Dokter Meets CEO

Dokter Meets CEO
Kali ini aman


“Tuan, Raymond!” pekik Ayana saat melihat Raymond, ternyata Raymond lah yang ditabrak oleh Moa.


“Selamat malam Tuan Raymond!” sapa Ayana.. Raymond menjawab ucapan Ayana dengan mengedipkan matanya, Ia yang tadinya akan membeli bir menghentikan langkahnya, ketika tubuhnya ditabrak oleh seseorang, dan ternyata itu adalah Moa.


Raymond melihat ke arah Moa, kemudian ia melihat lagi ke arah Ayana.


“Dia putrimu?” tanya Raymond,.Ayana menggigit bibirnya kemudian mengangguk.


“Moa, Ayo ucapkan maaf pada tuan Raymond!” kata Ayana, Moa menunduk hormat, kemudian menyatukan tangannya. “Maafkan aku Tuan,” kata Moa, Raymond menarik sudut bibirnya ia tersenyum saat melihat kelucuan Moa.


“Kalau begitu saya permisi, Tuan Raymond. Selamat malam.”


“Selamat malam tuan.” tanpa diperintah, gadis kecil itu mengucapkan salam pada Raymond kemudian ia langsung menggenggam tangan sang Ibu dan mereka pun berlalu dari hadapan Raymond, dan memutuskan untuk pulang..


satu minggu kemudian ....


Ayana berjalan ke sana kemari, ia begitu gugup saat Raymond memanggilnya ke dalam ruangan. Entah kenapa, feelingnya mengatakan bahwa Raymon pasti akan memecatnya. Sebenarnya ia sudah tidak asing dengan situasi ini, di mana setelah Jordan mengetahui tempatnya bekerja dan ia akan langsung dipecat dan sekarang Ia pun yakin, ia akan kembali dipecat.


Ayana menghela nafas, kemudian menghmbuskannya. Setelah itu,.ia pun mulai membuka pintu. “Anda memanggil saya tuan?” tanya Raymond Raymond,


Raymond tidak menjawab, ia fokus dengan berkasnya.Hingga Ayana hanya bisa terdiam


“Tuan!” panggil Ayana yang memanggil Raymond.


Saat Ray fokus dengan dengan laptopnya, Raymond menoleh sekilas. “Ah, kau sudah datang rupanya!” ucap Raymond.


“Apa saya akan di pecat, tuan?” tanya Ayana, ia memberanikan diri untuk bertanya pada Raymond, membuat Raymond mengerutkan keningnya.


“Anda memanggil saya bukan untuk memecat saya?” tanya Ayana, Raymond menyandarkan tubuhnya ke belakang, ia menatap Ayana dengan tatapan yang tak bisa diartikan. Hingga Ayana menunduk.


Reymond mengeluarkan sesuatu dari laci. “Pakai ini!” Ayana pun maju, kemudian mata Ayana membulat saat melihat apa yang diberikan Rey padanya, sebuah kartu kredit yang berlimit cukup fantastis.


“Ini ... a-apa, Tuan.!” tanya Ayana.


“Ini semua untuk keperluanku, gunakan kartu ini untuk hal yang berkaitan dengan perusahaan!” Ayana menghela nafas, saat mendengar ucapan Rei, setidaknya akan aneh jika Rey memberi ini untuknya, bahkan Ayana tidak berani untuk membayangkannya, dan untungnya kartu kredit itu hanya untuk keperluan Rey.


“Kalau begitu saya permisi, Tuan.” Ayana mengambil kartu itu.


“Tunggu,” ucap Rey.


“Ya, Tuan. Anda butuh sesuatu?”. tanya Ayana, Rey tampak terdiam.


“Tidak, lupakan! kau boleh keluar!” ayana kembali menganggukan kepalanya, dan ia pun keluar dari ruangan Ray. Saat Ayana keluar, Rey menyandarkan tubuhnya ke belakang, ia tampak sedang memikirkan sesuatu. Namun tak lama, ia kembali menegakkan tubuhnya dan mulai kembali fokus pada laptopnya.


•••


“Apa, dia masih bekerja di perusahaan itu?' tanya Jordan pada Axel sekretarisnya.


Axel mengangguk. “Ya, Tuan. Tuan Raymond mengatakan, anda tidak berhak mengaturnya.”


Jordan mengusap wajah kasar, kali ini ia tidak bisa menekan Raymond. Padahal ia sangat ingin Ayana di pecat dari perusahaan Raymon. Tapi ternyata, Raymond menolak keinginannya.