
Rasa lapar Joanna hilang begitu saja saat mendengar ucapan Jordan yang mengusirnya, ia pikir ia bisa hidup lebih aman. Tapi ternyata tidak, setelah 4 bulan berlalu akhirnya ia harus merasakan lagi ketakutan, ketakutan akan tertangkap oleh sang ibu. Tidak bisa dibayangkan, jika Olivia berhasil menangkapnya.
Saat Joanna terdiam, Jordan menoleh sekilas kemudian ia kembali menyuapkan makanan ke dalam mulutnya, ini berat untuknya. Tapi ia harus membiasakan untuk tidak bergantung pada Joana.
jika ditanya apa Jordan mempunyai perasaan pada Joanna, jawabannya, adalah Iya, dia mempunyai perasaan pada Joana. Seiring berjalannya waktu, seiring perlakuan Joana padanya, rasa itu mulai tumbuh. Apalagi Joana mengurusnya dengan baik, dari mulai mengurus apartemen, menyiapkan makan dan lain-lain
Tapi kemarin-kemarin, Jordan menyadari ia tidak mungkin menyimpan atau menaruh harapan pada Joanna, alasannya Joana adalah anak Olivia, alasan kedua mungkin karena perbedaan umur mereka yang sangat jauh, Joana menginjak 19 tahun, dan Jordan kini menginjak 41 tahun, alasan ketiga, ia tidak mungkin menikahi atau menjalin hubungan dengan remaja, begitulah pikir Jordan.
Hingga pada akhirnya Jordan memutuskan untuk sedikit menjauh dan ia menemukan solusi yang tepat, di mana ia menyiapkan apartemen untuk Joana. Ia tidak ingin terlibat terlalu jauh dengan anak dari mantan kekasihnya, itu sebabnya ia memilih jalan ini, walaupun ia tahu ini berat bagi Joana dan ia juga ingin Joanna tidak terus bergantung padanya.
Jordan menyelesaikan sarapannya, kemudian ia mengambil tisu lalu mengelap mulutnya. Setelah itu, ia menatap Joana. “Kau tidak perlu khawatir Olivia tidak akan menemukanmu, aku akan menyimpan orang-orangku di dekat apartemenmu, mereka juga akan mengikutimu jika kau keluar!” kata Jordan, Ia pun bangkit dari duduknya. Lalu setelah itu, ia merogoh saku kemudian mengambil dompet. Lalu mengeluarkan sesuatu dari dompetnya.
“Ini kartu kredit, kau bisa menggunakannya sesukamu, sopir akan mengantarmu nanti sore dan kau bisa mulai berbenah sekarang!” Setelah mengatakan itu, Jordan pun pergi meninggalkan meja makan dan meninggalkan Joanna begitu saja.
Setelah terdengar pintu tertutup, bahu Joana bergetar, ia menangis tergugu. Entah kenapa rasanya begitu menyakitkan, tapi ia juga tidak bisa menyalahkan Jordan
jika ditanya apa Joanna tertarik pada Jordan jawabannya adalah, ya. Dia menyadari bahwa dia mencintai Jordan, bagaimana tidak .... Selama 4 bulan ini Jordan memperlakukannya dengan baik, Jordan membuatnya aman
Joana pernah membayangkan, bagaimana jika ia menikah dengan Jordan dan berharap Jordan mempunyai perasaan yang sama dengannya, ia berharap ia bisa selamanya aman di samping Jordan. Tapi sayangnya harapan Joanna terputus, karena ucapan Jordan barusan, begitu menampar Joana, hingga Joana tertampar dan terbangun dari mimpinya.
Dengan hati yang remuk redam, Joana bangkit dari duduknya, kemudian ia langsung membereskan makanan. Untuk terakhir kalinya, ia ingin membersihkan apartemen Jordan..
3 jam kemudian, semua apartemen Jordan sudah selesai, Joana sudah membersihkannya, hingga semuanya begitu rapih. Tidak ada lagi kotoran atau tidak ada lagi tempat yang berantakan, Joanna benar-benar membersihkan apartemen Jordan secara sempurna.
Joana mendudukkan diri di sofa, kemudian ia melihat ke sekelilingnya, tangis yang sedari tadi ia tahan akhirnya pecah, kala mengingat ia harus pergi dari apartemen ini. Tapi walau begitu, ia berterima kasih, karena selama 4 bulan ini ia merasakan damai.
Satu jam kemudian
Terdengar suara bel berbunyi, Joanna yang sedang melamun langsung tersadar, kemudian ia bangkit dari duduknya. Lalu membuka pintu.
Joanna tampak terdiam. “Paman bisakah kau menjemput aku nanti saja setelah Paman Jordan pulang, aku ingin berbicara sesuatu dengannya!” kata Joana, supir itu tampak berpikir.
“Baik, saya akan menelpon tuan Jordan terlebih dahulu!” Saat sopir itu akan mengambil ponsel untuk menelpon Jordan, Joana menarik tangan supir tersebut
“Tolong katakan pada Tuan Jordan bahwa kau sudah membawaku, jika tidak, paman Jordan pasti tidak akan pulang ke apartemen ini!” pinta Joana dengan nada memelas, supir itu menatap Joana lekat-lekat, entah kenapa terbesit iba di dalam hatinya, hingga mau tak mau Ia pun mengangguk
“Baik kalau begitu saya akan menunggu di basement!” kata supir tersebut, Joana mengangguk, kemudian ia langsung kembali masuk ke dalam apartemen.
Joanna masuk ke arah dapur, kemudian Ia membuka kulkas. Lalu setelah itu, ia mengambil beberapa sayuran. Sebelum ia pergi, ia berencana memasakan makan malam untuk Jordan.
Jordan keluar dari mobilnya dengan malas, biasanya ia akan semangat ketika ia pulang bekerja, karena ada Joana yang selalu menyambutnya. Tapi karena Joana sudah pergi, Jordan merasa hampa. Tapi ini adalah keputusannya, dan ia yakin ia pasti akan terbiasa tanpa kehadiran Joana
Jordan membuka pintu, kemudian masuk ke dalam apartemennya. Hati Jordan terasa aneh saat melihat apartemennya yang sepi, biasanya akan ada Joanna yang menyambutnya. Tapi sekarang ...
Namun tak lama, Jordan mengerutkan keningnya saat mendengar suara ribut dari arah dalam. Tunggu, bukannya supir mengatakan bahwa ia sudah mengantarkan Joanna. Lalu siapa yang ada di apartemennya!. Dengan cepat, Jordan pun masuk ke dalam, kemudian ia langsung berjalan ke arah dapur.
“Kenapa kau masih di sini?” tanya Jordan, ia merubah nada bicaranya menjadi dingin membuat Joana yang sedang menyiapkan makanan menoleh.
“Sebelum pergi, Aku ingin memaksakan makanan untukmu,.Paman!” balas Joana, membuat Jordan berdecak dan tentu ekspresi Jordan terlihat oleh Joana. Hingga Joana hanya mampu terdiam merasakan hati yang begitu pedih.
“Aku akan pergi sekarang. Aku hanya ingin memaksakan ini untuk terakhir kalinya!” kata Joanna lagi sebelum Jordan mengatakan hal yang menyakitkan.
Joana pun berlari, kemudian ia langsung mengambil tasnya. Lalu setelah itu, ia langsung keluar dari apartemen Jordan meninggalkan Jordan yang diam terpaku.
••••
Scrol gengs