
Setelah Joana turun, Jordan berniat langsung pergi ke kantornya, karena ia ada meeting sebentar lagi. Namun, saat akan menyalakan mobilnya, Jordan melihat ke arah restoran.
Dari pantulan kaca dia bisa melihat interaksi Joanna dan Hansel. Beruntung Hansel duduk di dekat kaca, hingga Jordan bisa melihat interaksi mereka dari luar.
10 menit berlalu, Jordan mengerutkan rekeningnya saat Hansel bangkit dari duduknya, padahal pertemuan Hansel dengan Joanna terbilang masih singkat. Tapi terlihat Hansel akan meninggalkan Joanna. Dan benar saja, Hansel keluar dari restoran Itu.
Jordan menggeleng seraya mengepalkan tangannya. Tak perlu bertanya lagi, ia sudah menduga apa yang terjadi dalam sana. Saat Hansel memajukan mobilnya, Jordan pun juga ikut memajukan mobilnya. Ia mengikuti mobil Hansel dan saat keadaan jalan begitu sepi, Jordan langsung menyalip mobil Hansel dan menghadang mobil Hansel. Hingga Hansel menghentikan laju mobilnya.
Setelah Hansel menghentikan laju mobilnya, Jordan keluar sambil membawa map coklat dan berjalan ke arah mobil Hansel. “Hansel buka!” Jordan mengetuk jendela hansel. Hingga hansel membuka kaca jendelanya..
“Aku tidak punya waktu berbicara denganmu. Aku harus segera terbang, karena aku harus pergi ke luar negeri!” kata hansel. Baru saja dia akan menutup jendela lagi. Jordan menahan kaca agar tidak naik.
“Kau bisa memakai pesawat pribadiku jika kau terlambat dan sekarang, ijinkan aku berbicara denganmu!” kata Jordan, Hansel menatap Jordan lekat-lekat. Karena tidak ingin ada gangguan di kemudian hari, dan tak ingin Jordan serta Joanna mengganggunya di lain waktu, mau tak mau Hansel pun membuka pintu hingga Jordan pun langsung masuk ke dalam.
“Ada apa?” tanya Hansel saat Jordan duduk di sebelahnya.
“Kita tidak perlu berburu-buru, kau tidak perlu khawatir aku akan memberikan pesawat pribadiku Untuk mengantarmu ke luar negeri!” kata Jordan lagi, Hansel mengangguk-anggukan kepalanya. Kemudian ia menarik ponsel, Lalu setelah itu ia mengutak-atik dan mengabari agar istrinya, tidak menunggu di bandara dan menyuruh istrinya menunggu di hotel, karena ia akan memakai pesawat milik Jordan
“Sebenarnya apa yang ingin kau katakan? kenapa kau ingin berbicara denganku. Jika kau ingin menikah dengan Joanna menikah saja tidak ada yang menghalangimu!” kata Hansel dengan entengnya. Padahal tentu saja impian setiap anak adalah diantar oleh ayah, ketika mereka menikah tapi. Tapi, sepertinya Hansel tidak berniat untuk mengantarkan Joana ke altar.
Jordan membuka map kemudian memberikan isi map itu pada Hansel, membuat Hansel mengerutkan keningnya.
“Apa ini?” tanya Hansel ketika melihat foto rontgen dan foto tubuh yang dipenuhi memar ..
“Kau tahu ini siapa?” tanya Jordan, hingga Hansel menoleh.
“Ini Joanna, putrimu!” kata Jordan. Hansel terdiam saat melihat foto yang di pegangnya. foto yang merupakan foto Joanna yang Jordan ambil ketika Joanna masuk ke dalam sakit. Di mana foto itu adalah foto tubuh Joana yang masih dipenuhi memar
“Kenapa ini!” Hansel menatap Jordan dengan tatapan bingung, ia masih belum mengerti apa yang terjadi
“Kau tahu apa yang terjadi pada putrimu?” tanya Jordan. “Dia mengalami penyiksaan dari Olivia selama setahun ini. Bahkan Olivia menyiksa Joana secara brutal,” ucap Jordan, Ia yang sedang menoleh kedepann melihat ke arah Hansel yang tampak terkejut.
“Apa maksudmu, Olivia tidak mungkin seperti itu!” balas Hansel, Ia memang tahu Olivia tegas pada kedua Putri mereka. Tapi ia tidak pernah tahu bagaimana Olivia memperlakukan Joana dan Monica.
Dan sekarang, ia cukup kaget saat mendengar apa yang diucapkan oleh Jordan, dan apa yang dilihatnya. Setelah melihat foto Joanna. Hansel langsung langsung membuka lembaran demi lembaran yang ada bersama foto itu.
“Apa ini?” tanya Hansel saat melihat riwayat medis milik Joana.
“Joana menderita penyakit bipolar dan penyebabnya adalah kauHansel!” ucap Jordan.
“Kenapa aku?” tanya Hansel dengan bibir yang sedikit bergetar. Ia terlalu shock dengan apa yang diberitahukan oleh Jordan
“Apa kau pernah melakukan kesalahan pada Olivia di masa lalu? sehingga Olivia berubah dan melampiaskan pada kedua putrimu?” tanya Jordan. Hansel terdiam, pikirannya melanglang buana pada masa lalu.
“Benar, kuncinya ada padamu. Hingga Olivia melampiaskannya pada Joana, dan sekarang Joana pun menderita penyakit bipolar. Dan kau tahu bukan, apa yang terjadi pada orang yang menderita penyakit bipolar.” Jordan menjeda sejenak ucapannya, kemudian menatap Hansel yang masih tampak tercengang.
“Sebenarnya aku bisa saja melakukan hal lebih, seperti membangkrutkan perusahaanmu demi Joana ataupun melakukan apapun yang bisa membuat kalian menderita. Tapi aku tidak ingin memakai cara itu. jika kau masih mempunyai hati, tatap kertas itu, bayangkan jika kau ingat saat kau bertemu Olivia, dan bayangkan saat kau menjadi Olivia yang harus menerima rasa sakit akibat ulahmu. Bayangkan kau jadi Joana yang harus menerima siksaan dari Olivia. Hanya itu yang bisa aku katakan!”
Setelah mengatakan Itu, Jordan pun keluar dari mobil Hansel ia memberikan Hansel waktu untuk berpikir. Jordan rasa, akan percuma jika berbuat secara frontal pada Hansel seperti membangkrutkan perusahaan Hansel dan lain-lain.
Ini adalah cara Jordan untuk membuat Hansel sadar, karena Jordan yakin, cara ini lebih efektif untuk menyadarkan Hansel dari keegoisannya.
•••
Joanna memakan makanan di piringnya dengan tangis yang berlinang, ia tidak peduli dengan tatapan orang lain yang menatapnya dengan aneh. Tak perlu di tanyakan lagi bagaimana rasa sakit yang Joana rasakan saat ini
Detik ayahnya pergi, detik itu pula Joana menyadari sesuatu, dan ia sudah bertekad, ini adalah kali terakhirnya dia berharap pada ayahnya. Tidak, Joanna bahkan tidak akan pernah lagi berharap pada Hansel
Kejadian barusan memang singkat, tapi mampu membuat hati Joanna benar-benar terasa pedih dan membuat Joana seperti jatuh ke dalam lubang yang paling dalam. Detik hansel meninggalkannya, detik itu pula Joanna tidak ingin lagi mengakui Hansel sebagai ayahnya.
Kali ini bukan hanya Hansel yang tidak mengakuinya, dia pun akan berlaku sama pada sang ayah, tak akan pernah lagi mengingat Hansel sebagai ayahnya
Lamunan Joana buyar saat mendengar suara kursi bergeser, seseorang mendudukkan diri di sebelah Joana membuat Joana tersenyum.
Siapa lagi kalau bukan Jordan.
“Kenapa paman ada di sini? bukannya paman tadi mengatakan akan pergi ke kantor?” tanya Joana. ia menghapus air matanya lalu ia menatap Jordan.
“Mana ayahmu?” tanya Joanna.
“Ayah? Ayah baru saja pergi!” kata Joana..
Tentu saja Jordan tau Joana berbohong, jelas-jelas barusan dia baru saja menemui Hansel.
“Kau ingin memesan makanan lain lagi? atau kau ....” Jordan menghentikan ucapannya saat melihat Joana menggeleng.
“Tidak paman, aku ingin pulang saja. Bisakah Paman mengantarku ke apartemen!” kata Joanna. Jordan mengangguk, ia mengulurkan tangan pada Joana dan Joanna menerima uluran tangan Jordan, hingga Mereka pun keluar dari restoran.
•••
“Paman, kenapa kau membawaku ke sini?” tanya Joanna saat Jordan membawanya ke kantornya.
“Daripada di apartemen seorang diri, lebih baik kau menemaniku bekerja saja!” kata Jordan. Jordan keluar dari mobil, kemudian ia membukakan pintu untuk Joanna. Lalu setelah itu, Jordan langsung menggenggam tangan Joanna dan masuk ke dalam lobi.
Semua staf membungkuk hormat pada Jordan, kemudian menatap aneh ke arah Jordan dan Joanna yang sedang berjalan sambil berpegangan tangan. Namun, Jordan sama sekali tidak memperdulikan tatapan mereka
Saat berada di dalam lift, Jordan merangkul tubuh Joanna, merapatkan tubuh gadis itu pada tubuhnya. Sedangkan Joanna hanya terdiam, ia membiarkan Jordan melakukan apapun pada tubuhnya.
“Kau bisa istirahat di sofa, aku akan langsung ke ruangan meeting, karena staffku sedang menungguku di sana!” kata Jordan ketika masuk ke dalam ruangan.
Joana mengangguk, seraya menghela nafas lega. Setidaknya jika Jordan pergi, ia bisa menangis. karena jujur saja, sedari tadi ia menahan tangisnya untuk tidak pecah di hadapan Jordan.
Joanna mendudukkan diri di sofa, sedangkan Jordan langsung mengambil laptopnya. Lalu kembali menghampiri Joanna. “Aku tidak akan lama, aku akan menyuruh orang Untuk mengantarkan cemilan ke sini!” ucap Jordan seraya ngelus rambut Joanna.
Ia mengelus bibir juara dengan sensual, membuat Joanna membulatkan matanya. Saat Joana menunduk, Joana langsung terkejut saat melihat ada tonjolan di tengah-tengah kaki Jordan.
“Pak-Paman,” ucap Joanna terbata-bata. Seketika Jordan tersadar. Jordan memejamkan matanya, desiran hebat itu kembali menderanya. Ia menaruh laptopnya, kemudian membuka jasnya
“ Pak-Paman apa yang kau lakukan,” ucap Joanna wajahnya sudah was-was saat menatap Jordan. Tanpa membalas ucapan Joanna, Jordan langsung mendudukkan dirinya di samping Joanna. Kemudian ia menarik tangan Joana.
hingga kini Joanna duduk di atas pakuannya, membuat darah Jordan semakin berdesir.
“Pa-paman, bukan kau ada meeting?” tanya Joana. Ia berusaha bangkit dari pangkuan Jordan. Namun Jordan menahannya.
“Bisakah kau berhenti memanggilku Paman?” kata Jordan lagi.
”Maksudmu?”
Tanpa menjawab ucapan Joanna, Jordan langsung menarik tengkuk Joanna kemudian mencium bibir Joana dengan lembut, menggoda lidah Joana untuk bergerak
Otak Joana kosong seketika, saat Jordan menggodanya dan sekarang tangan Jordan bergerak untuk membuka kancingg kemejanya. Ini benar-benar membuat Joana gila, dan membuatnya terbakar.
Cukup!
Ia tidak ingin lagi mengingat kesedihannya karena sang ayah, dan ia ingin melebur kesedihannya dengan mengikuti apa yang Jordan lakukan. Hingga pada akhirnya, ia pun membalas apapun yang dilakukan oleh Jordan.
Jordan melepaskan tautan bibirnya, kemudian menatap Joana lekat-lekat. “Percaya padaku!” kata Jordan. Joanna mengangguk. Lalu setelah itu, Jordan membaringkan tubuh Joanna.
Baru saja Jordan akan membuka celananya, tiba-tiba Jordan menghentikan gerakannya saat mendengar suara bising dari luar.
Suara orang yang sedang berbincang-bincang dan sepertinya sedang berjalan ke arah ruangannya dan Jordan baru menyadari, bahwa itu adalah suara arsen dan Nael begitupun Joanna, yang juga menyadari suara itu.
Seketika Jordan dan Joana saling tatap.
“Sembunyi di kamar mandi!” kata Jordan. Joana pun langsung bangkit dari berbaringnya, kemudian Ia berlari ke kamar mandi. Sedangkan Jordan langsung menduduki pakaian Joanna, dan merapikan kemejanya. Lalu setelah itu, ia mengambil koran. Dan benar saja, tak lama pintu terbuka muncul sosok Arsen dan Nael.
“Kau sedang apa?” tanya Nael yang masuk ke dalam ruangan Jordan. Hingga Jordan menoleh.
“Kenapa kalian harus datang pagi-pagi sekali ke kantorku, apakah kalian tidak punya pekerjaan?” tanya Jordan, ia menggerutu pada kedua lelaki itu..
“Untuk apa kami bekerja, kami kan sudah kaya!” jawab Arsen, ia mendudukkan diri di sofa. Begitupun dengan Nael yang juga ikut duduk di sofa tunggal.
“Kau sedang apa?” tanya Nael.
“Apa kau tidak lihat aku sedang membaca koran!” jawab Jordan dengan sewot. Entahlah kedua lelaki ini sering sekali mengganggunya .
“Kau hebat sekali bisa membaca koran yang terbalik!” kata Nael tiba-tiba membuat Jordan langsung tersedak. Seketika itu juga, Jordan langsung melipat koran, Kemudian melemparkannya.
“Untuk apa kalian ke sini?” tanya Jordan pada Nael dan Arsen
“Kami ingin memperkenalkanmu pada seseorang. Dia anak tuan Morgan. Sepertinya jika kau mendekti anaknya kita bisa mendapat lahan untuk memperluas sektor bisnis kita, bukankah akan menguntungkan jika kau menjadi menantu Tuan Morgan!” kata Arsen membuat mata Jordan membulat. Sesekali Jordan melihat ke arah kamar mandi, berharap Joana tidak mendengar percakapan ini
“Kenapa kalian menumbalkanku, kalian saja yang menikah dengan anak tuan Morgan!” ucap Jordan dengan sewot.
“Kami sudah menikah dan kau yang lajang, jadi aku rasa, kau saja yang menikah. Kau sudah tua, apa kau tidak ingin punya pasangan?” kata Arsen, dengan seringai meledek.
“Cukup, aku tidak mau jadi tumbal. Lagi pula aku juga sudah memiliki kekasih!” kata Jordan membuat Nael dan Arsen saling tatap. Saat akan membalas ucapan Jordan, Nael terfokuskan pada kain yang sedang diduduki Jordan.
Nael tampak berpikir, kemudian ia langsung merogoh sakunya. Lalu mengambil ponsel, Ia pun langsung menelepon ponsel Jordan agar Jordan bangkit dari duduknya.
Dan tak lama, ponsel Jordan yang barusan Jordan simpan di atas meja berdering, hingga Jordan pun refleks bangkit dari duduknya untuk mengambil ponselnya.
Saat Jordan bangkit, Nael pun ikut bangkit. Lalu setelah itu, ia melihat kain yang diduduki oleh Jordan lalu menguraikannya. Hingga terlihat itu seperti kemeja perempuan.
Saat Jordan melihat siapa yang memanggilnya, Jordan mengerutkan keningnya ternyata Nael yang memanggilnya. Rupanya nail mengerjainya agar ia bangkit dari duduknya.
Seketika Jordan menoleh ke arah Nael yang sedang memperhatikan kemeja Joana yang tadi ia duduki. “Kau sedang bersama seseorang di sini ?” tanya Nael, Jordan langsung berjalan dengan cepat ke arah Nael.
Lalu menarik kemeja itu dan menyembunyikan kemeja Joana di belakang tubuhnya
Dengan ekor matanya, Jordan menyuruh Nael dan arsen untuk keluar dari ruangannya. Beruntung, Nael dan Arsen pun mengerti dengan isyarat Jordan.
“Ayo Arsen kita pergi!” kata Nael membuat Jordan mengehela nafas lega. saat mereka akan pergi, Nael berbalik. “Jordan, apa kau punya pengaman?” tanya Nael sambil tertawa,.membuat Jordan memejamkan matanya.
Satu Minggu kemudian
Olivia mondar-mandir tak karuan, ia begitu gelisah saat anak buahnya belum bisa untuk menyentuh Joanan. kepala Olivia sudah meledak, ketika ia tidak bisa mendapatkan Joanna.
Sedangkan ia sudah didesak oleh Axel dan Ayahnya, agar mengembalikan Joana pada mereka. Jika tidak, perusahaan yang dibangun oleh Olivia akan hancur karena tidak ada sokongan dana.
“Nyonya, ini teh Anda!" tiba-tiba seseorang pelayan masuk membawa teh untuk Olivia, kemudian Olivia pun langsung mengambil teh itu dan menyeruputnya. Kemudian Olivia mendudukkan dirinya di sofa.
Saat Olivia mendudukkan dirinya. Olivia merasakan dadanya tiba-tiba sesak. Ia merasa seluruh tubuhnya tiba-tiba melemas. kepalanya mendadak berputar-putar. Hingga Olivia menjatuhkan teh yang ia pegang ke bawah, dan sedetik kemudian tubuh Olivia pun merosot ke lantai.
Saat tubuhnya sudah ada di lantai, Olivia tidak bisa menggerakkan tubuhnya sama sekali. Matanya, mulai memberat. Namun ia masih berusaha untuk tetap sadar dan berusaha memanggil orang.
Saat ia berusaha mempertahankan kesadarannya. Samar-samar Olivia melihat seseorang masuk ke dalam kamarnya, dan berjalan ke arahnya. Dan tak lama, orang itu berdiri tetap di depan tubuhnya. Hingga Olivia memaksakan untuk mengangkat kepalanya, dan melihat siapa yang datang.
“Jo-Jordan,” ucap Olivia dengan lirih, sedangkan Jordan hanya menyeringai. Ia menekuk kakinya dan berjongkok.
“Sebenarnya tidak ingin melakukan hal sejauh ini padamu Olivia. Tapi aku harus melakukan ini demi keselamatan Joanna. Seandainya kau tidak melakukan hal seperti kemarin, aku tidak akan melakukan hal seperti ini padamu!” kata Jordan, dan lama-lamat, kesadaran Olivia mulai berkurang, hingga akhirnya mata Olivia terpejam.
Ini satu bab panjang banget lho, ga ada yang mau jajanin Otor Boba apa 😔.
Yaudah deh bayar otor pake komen yang banyak aja ye. biar besok up panjang lagi awokawk.