
Raymond terus menghajar wajah Jordan secara membabi buta, ia melampiaskan emosinya dengan berapi-api. Saat ia akan turun dari lift, ia teringat sesuatu. Bahwa ia harus memberikan sebuah kartu pada Ayana.
Namun saat ia kembali lagi, ia melihat Jordan dari arah samping dan seketika itu juga, ia langsung menendang Jordan. Hingga sekarang, Ia terus menghajar Jordan secara membabi buta.
Ayana menutup mulut saat melihat apa yang terjadi di depannya. Secepat kilat, Ia pun langsung menarik jas Raymond. “Cukup!” teriak Ayana. Namun, karena emosi yang membara, tanpa sadar, Raymond mendorong tubuh Ayana hingga Ayana hampir terjatuh. Namun, Ayana bisa menahan tubuhnya sendiri hingga tidak terjatuh.
Jordan yang dari tadi tidak bisa melawan karena ganasnya pukulan Raymond, menggerakkan kakinya, kemudian menendang Raymond dari belakang hingga Raymond terhuyung ke depan. Secepat kilat, Jordan pun bangkit, kemudian Ia juga menatap Raymond dengan amarah yang membara.
Raymond dan Jordan sama-sama maju dan berniat saling menghajar satu sama lain. Hingga secepat kilat,.Ayana menengahi keduanya.
“Cukup!” teriak Ayana, ia berdiri antara Jordan dan Raymond.
“Jangan berkelahi di sini, kalian akan mengganggu putriku!” teriak Ayana, seketika Jordan menoleh ke arah Ayana lalu menoleh ke arah Raymond.
“Apa dia ayah dari anak sialan itu!” ucap Jordan dengan emosi yang membara, membuat mata Ayana membulat. Saat Ayana akan menampar Jordan karena Jordan menyebut Moa anak sialann tiba-tiba gerakannya terhenti saat mendengar ucapan Raymond.
“Ya, aku ayah dari Moa. Kau mau apa, Hah!" teriak Raymon membuat Ayana langsung menoleh ia menatap Raymond dengan tatapan tak percaya
Satu tamparan mendarat di pipi Jordan. “Kau boleh menghinaku, tapi jangan pernah menghina putriku!” teriak Ayana dengan nafas yang memburu.
“Mommy!” tiba-tiba terdengar suara Moa dari depan pintu kamar. Ayana, Jordan dan Raymond langsung melihat ke arah Moa.
Hati Ayana berdesir pedih saat melihat mata Moa membasah.. Bagaimana tidak, Ia terbangun dari tidurnya saat mendengar suara teriakan sang ibu. Lalu saat keluar dari kamar, ia melihat dua orang yang sedang berkelahi dan ia juga mendengar tentang Raymond yang berteriak mengatakan bahwa Raymond adalah ayahnya.
di sisi lain, Ia juga mendengar tentang Jordan yang menyebutnya anak sialann. Walaupun masih kecil, tapi Moa mengerti apa arti kata sialann, dan bagi gadis kecil itu, tentu sangat menyakitkan.
Seketika Ayana maju ke arah Moa, kemudian ia menggendong Moa. “Pergi dari sini, kumohon pergi!” ucap Ayana pada Raymond dan Jordan, ia sudah tidak memikirkan apapun lagi, ia juga tanpa sadar mengusir Raymond, padahal Raymond adalah bosnya.
Ia begitu kalut dan begitu kacau. Sekarang, ia bingung. Bagaimana menjelaskan semuanya pada putrinya. Ayana langsung masuk ke dalam kamar, kemudian ia langsung menutup pintu dan menguncinya meninggalkan Jordan dan Raymond..
Seketika Raymond menarik keras jas Jordan kemudian ia langsung mendorong tubuh Jordan hingga Jordan keluar dari apartemen. “Jika kau berani mengusik Ayana lagi, maka kau akan berhadapan denganku!” Seketika itu juga, Raymond menutup pintu apartemen dan memutuskan untuk tinggal di apartemen bersama Ayana, ia ingin menenangkan Moa dan Ayana terlebih dahulu