjawab, terdengar suara derap langkah dari luar, seseorang mengetuk pintu. Arsen menggeser tubuhnya, melihat siapa yang mengetuk pintu. Ternyata, yang mengetuk pintu adalah Nael.
Mata Arsen membulat, ketika melihat orang yang dibencinya ada di Firma hukum milik ayah mertuanya. Begitupun Nael, ia sedikit terperanjat saat melihat Nael datang.
Nael datang, untuk menyewa pengacara dari firma hukum tersebut, dan ia sama sekali tidak menduga, bahwa ia akan bertemu Arsen. Ia yang baru saja keluar dari rumah sakit, harus mengurus permasalahan perusahaan dan harus menyewa lawyer terbaik, karena lawyer yang biasa menangani kasusnya sudah resign beberapa bulan lalu..
“Kau mau apa kemari!” tanya Gabby pada Arsen membuat Arsen tersadar.