
Suasana begitu hening, Nael dan Gabby sama-sama melihat kearah depan. Sesekali Nael menyeruput teh yang ada di tangannya. Sedangkan Gabby masih terdiam, ia bingung harus memulai pembicaraan apa dengan Nael
“Kau hebat sekali, bisa menaklukan Laura dan Naura ....” Tiba-tiba Gabby berbicara, memecah keheningan yang terjadi di antara mereka..
Nael terkekeh, kemudian menyeruput teh di tangannya. Lalu menoleh kearah Gabby dan tersenyum, senyuman Nael mampu menggetarkan hati Gabby. Hingga jantung Gabby berdetak dua kali lebih cepat, dan Gabby langsung memalingkan tatapannya ke arah depan.
“Aku juga tidak menyangka bisa menaklukkan Naura dan Laura secepat itu,ndan aku pikir aku juga tidak akan susah untuk menaklukkanmu,” kata Nael sambil tertawa membuat Gaby membulatkan matanya.
“Berhenti tertawa!” kata Gabby, bukannya berhenti tawa malah semakin meledek.
“Maaf ... maaf ," ucap Nael saat Gabby menatapnya dengan tatapan tak suka.
“Ini sudah malam, kau pulang saja!” titah Gabby.
“Pulang ke mana? kau dan anak-anak adalah rumahku. Jadi aku harus pulang kemana?” gombal Nael, membuat Gabby memutar bola matanya jengah saat mendengar gombalan Nael.
“Terserah kau saja, kau bisa tidur di kamar tamu. Aku akan tidur di kamarku.” setelah itu pun bangkit dari duduknya, dan saat Gabby bangkit, Nael menarik tangan Gabby lalu sedikit menggeser kursinya. Hngga Gabby terjatuh di atas pangkuannya, membuat Mata Gabby membulat.
“Nael apa yang kulakukan!” Gabby berusaha meronta. Tapi Nael memeluknya dengan sangat erat. “Lima menit saja. Berikan waktu aku 5 menit untuk memelukmu, setelah itu aku akan pulang!” kata Nael membuat Gabby terdiam, ia tidak lagi meronta.
Setelah Gabby terdiam, Gabby menundukkan kepalanya, ia tidak berani melihat mata Nael, karena jujur saja jantungnya benar-benar terasa akan keluar dari rongga dadanya saat ia dalam pelukan Nael.
“Kau!” Hardik Gabby. Seketika Nael kembali tertawa saat melihat wajah Gabby yang memerah
“Aku bercanda ... aku bercanda,” jawab Nael.
“Jadi, Kau bercanda ingin menikahiku?” kata Gabby dengan refleks. Namun tak lama, Gabby menutup mulutnya saat mengungkapkan apa yang ada di dalam hatinya.
“Jadi kau ingin menikah denganku? kapan? dimana?” tanya Nael bertubi-tubi, sekarang seperti Gabby lah yang akan melamar Nael. Gabby benar-benar tak mengerti sejak kapan Nael berubah menjadi pelawak. Padahal,.dulu Nael tidak seperti ini.
Hubungan mereka dulu sangat pasif, mereka hanya bertemu saat mereka saling membutuhkan satu sama lain. Apalagi jika bukan urusan tentang bercinta dan Setelah itu mereka kembali ke kehidupan masing-masing layaknya seperti orang tidak mengenal. Tapi sekarang, Gabby melihat Nael seperti Nael yang lain..
“Ini sudah malam, pulanglah. Aku juga ingin beristirahat!” kata Gabby. Nael semakin mengeratkan pelukannya, kemudian mencium pipi Gabby membuat Gaby membulatkan matanya.
“Aku merindukanmu Gabby!” jika tadi Nael bercanda, kali ini wajahnya terlihat sangat serius. Tidak ada keraguan sedikitpun dalam dirinya, karena memang dia benar-benar merindukan Gabby Dia sangat merindukan Gabby.
Gaby tidak pernah mengangkat panggilannya, Gabby tidak pernah membalas pesannya dan itu membuat rasa rindu Nael semakin menggebu-gebu
Mata Gabby berkaca-kaca saat mendengar Nael merindukannya Entah kenapa tiba-tiba perasaannya mendadak mellow.