Dokter Meets CEO

Dokter Meets CEO
Merasa tak berarti


Joana menatap ke arah jendela, ia tidak berani menatap ke arah Jordan, mungkin jika ia menatap suaminya sekarang, bulir bening langsung akan terjatuh dari pelupuk matanya dan ia tidak mau menangis di hadapan suaminya.


Saat ini, mereka sedang berada di mobil untuk menuju pulang setelah dari rumah Raymond dan Ayana. Setelah tadi Jordan mengatakan hal yang menyakitkan, di mana Jordan mengatakan bahwa ia masih labil dan masih kanak-kanak.


Setelah itu pula, Jordan mengajaknya untuk pulang, dan Joana pun hanya bisa mengikuti di belakang tubuh Jordan. Bahkan, saat berada di mobil, ia tak berani atau tak ingin menatap wajah suaminya.


Ucapan Jordan mungkin terkesan sepele bagi orang lain, tapi tidak bagi Joana. Selama menikah dengan Jordan. Ia.sudah mencoba untuk mengimbangi Jordan.


Walaupun dia terbilang masih muda, tapi dia tidak pernah bertingkah layaknya seumurannya. Ia tidak pernah merepotkan Jordan, ia tidak pernah manja berlebihan pada suaminya, ia tidak pernah melakukan hal yang membuat Jordan jengkel. Ia selalu melayani Jordan dengan sepenuh hatinya.


Tapi barusan, apa yang dilakukan Jordan benar-benar menyakitinya sampai ke dasar. Ia seperti tertampar. Bukan hanya soal itu saja, rasa sakit Joana juga berkali-kali lupa saat Jordan menganggapnya orang lain.


“Kau pikir kau siapa hah!” ucapan Jordan saat tadi di restoran terngiang-ngiang di otaknya, dan itu yang membuat Joana hancur. Apakah selama mereka menikah, Jordan tidak pernah menganggap ia sebagai istri sampai Jordan berkata begitu, belum lagi Jordan mempermalukannya di hadapan Raymond dan Ayana, seolah dia adalah gadis labil yang tidak bisa berpikir.


Padahal selama ini, selama menikah dengan Jordan. Ia selalu ingin memberikan Jordan yang terbaik, melayani Jordan dengan sepenuh hatinya dan tidak pernah menuntut apapun dari suaminya


Tapi hari ini, detik saat Jordan mempermalukannya detik itu pula Joana sadar, bahwa Jordan tidak benar-benar menginginkannya. Mungkin Jordan tidak mencintainya, Jordan hanya ingin tubuhnya saja.


Jordan fokus mengemudi, sesekali ia melihat ke arah Joana. Ia tahu perasaan macam apa yang dirasakan istrinya, ia tahu, ia bertindak berlebihan dan inilah kelemahan Jordan, ia tidak bisa menahan emosi pada apapun dan pada siapapun.


Ia sengaja tidak berbicara apapun pada Joana karena ia tahu, Joana membutuhkan waktu, ia akan meminta maaf ketika Joana sudah tenang. Setelah melewati perjalanan yang cukup panjang, akhirnya mobil yang dikendarai Jordan sampai di basement apartemen.


Jordan menoleh ke arah samping, ternyata Joana sedang tertidur. Jordan menggenggam tangan Joana. “sayang!” Panggil Jordan, ia menggenggam tangan Joana. Hingga Joana refleks menjauhkan tangannya dari Jordan dan membuka matanya.


“A-aa, sudah sampai rupanya,” ucap Joana dengan bibir yang sedikit bergetar. Entah kenapa, saat ini, saat mendengar suara Jordan. Ia merasa ketakutan bercampur muak.


“Ayo turun!” kata Jordan. Tanpa membalas ucapan Jordan. Joana pun langsung mendahului turun, disusul Jordan di belakangnya.


Saat masuk ke dalam apartemen, Jordanmenarik tangan Joana. Hingga Joana langsung berbalik.


“Kenapa?” tanya Joana. Dia berusaha untuk tetap tegar dan tetap bersikap seperti biasa pada Jordan, walaupun hatinya remuk.


Jika bisa, Ia memang ingin menangis, ia memang ingin memaki suaminya. tapi teringat saat tadi Jordan mengtakan bahwa dia bukan siapa-siapa, bahwa dia masih seperti anak kecil, dan sekarang, walaupun hatinya begitu nyeri. Ia mencoba untuk bersikap dewasa dengan tidak menampilkan amarahnya.


Melihat wajah Joana, Jordan langsung membawa Joana kedalam pelukannya. “Maafkan aku, Sayang. Aku benar-benar panik tadi aku...”


Joana melepaskan pelukannya dari Jordan secara paksa. “Kau tidak usah meminta maaf, aku yang telah meminta maaf karena telah lancang membawa Moa. Aku berjanji, aku tidak akan pernah lagi ikut campur dalam urusanmu. Aku berjanji, aku tidak akan berani lagi untuk melakukan apapun yang kau tidak sukai.” Joana kembali tersenyum. Namun kali ini, terlihat jelas bahwa matanya berkaca-kaca


Mungkin satu kali kedipan saja, air mata akan mengenang membasahi wajah cantiknya. Belum Jordan berbicara, Joanna sudah berbalik dan meninggalkannya. Hingga Jordan menghela nafas, sepertinya ia harus sabar untuk minta maaf pada istrinya dan dia memutuskan untuk membuat Joana tenang terlebih dahulu.


••••


keesokan harinya


Jordan keluar dari kamarnya, ia langsung pergi ke arah dapur di mana ia melihat Joanna sedang memasak sambil melamun.


Sedari malam, istrinya hanya terdiam. Ketika Jordan berusaha untuk mendekati Joana. Joana tidak merespon, hingga pada akhirnya mereka tidur saling menghubungi. Jordan hanya memberikan waktu untuk Joanna, agar Joanna bisa sedikit merasa lebih baik. Sebab jika ia terus mengejar Joana, mungkin istrinya akan merasa risih. Hingga sekarang, pun sudah memiliki ide agar hubungannya dan sang istri membaik


.


“Ekhemmm ....” Jordan berdehem menyadarkan Joana dari lamunannya.


“Ah, kau sudah siap,” ucap Joana. ia berusaha tersenyum. Padahal hatinya begitu pedih.


“Apa sarapan sudah siap?” tanya Jordan. Joana pun mengangguk. Setelah itu, Joanna langsung membawakan masakan yang ia buat ke meja makan, dan setelah itu Jordan menyusul.


Hening ... Tidak ada percakapan di meja makan itu, Joanna fokus dengan makanannya begitupun Jordan.. Hingga pada akhirnya, acara makan pun selesai.


“Kau tidak akan pergi ke restoran?” tanya Jordan. Joana menggeleng.


“Aku ingin beristirahat saja,” ucapnya lagi.


Jordan berdehem, kemudian menatap wajah Joana lekat-lekat. “ku tahu apa yang aku lakukan kemarin benar-benar menyakitimu. Aku minta maaf, aku tidak bermaksud begitu. Aku tahu ini berat bagimu. Jadi ayo kita berpisah sementara waktu sampai kau bisa memaafkan aku,” ucapnya.


Jantung Joanna tiba-tiba berpacu dengan cepat, ia mendadak kesulitan bernafas. Tidak cukuplah Jordan menyakitinya kemarin, dan sekarang suaminya malah kembali mengatakan hal yang sangat menyakitkan. Joana benar-benar merasa dirinya tidak berarti di mata suaminya.


Suaminya malah akan pergi meninggalkannya, hanya dengan alasan tentang masalah kemarin. Sebegitu tidak berhargakah dia di mata suaminya. Ah, ia lupa, di mata suaminya Ia lupa, ia hanya orang asing


“Tidak terserah kau saja, aku akan mengikuti apapun yang kau mau," balas Joana dengan hati yang luar biasa pedih.


“Kau boleh menghubungi aku jika kau sudah merasa baikan, aku akan menginap di hotel untuk sementara waktu.’ Jordan pun bangkit dari duduknya, kemudian ia mengelus rambut lalu mencium kening istrinya dan keluar dari apartemen, meninggalkan Joanna yang hancur berkeping-keping.


Setelah Jordan pergi, tangis yang sedari ia tahan akhirnya pecah. Bahunya bergetar, ia menangis tergugu. Joanna bangkit dari duduknya, kemudian ia pergi ke kamar. Lalu setelah itu, ia melihat ponselnya kemudian melihat foto sang ayah dan mengusap layar ponselnya. “


satu minggu kemudian


Jordan merentangkan tangannya kala pekerjaannya sudah selesai. Ia langsung melihat ponselnya, berharap ada panggilan dari Joanna ataupun pesan dari istrinya.


Selama satu minggu ini mereka hidup terpisah, Jordan tidak pernah memberi kabar pada Joanna. Begitupun Joanna yang tidak pernah menghubunginya, dalam pikir Jordan, ia benar-benar sedang memberikan waktu Joana agar bisa memaafkannya.


Tak lama, tiba-tiba ponsel Jordan berdering. Satu pengingat berbunyi, yang mengingatka jadwal pembelian obat Joanna. Ya, setiap hari Joana diharuskan untuk meminum obat, karena menderita penyakit bipolar, jika Joana tidak meminum obat dan Jika mood Joana sedang hancur. Ada kemungkinan Joana akan mengamuk. Dan inilah saatnya, Jordan mengambil obat istrinya


Ia pun langsung menelepon dokter dan meminta dokter untuk menyiapkan obat tersebut, dan ia akan mengantarkannya ke apartemen.


“Tolong siapkan obat untuk istriku, aku akan mengambilnya sekarang,” ucap Jordan, ketika dokter mengangkat panggilannya.


“Apa!” Jordan terpekik kaget saat dokter mengatakan bahwa Joana pernah meneleponnya meminta untuk tidak kirimkan lagi obat, karena juara sedang mengandung dan itu sukses membuat Jordan terdiam mematung.


Saat Joana mengetahui dia sedang mengandung, Joana begitu bahagia, ia berpikir ia tidak perlu meminum obat lagi, apalagi obat yang di konsumsi Joana tergolong obat keras.


Dan sebenarnya, selain berniat membawa Moa ke hadapan Jordan, sebagai kejutan ia pun juga ingin memberi kejutan lain pada Jordan dengan memberitahukan bahwa dia sedang mengandung. Tapi, sayang ... Sebelum ia memberi kejutan, malah ia sendiri yang terkejut.


“A-apa yang aku lakukan,” ucap Jordan setelah mematikan panggilannya. Penyesalan kembali menubruknya, harusnya dia tidak meninggalkan istrinya dalam keadaan apapun, harusnya dia tetap bertahan dan meyakinkan istrinya.


Tidak, Jordan tidak ingin terjadi apapun pada istrinya, Ia pun dengan segera memakai jasnya kemudian menyambar kunci mobil. Saat ia keluar dari ruangannya ,tiba-tiba ponselnya berdering satu panggilan kembali masuk dan kali ini Raymond yang menelponnya.


“Hallo, Raymond ada apa?” tanya Jordan. Lagi-lagi tubuh Jordan langsung diam mematung saat mendengar ucapan Raymond, ternyata selama 1 minggu berlalu, Moa baru mengatakan bahwa ia yang melarang Joana untuk menelepon Ayana, dengan kata lain Joana tidak bersalah sama sekali .


“Kau pikir kau siapa hah!” Tiba-tiba ucapannya saat itu pada Joana menubruk otaknya.


Dengan cepat, Jordan pun berlari keluar dari ruangannya untuk mengambil mobil di basement dan pergi ke apartemennya, ia berharap Joana ada di sana


Jordan mengendarai mobilnya dengan kecepatan penuh, setiap detik setiap menit mengantarkan Jordan pada rasa takut yang luar biasa hebat. Ia mengingat konsultasinya dengan dokter tentang kondisi Joanna, tentang trauma Joana dan bodohnya dia malah pergin


Setelah melewati perjalana yang cukup panjang, akhirnya Jordan sampai di basement apartemen. Ia pun turun dari mobil kemudian berlari ke arah lift. Setelah turun dari lift, kembali berlari ke apartemennya.


Setelah sampai di apartemennya, Jordan langsung membuka pintu apartemen. Lagi-lagi, Jordan terhenyak kaget saat melihat kondisi apartemennya yang berantakan, piring, gelas makanan-makanan berserakan di lantai. ia pun langsung berlari ke arah dalam mencari-cari Joanna


“Sayang .... sayang!” teriak Jordan dengan wajah yang pucat, tidak ada Joana di manapun. Hingga ia menghentikan langkahnya saat ada suara sesegukan, dan Jordan pun mengikuti arah suara itu, ternyata arah suara itu dari balkon.


hingga Ia pun langsung berlari ke arah balkon.


Mata Jordan membulat saat melihat Joanna sedang meringkuk di sisi, dan ditangannya sedang memegang pisau yang sangat tajam..


“Joana!” teriak Jordan, Ia langsung berlari ke arah Joana. Lalu, ia menarik pisau dari tangan Joana dan membawa Johanna ke dalam pelukannya.


Tangis Jordan luruh saat memeluk istrinya. Kondisi Joanna benar-benar sangat kacau, rambut Johanna acak-acakan, dahi Joana membiru, dan terlihat jelas bahwa Joana seperti orang yang depresi .


Setelah 3 hari Jordan pergi, Joanna masih mencoba untuk menenangkan dirinya, ia masih coba untuk mengendalikan dirinya agar tidak menangis, agar tidak merasa bersedih. Ia berusaha untuk tidak meminum obat lagi, karena dia sedang mengandung.


Tapi setelah tiga hari berlalu, rasanya ia sudah tidak bisa menahannya lagi. Rasa sakit di masa lalu, traumanya, sikap Jordan menghantam otak Joana. Hingga pada akhirnya, Joana kehilangan kontrolnya. Selama 4 hari ini, ia mengamuk, menghancurkan semuanya. Kadang tertawa, kadang menangis.


Ia berusaha melukai diri sendiri, selalu memukul-mukulkan kepalanya pada tembok, berusaha bunuh diri dengan cara meminum racun serangga, dengan menyayat nadinya, tapi setiap ia berniat untuk mengakhiri hidupnya, ia teringat ada nyawa yang hidup di rahimnya.


Jordan memeluk Joana begitu erat, ketakutan menyergapnya. Ia melepaskan pelukannya, dan melihat wajah istrinya.


“Sayang!” panggil Jordan saat Joana memejamkan matanya. Dengan segera, Jordan pun langsung melepaskan pelukannya berniat membawa Joana Ke rumah sakit.


“A-apa ini ....” Wajah Jordan kembali memucat saat ada darah yang mengaliri paha JoanA.


Seketika ....


Gengs 500 komen dulu ye, kalau udah 500 komen, besok up dua kali lebih panjang dari ini