
keesokan harinya
“Kenapa kau menatapku begitu?” tanya Gaby pada Kakak kembarnya. Saat ini Gabriel sedang berada di ruangan Gabby, ia sengaja menemui adiknya untuk bertanya tentang apa yang sedang Gaby lakukan.
Gabriel yang sedang berdiri di depan pintu langsung masuk ke dalam ruangan adiknya kemudian ia mendudukkan dirinya di sofa.
“Kau mau apa kemari?” tanya Gabby, pada sang Kaka.
“Aku ingin bertanya sesuatu padamu?” tanya Gabriel. Gaby yang sedang mengisi resume medis pasien di meja langsung menoleh.
“Aku sibuk! kita bahas saja nanti,” kata Gaby lagi. Sepertinya, ia tahu apa yang akan dibahas oleh Gabriel. hingga Ia memutuskan untuk menghindari sang Kaka sementara waktu
“Gabby kemari. Jika tidak, akan ku adukan semuanya pada Dady.” Mendengar ucapan Gabriel, Gabby, memejamkan matanya, kemudian ia bangkit dari duduknya. Lalu, ia menghampiri Gabriel.
“Ada apa? kau ingin bertanya apa padaku?" tanya Gaby lagi, saat mendudukkan diri di sofa.
“Kau tidak sedang melakukan hal yang aneh-anehkan?” tanya Gabriel, seketika Gabby tertawa.
“Memangnya aku melakukan apa?” Gabby membalikan pertanyaan pada sang kakak. Gabriel mencoba memutar otak, ia tidak akan menang jika terus berdebat dengan Gabby. Ia bangkit dari duduknya, kemudian berpindah duduk di sisi Gabby. Lalu, ia membawa kepala Gaby untuk bersandar ke bahunya.
“Gabby, kau tidak sendiri. Kami ada untukmu, kami akan selalu bersamamu!” kata Gabriel,
“Jika kau tidak mau membagi masalahmu dengan Mommy dan Daddy, tolong bagi sedikit saja penderitaanmu padaku!” kata Gabriel lagi
Gabby, menggigit bibirnya, saat mendengar ucapan Kakak kembarnya. Ia menghirup oksigen sebanyak-banyaknya, Karena rasanya begitu menyesakkan.
“Menangislah, Gabby!” kata Gabriel. Hingga tangis Gabby semakin tumpah. Gabriel membiarkan Gabby untuk menangis di bahunya. Ia terus menggenggam tangan sang adik, memberikan kekuatan kepada Gabby. Gabriel tahu, apa yang dialami Gabby Begitu luar biasa hebat, Gabby tidak gila pun sudah beruntung.
Setelah puas menumpahkan tangisannya akhirnya Gaby menegakkan kepalanya. Ia langsung memalingkan tatapannya ke arah lain, karena ia malu menatap Gabriel.
“Gabriel, bisakah kau pulang saja? aku belum siapa bercerita padamu!” Titah Gabby, pada kembarannya. Namun, Gabriel menggeleng. ia kembali menarik tangan Gabby.
“Gabby, jika tidak sekarang, kau tidak akan pernah bercerita padaku. Ceritakan apa yang kau pendam Aku berjanji, aku akan menutup Mulutku dan membantumu!” kata Gabriel.
Gabby menghirup oksigen sebanyak-banyaknya kemudian ia langsung menatap Gabriel.
”Gabriel Bolehkah aku jujur semuanya?" tanya Gaby dengan berlinang air mata.
“Gabby, Kau boleh bercerita padaku.”
Pada akhirnya, Gabby pun menceritakan semuanya. Tentang hubungannya dan Nael, tentang rencananya balas dendam dan tentang kehamilan Kristine Arsen yang memberi pil KB secara diam-diam pada Gaby, dan ucapan Arsen pada Kristine yang menyuruh Kristine untuk menggugurkan kandungannya.
Rahang Gabriel mengeras, saat mendengar apa yang diucapkan oleh Gabby. ia murka ketika arsen memberikan pil kb diam-diam pada adiknya. Dia lebih murka, ketika Arsen menyuruh Kristin untuk menggugurkan kandungannya, karena itu berkaitan dengan nyawa.
kebencian Gabriel pada Arsen semakin menjadi-jadi, ketika Gabriel mengetahui bahwa Arsen menyuruh Kristine untuk menggugurkan darah dagingnya sendiri. Gabriel paling benci mendengar seorang ayah atau seorang lelaki yang seperti Arsen, yang menyuruh seorang wanita untuk menggurkan kandungannya,
Sebenarnya, Gabriel sangat terkejut dengan apa yang di lakukan oleh Gabby. Ia tidak menyangka, Gabby akan mengambil langkah seperti ini.