Dokter Meets CEO

Dokter Meets CEO
Andre mengetahuinya


Gengs maaf baru up, aku lagi ga enak badan kemarin ini satu bab panjang banget ya


Anda mengerutkan keningnya saat melihat kapan terakhir kali Laura mengirim pesan dan itu adalah sebulan yang lalu, dan Andre baru menyadarinya, ia melihat riwayat panggilan telepon, ternyata sama.


Andre tampak berpikir Kenapa Laura tidak mengirimnya pesan dan tidak meneleponnya. Tiba-tiba Andre teringat saat ia melarang Laura untuk mengganggunya, kemudian Andre mengusap wajah kasar, saat menyadari mungkin istrinya terluka. Apalagi ucapan Bela yang melihat Laura menangis diam-diam kembali membuatnya terusik.


Namun saat dipikir, tidak mungkin Laura terluka karena ucapannya, karena selama ini Laura tidak berubah sedikitpun. Laura tetap menjadi Laura yang dulu, sifat Laura masih sama. Jika Laura marah padanya, mungkin Laura akan merajuk dan akan mendiamkannya.


Tapi selama ini, Laura tetap bersikap seperti biasa. Bahkan, ketika ia membentak Laura karena masalah makan bersama Naura, malam harinya Laura sudah memaafkannya dan tetap bersikap seperti biasa. Mungkin Andre akan menanyakan Kenapa Laura menangis saat di gereja pada saat nanti, untuk sekarang ia menyangka bahwa tidak ada masalah dengan istrinya dan istrinya sama sekali tidak terluka dengan ucapannya. Pada akhirnya, ia langsung membuka laptopnya, kemudian menyalakannya. Lalu mulai bekerja.


Waktu menunjukan pukul 7 malam, pekerjaan Andre selesai, ia angsung menutup laptopnya kemudian ia mengistirahatkan tubuhnya sejenak. Ia melihat ponselnya, lagi-lagi tidak ada pesan dari Laura dan telepon dari istrinya.


Sejenak Andre merasa ada yang aneh. Namun jika dipikir, mungkin lebih baik seperti ini agar ia bisa tenang dalam bekerja. Andre pun bangkit dari duduknya, kemudian ia langsung memakai jasnya. Lalu menyambar kunci mobil, setelah itu keluar dari ruangannya.


•••


Mobil yang dikendarai Andre sampai di pekarangan rumah, ia langsung turun Kemudian iya masuk ke dalam rumah. Saat masuk ke dalam rumah, terdengar suara gaduh dari dapur ternyata istrinya sedang memasak.


Saat ia akan menghampiri Laura, Andre mengerutkan keningnya saat melihat Laura tampak melamun, tiba-tiba ucapan Bela kembali melintas di otaknya, ucapan yang mengatakan bahwa Laura diam-diam menangis. Lagi-lagi Andre menepis semuanya, dipikiran Andre selama Laura masih bersikap seperti biasa berarti tidak ada masalah.


Padahal Andre salah, justru Laura sedang mati-matian menguatkan dirinya, mengatasi traumanya dan tetap bersikap baik-baik saja, memikirkan keluarganya terutama anak-anaknya.


“Baby!” panggil Andre yang menyadarkan Laura dari lamunannya, hingga Laura tersadar kemudian mengembangkan senyumnya. Namun tak lama, mata Laura membulat saat melihat makanan yang ia masak ternyata gosong.


“Aaaaa!” Secepat kilat, Laura pun langsung mematikan kompor, kemudian melihat masakan yang ia buat.


“Daddy kau naiklah dan mandi. Aku akan memasak lagi,” jawab Laura.


“Baby, sudah tidak usah memasak lagi, kita makan di luar saja,” ucap Andre. Seperti biasa tubuh Laura bereaksi ketika mendengar kata makan di luar, kemudian ia langsung menutup mulutnya. Lalu berlari ke kamar mandi. Rasanya, ia ingin sekali mengeluarkan isi perutnya


“Sayang kau tidak apa-apa?” tanya Andre Saat menghampiri Laura di kamar mandi.


Laura menegakkan tubuhnya, wajahnya langsung memucat. “Aku ingin beristirahat saja,” Jawab Laura. Dengan cepat, ia melewati tubuh Andre karena ia tidak ingin mendengar lagi Andre mengajaknya makan di luar.


Laura membaringkan tubuhnya di ranjang, ia menyelimuti seluruh tubuhnya dengan selimut kemudian memejamkan matanya. Selain rasa mual, tiba-tiba Laura mendadak lemas. Bahkan rasanya, ia tidak bisa menggerakkan tangannya.


Ternyata, efek dari perlakuan Andre bukan hanya menimbulkan rasa mual saja, Laura juga tiba-tiba merasa tak berdaya ia seperti tidak bisa menggerakkan tubuhnya.


••••


Malam berganti pagi, seperti biasa, sebelum pergi ke kantor, Laura menyiapkan sarapan untuk semua keluarganya, termasuk untuk bekal Andre dan Bella.


”Mommy!” panggil Sean. Laura yang sedang memegang piring menoleh.


“Hmm, apa kau butuh sesuatu? atau kau ingin sesuatu?” tanya Laura pada putranya.


“Aku tidak mau sarapan Jangan panggil aku sarapan, karena aku akan bermain dengan paman Steven!” ucap Sean.


“Oke, tapi sebagai gantinya kau harus makan double nanti siang," jawab Laura, Sean langsung menggangguk, kemudian Ia pun langsung pergi karena di rumah Laura sedang adiknya.


Tak lama Bella dan Andre pun datang ke meja makan, mereka langsung menarik kursi dan mendudukan di kursi, disusul Laura yang juga ikut duduk. Lalu setelah itu, mereka pun memulai sarapan


di tengah-tengah sarapan, Andre menoleh ke arah Laura. “Baby!” panggil Andre.


“Hmm," jawab Laura.


“Nanti malam aku akan pulang terlambat, bukan urusan pekerjaan. Teman-temanku baru datang dari Australia dan mereka mengajakku untuk berkumpul di bar, bolehkah aku pergi?” tanya Andre, Laura menggangguk, membuat Andre mengerutkan keningnya. Biasanya, Laura akan bertanya secara detail dengan siapa Andre bertemu, dan lain lain. Tapi kali ini, Laura mengijinkannya tanpa bertanya.


“Ada apa?” tanya Laura saat Andre menatapnya tanpa berkedip.


“Kau benar-benar mengijinkanku?” tanya Andre. walaupun merasa heran, tapi di satu sisi Andre merasa senang setidaknya ia bisa tenang berkumpul dengan teman-temannya. Tanpa sadar, mungkin suatu saat, dia sendiri yang akan menangisi sikap Laura saat ini.


“Hmm! pergilah!" jawab Laura dengan tersenyum.


•••


Laura sampai di rumah sakit, ia langsung masuk ke dalam, ia tidak pergi ke rumah sakit keluarganya dan malah pergi ke rumah sakit lain karena ia tidak ingin ada yang mengetahui apa yang terjadi dengannya. Beruntung psikiater mempunyai jam kosong hingga Laura bisa langsung datang.


“Halo Nona Laura, saya Silvia silakan duduk!” dokter cantik itu mempersilahkan Laura untuk duduk, dan Laura pun mulai berkonsultasi.


Setelah berkonsultasi, dokter menggunakan metode hypnotherapy, hingga kini Laura sudah berbaring. Beberapa tim dokter datang untuk membantu proses hypnotherapy yang akan di lakukan oleh Laura.


Dan kini, mata Laura sudah terpejam, dokter mulai mengajukan satu demi satu pertanyaan, hingga Laura mengeluarkan semuanya.


Dan Satu jam kemudian, Laura membuka matanya. Sejenak otak Laura kosong, ia merasa wajahnya membasah ternyata Laura bangun dengan berderai air mata. Karena barusan, Laura mencurahkan semuanya, dari mulai hubungannya dengan Andre dimulai, bercerai dan sampai menikah lagi serta masalah kemarin


Dokter uduk di sebelah Laura, kemudian memeluk Laura. ”Anda hebat Nona, bisa bertahan sejauh ini.”


“Dok, apa aku bisa sembuh. Aku tidak ingin seperti ini!” Laura berbicara dengan hati yang remuk redam.


“Saya sarankan untuk Anda pergi mengambil waktu untuk sendiri, nikmati waktu anda. Tidak masalah jika anda tidak ingin berbicara pada suami anda. Tapi Anda harus menenangkan diri.”


•••


Laura melihat jam di dinding waktu menunjukkan pukul 10.30 malam, Andre belum juga pulang. Lihatlah wanita itu, di tengah rasa sakit yang menerpanya karena sifat Andre, Laura tetap khawatir pada Andre. Laura takut terjadi apa-apa pada suaminya.


Namun kali ini berbeda, ia di posisi yang tidak berdaya, tidak bisa bertanya dan hanya pasrah menunggu suaminya. 20 menit kemudian, pintu gerbang terbuka, muncul mobil Andre masuk ke dalam pekarangan.


Setelah Andre tiba, Laura masuk ke dalam, kemudian menutup pintu balkon. Lalu setelah itu menutup tirai dan membaringkan dirinya di ranjang, ia sudah bisa bernafas lega karena Andre sudah pulang.


Malam berganti pagi, Laura melihat wajah Andre lekat-lekat, semalam Andre pulang dalam kondisi mabuk. Ia ingin bertanya apa saja yang Andre lakukan di Bar. Tapi, ia tidak seberani itu.


••••


“Baby, Kau baik-baik saja?” tanya Andre ketika mereka sedang sarapan, ia heran melihat Laura melamun.


Laura mengangguk. “Aku baik-baik saja. Dad, aku dan anak-anak kantor akan melakukan gathering. Kami akan pergi ke pantai, bolehkah aku pergi selama tiga hari, bolehkah aku menitipkan Bella dan Sean padamu." Andre mengerutkan keningnya saat mendengar ucapan Laura


“Kau tidak mengajak kami?” tanya Andre.


“Aku merasa tidak enak, ini acara anak-anak kantor. Aku ingin menghabiskan waktu bersama mereka. Tidak masalah kan?” tanya Laura. Andre tampak berpikir, Laura sudah tidak pernah protes lagi dengan apapun yang ia lakukan dan Andre rasa, waktunya Ia melakukan hal yang sama


“Hmm, pergilah. Aku akan menjaga anak-anak.” Laura menghela nafas lega saat Andre memberinya izin, sebenarnya ia berbohong. Ia sama sekali tidak pergi bersama karyawannya, Laura memilih pergi seorang diri, setidaknya ia ingin mendinginkan waktu walaupun hanya 3 hari.


Keesokan harinya.


Andre merasa tidak tenang. Entah kenapa hatinya mendadak ada yang aneh, semalam Laura sudah pergi dan semenjak kepergian Laura ia merasa ada yang aneh dengan perasaannya. Semacam tidak tenang dan khawatir berlebihan. Padahal Ia tahu Laura pasti akan baik-baik saja.


Andre yang sedang fokus pada laptopnya menghentikan kegiatannya sejenak,kemudian ia menyenderkan tubuhnya ke belakang dan meraih ponselnya.


Tiba-tiba ia merasa gelisah saat Laura tidak mengiriminya pesan atau tidak meneleponnya, ia pun langsung menelepon Laura terlebih dahulu. Namun, Laura tidak mengangkat panggilannya membuat Andre semakin khawatir.


Tak lama, pintu ruangan Andre terbuka, sosok Bastian sepupunya masuk ke dalam ruangannya.


“Apa kau tidak bisa mengetuk pintu dulu, Bas!” protes Andre.


”Andre apa kau membuat ulah lagi pada istrimu?” tanya sebastian, membuat Andre mengerutkan keningnya


“ Apa maksudmu Bastian?”


Bastian mengeluarkan flashdisk dari sakunya, flashdisk itu berisi tentang rekaman saat Laura datang ke psikiater, dan kebetulan psikiater yang menangani Laura kemarin adalah kekasih Bastian.


Saat Silvia yang tak lain kekasih Bastian dan dokter Laura, sedang memisahkan file. Kebetulan Bastian ada di sana, hingga tidak sengaja Bastian melihat Laura dan tanpa sepengetahuan kekasihnya, Bastian menyalin rekaman itu dan ia langsung melihat semuanya dengan seksama Setelah mendengarnya, ia pun langsung pergi ke kantor Andre.


“ Apa maksudmu?” tanya Andre


“Lihat ini!” Bastian melemparkan flash disk hingga Andre pun langsung menangkapnya dan menyambungkannya pada laptop.


Satu jam kemudian, wajah Andre memucat tubuhnya dia mematung.


“Ba-bas, apakah ini benar istriku?’ tanya Andre dengan nafas yang tercekat. Seketika ....