
“Nona Gabby!” Panggil Kristine saat Gabby datang ke apartemennya.Ya, Setelah dari pemakaman Gabby langsung datang ke apartemen Kristin.
Ia tidak tahu sekarang bagaimana kabar Arsen yang pasti, yang ia yakini sekarang Arsen ada di tangan ayahnya. Gabby menatap Kristine dengan datar, kemudian tanpa dipersilahkan masuk, Gabby langsung masuk, membuat Kristine mengerutkan keningnya.
Gaby langsung mendudukkan dirinya di sofa, kemudian ia langsung menyilangkan kakinya lalu menyandarkan tubuhnya ke belakang dan berdekap memandang Kristin yang sedang berjalan kearahnya.
“Siapa yang menyuruhmu duduk?” kata Gabby ketika Kristine akan duduk. Kristine tersadar, kemudian ia langsung kembali menegakkan tubuhnya dan menatap Gabby.
“No-Nona, Gabby, aada apa?” tanya Kristine, ia memegang perutnya, karena takut Gabby akan melukai kehamilannya.
“Apakah kandunganmu baik-baik saja?” tanya Gabby, tiba-tiba membuat mata Kristine membulat.
“Aku tidak peduli padamu, aku hanya peduli pada kandunganmu. Apa dia baik-baik saja?” tanya Gabby.
“Apa lelaki brsngsek itu belum menemuimu lagi?” tanya Gabby, seketika itu juga Kristin menggeleng lemah. Gabby merogoh tas, kemudian ia mengeluarkan dompet lalu menarik satu kartu. “Pakai ini! di sini ada uang yang aku bekukan dan aku kembalikan itu padamu.”
Mendengar ucapan Gabby, Kristin mengangkat kepalanya. Ia menatap Gabby dengan mata yang berkaca-kaca.
“No-Nona, Gabby.”
“Aku bukan melakukan itu untukmu, itu semua untuk anakmu. Jika kau tidak membesarkan anak itu dengan baik. Maka kau akan tahu akibatnya, karena aku akan terus selalu memantaumu!” kata Kristine lagi. Gabby langsung bangkit dari duduknya, kemudian ia berjalan ke arah Kristin.
“Ingat, ini untuk anakmu. Jika kau tidak menjaga dia dengan baik, maka kau selesai!” Gabby menekankan setiap kata demi kata yang keluar dari mulutnya. Sebenci-bencinya, Gabby pada Kristine, tapi ia tidak mungkin membiarkan anak yang tak bersalah ikut menanggung dosa kedua orang tuanya. Setelah itu, Gabby pun berbalik ,kemudian ia kembali keluar dari apartemen Kristin, dan memilih pulang ke apartemen Gisel.
Saat Gabby akan memajukan mobilnya, tiba-tiba tubuh Gabby terasa lemas tanpa sebab. Ia langsung menyandarkan tubuhnya, m
kebelakang, kemudian menghirup oksigen sebanyak-banyaknya
Gabby merasa tubuhnya benar-benar tidak bisa digerakkan. Ia duduk dengan kondisi terkulai lemah. Gabby berusaha untuk menggerakkan tangan kakinya. Tapi tidak bisa, tangis Gabby luruh. Ia takut, terjadi apa-apa pada dirinya.
Lamat-lamat, pandangan Gabby mulai mengabur, kepalanya berputar-putar dan sedetik kemudian Gabby tak sadarkan diri.
Semua kesedihan menghantam Gabby, hingga pada akhirnya tubuhnya terlalu terkejut. Gabby di hantam luka, yang bertubi-tubi, dari mulai pengkhianatan Arsen dan keluarganya, dan sekarang dia harus menerima hal yang menyakitkan dari Nael.
Gabby berusaha menanggung luka itu, seorang diri. Tapi luka itu terlalu dasyat untuk Gabby. Hingga tanpa sadar, psikis Gabby mulai lelah, hingga sekarang, berpengaruh pada fisiknya. Luka itu menghantamnya bertubi-tubi, dan inilah puncak dari rasa lelah Gabby.
1 jam kemudian t
“Gabby .... Gabby ...” Tiba-tiba, terdengar suara Gabriel yang mengetuk-ngetuk kaca pintu Gabby.
Tadi, saat Gabriel berada di kantor. merasakan pikiran tidak tenang, wajah sang adik menari-nari di otaknya. Ia langsung mencoba menghubungi Gabby.
Namun Gabby tidak mengangkat panggilannya. Hingga pada akhirnya, rasa khawatirnya semakin menjadi-jadi dan pada akhirnya, Gabriel melacak keberadaan Gabby lewat GPS yang ada di mobil adiknya. Higga Gabriel bisa menyusul Gabby yang ada di basement apartemen Kristin.
Ikatan batin mereka begitu kuat, hingga Gabriel menolong Gaby tepat waktu.