Dokter Meets CEO

Dokter Meets CEO
Tak ingin kehilangan kemewahan


Setelah mengatakan itu pada Kristine, Gabby keluar dari apartemen Kristine, hingga kini hanya tinggal menyisakan Arsen dan Kristin.


Kristin masih terdiam di lantai, dunianya seakan menggelap. Nafasnya seakan tak beraturan, udara disekitarnya mendadak menyesakkan. Bahkan, rasanya tubuhnya begitu lemas.


Kejadian barusan memang singkat. Tapi mampu mematahkan kesombongannya Kristine selama setahun ini. Kesombongannya, di pukul telak oleh Gaby Josephine, wanita yang juga istri dari kekasihnya.


Sedangkan Arsen masih terdiam ditempat, sama seperti Kristine. Ini semua seperti mimpi baginya. Tak pernah terpikirkan dalam benak Arsen, bahwa ia akan terpergok oleh Gabby dan sekarang, yang lebih parah, ia harus merangkak sendiri tanpa bantuan istrinya, tanpa koneksi istrinya dan yang lebih mengenaskan semua fasilitas ditahan oleh Gabby.


Arsen mengusap wajah kasar, kemudian berbalik untuk keluar dari apartemen Kristine. Rasanya, ia tidak bisa terus diam begini. Ia harus membujuk Gabby, kemudian meyakinkan Gabby.


Saat Arsen melangkah Kristine tersadar, kemudian ia memeluk kaki Arsen.


“Arsen, jangan tinggalkan aku,” ucap Kristin.


“Aku mohon, tetap di sini, tubuhku sakit, Ar,” Kristine merengek seperti anak kecil, membuat Arsen di susupi rasa jengkel.


Secepat kilat, Arsen langsung menghempaskan tubuh Kristin, hingga pelukan Kristine di kakinya terhempas dan tubuh Kristine terpental kebelakang, membuat Kristine meringis. Apalagi kepalanya terbentur sisi meja.


“Aaaa!” ringis Kristin. Secepat kilat, Ia menegakan tubuhnya, kemudian menatap Arsen dengan tak percaya. Untuk pertama kalinya, ia melihat kekasihnya marah seperti ini kepadanya


Nafas Kristin memburu, jantungnya seperti ditikam oleh ribuan jarum Bagaimana mungkin bisa berkata begitu, saat Kristine sudah menyerahkan semuanya pada Arsen.


Saat Arsen akan melangkahkan kakinya. Dengan cepat, Kristine memeluk kaki arsen kembali. “Tolong Arsen, jangan tinggalkan aku. tolong jangan begini.” Kristin menangis tersedu-sedu, sambil memegang kaki Arsen. Ia sudah kehilangan segalanya, dan ia tidak mau Arsen meninggalkannya. Apalagi, ia begitu mencintai lelaki ini.


“Kristine!” Arsen membentak Krsitine dengan sangat keras, matanya membeliak. Lagi-lagi, ia menghempaskan tubuh Kristin, hingga tubuh Kristine terhuyung kebelakang.


Setelah membentak Kristine, Arsen langsung melangkahkan kakinya, kemudian keluar dari apartemen Kristen, meninggalkan hati Kristen yang patah berkeping-keping.


Kristin menangis tergugu, ia memeluk lututnya kemudian menangis sekencang-kencangnya. ini begitu menyakitkan. Semuanya begitu mendadak, ini benar- benar di luar prediksinya.


Bahkan sekarang, ia sudah jatuh miskin, bahkan sangat miskin. Tidak ada lagi uang, tidak ada lagi fasilitas dan semua barang-barangnya dihancurkan oleh Gabby.


Lalu, sekarang pilihan apa yang Kristin punya. Tidak punya, Kristine tidak punya pilihan apa-apa selain mengikuti apa yang dikatakan Gabby.


Ia tak mau Gabby murka padanya. Penyiksaan ini saja sudah menyakitkan bagi Kristine, lalu Bagaimana jika Gabby semakin murka kepadanya.Tidak, Kristine tidak akan sanggup jika harus menerima amarah Gabby lagi.


Scroll gengs.