Dokter Meets CEO

Dokter Meets CEO
Tak bisa lari


“Kau tidak pulang?” tanya Kristine saat terbangun. Ternyata, Arsen masih ada di apartemennya. Arsen yang sedang melihat ponselnya menoleh kemudian mengelus rambut Kristine.


“Tidak, sepertinya Gabby belum pulang. Aku tadi menelpon ke rumah, dia belum ada di rumah,” jawab Arsen. Seketika Kristin mengembangkan senyumnya. Ia merasa di atas awan.


“Dia benar-benar bodoh!” Kristine tergelak dengan ucapannya sendiri. Ia terkekeh menertawakan kebodohan Gabby yang diselingkuhi oleh Arsen.


“Baby, tolong buatkan aku makanan. Aku lapar,” ucap Arsen. Kristine pun dengan sigap mengangguk.


“Oke, aku akan membuatkan makanan.” Kristine turun dari ranjang kemudian memakai pakaiannya.


Saat sedang asyik di dapur, Arsen datang kemudian memeluk Kristin dari belakang. Mereka memasak dengan dipenuhi canda tawa. Tiba-tiba, terdengar suara bel berbunyi.


“Baby, tolong buka pintu!” pinta Kristine pada Arsen.


“Apa kau sedang sedang berjanji dengan seseorang.” Tanya Arsen. Namun, kristin menggeleng.


“Tidak, aku hanya sedang memesan sesuatu dari marketplace,” jawab Kristine. Arsen pun mengangguk. Ia berjalan ke arah pintu, kemudian membukanya.


Nafas arsen memburu, jantungnya berdegup dua kali lebih cepat, dunianya seakan berhenti berputar. Ketika melihat Gabby ada di depannya.


“Ga-Gabby ....” ucap Arsen lututnya, melemas wajahnya mendadak pucat. Kala melihat sang istri ada di depannya.


“Jadi kantormu sudah pindah ke sini, Ar?” tanya Gabby. Ia berusaha menegarkan hatinya. Jujur saja, saat ini, lututnya melemas. Bahkan, ia merasa kakinya tak sanggup lagi menopang tubuhnya.


Tapi, ia tak bisa diam saja, ia tak boleh terlihat lemah. Ia harus menunjukkan siapa dirinya kepada dua manusia laknat ini. Tiba-tiba, terdengar suara derap langkah dari arah belakang Arsen, ternyata Kristine yang datang menghampiri Arsen.


Kini, Arsen dan Kristine hanya mampu diam mematung, mereka tak menyangka Gabby akan datang ke apartemen Kristine.


”Kalian luar biasa sekali,” ucap Gabby. Wajahnya terlihat dingin dan tak berperasaan membuat Arsen tertegun. Ini pertama kalinya, ia melihat ekspresi Gabby yang seperti ini.


“Ga-Gabby, aku bisa menjelaskan semua padamu.” Arsen berusaha menarik tanya Gabby. Namun, Gabby menjauh.


Saat Arsen dan Kristin sedang dilanda kepanikan, Gabby maju menerobos masuk ke apartemen Kristin. lalu Kristin dan Arsen saling pandang. Wajah mereka benar-benar sudah memucat, darah seakan berhenti mengalir di tubuh mereka.


Gabby masuk ke dalam apartemen Kristine dengan hati yang hancur dan remuk. Xadanya terasa terasa disayat oleh belati, jantungnya terasa dihantam godam. Ternyata lebih menyakitkan ketika melihat dengan kepalanya sendiri, daripada hanya sebuah foto.


“Jangan menangis, Gabby. Jangan menangis. Kau tak boleh menangis untuk Lelaki bajingan seperti itu!” Gaby membatin dalam hati, sambil menahan perih yang tak berujung.


Gabby mendudukkan diri di sofa, seketika itu juga Arsen langsung berlari ke arah Gabby, kemudian berlutut di kaki Gabby.


“Ga-gabby, maafkan aku. Aku khilaf,” ucap Arsen terbata-bata. Tiba-tiba, pandangan Gabby melihat kearah Kristine yang sedang menunduk.


“Kamarku saja lebih besar daripada apartemenmu. Lalu, kau ingin bermain-main dengan seorang Gaby Josephine, Kristine,” Gabby dengan sadis pada Kristine membuat semakin menundukan kepalanya.


“Kau hanya khilaf?” tanya Gabby pada Arsen. Arsen berusaha menarik tangan Gabby. Namun, Gabby mengangkat tangannya.


“Sekali saja kau menyentuhku, maka semuanya berakhir!” ucap Gabby.


Scroll Gengs.