Dokter Meets CEO

Dokter Meets CEO
Berfoto


“Kenapa kalian duduk di sini, di sana masih ada kursi yang kosong,” ucap Nael dengan sinisnya, pada Laura dan Naura.


Saat ini, mereka sudah menaiki kincir angin. Saat masuk, Laura dan Naura langsung mendudukan dirinya, dengan posisi Laura di sisi kiri dan Naura di sisi kanan Nael, tentu saja itu membuat Nael sedikit meradang. Ia langsung menoleh pada Laura dan menatap Laura dengan sedikit bengis. Membuat nyali Laura menciut.


“Daddy satu kali ini saja, bolehkah kami duduk bersamamu. Sekali ini saja!” kata Laura dengan nada memohon, sedangkan Naura memalingkan tatapannya ke arah jendela.


Saat Nael akan berpindah duduk, Laura menggenggam tangan Nael. Hingga Nael menoleh. Saat tangannya bersentuhan dengan tangan sang Putri, jantungnya berdetak dua kali lebih cepat. Ia merasa darah menyentuh titik terdalamnya dan ia tak mengerti kenapa ia bisa merasakan perasaan demikian.


“Bisakah Untuk sekali Ini saja, Daddy duduk bersama kami. Kami berjanji, tidak akan meminta apapun lagi pada Daddy,” ucap Laura dengan bibir bergetar. Ia sungguh takut mendapat penolakan dari Nael. Bahkan, melihat Mata Nael saja rasanya Laura begitu ketakutan.


Tiba-tiba, dada Nael terasa berdenyut nyeri saat melihat ekspresi Laura yang terlihat ketakutan padanya. Ini aneh, padahal Ia tidak pernah seperti ini biasanya. Biasanya, ia akan senang ketika putrinya takut kepadanya, dan menunduk lalu menangis karenanya. Tapi sekarang, ada perasaan tak tega menghampiri Nael.


Namun, Nael menggeleng-gelengkan kepalanya . “Tidak, aku tidak boleh luluh pada kedua anak kecil ini!” Nael berbicara dalam hati seraya menatap malas pada Laura.


Pada akhirnya, Nael menekan egonya. Ia tetap duduk di tempatnya dengan dihimpit Laura dan Naura.


Suara mesin mulai terdengar, kincir angin mulai melaju. Laura dan Naura terdiam. Sedangkan Nael yang berada di tengah-tengah kedua anak kecil itu memilih fokus memainkan ponselnya.


Laura dan Naura tersenyum saat melihat pemandangan dari atas. Walaupun senyum itu dibingkai luka yang teramat dalam. Gadis kecil itu bahkan tidak mampu mendapat hal yang sederhana yang ia bisa dapatkan dari sang ayah.


Saat sudah berada di puncak, Laura mengeluarkan ponsel miliknya. Kemudian, menusuk-nusuk tangan Nael. Seperti tadi, Laura begitu ketakutan. Ia ketakutan saat


Nael sedang memeriksa ponselnya menoleh. tatapan matanya menatap Laura dengan kesal. Sama seperti tadi, nyali Laura menciut saat melihat Nael. Tapi, ia harus memberanikan diri untuk meminta berfoto bersama sang ayah.


Sedangkan Naura tidak berbicara sepatah kata pun, ia lebih memilih untuk melihat ke arah luar.


“Daddy, bolehkah kami meminta foto dengan Daddy, satu kali saja. Kami berjanji, tidak akan meminta lagi apa pun pada Daddy,” ucap Laura dengan bibir sedikit bergetar, membuat Nael menyentak nafas kesal.


“Kenapa kalian banyak mau sekali!” ucap Nael membuat Naura yang sedang memalingkan tatapannya kearah mengigit syalnya semakin kencang, karena sedari tadi, ia memalingkan tatapannya kearah Nael karena tidak ingin sang ayah melihat tangisnya yang sedari tadi sudah berderai.


“Da-Daddy.” Laura hanya mampu memanggil nama Nael. Tubuhnya, bergetar. Ia sungguh takut, melihat wajah Nael.


“Ya, sudah cepat!” ucap Nael dengan kesal. Mendengar ucapan sang ayah, yang setuju untuk berfoto bersama. Naura menghapus air matanya, ia yang sedang melihat ke luar menoleh ke arah Laura, begitupun Laura.


Laura langsung menyalakan kamera lalu mengangkatnya ke atas. Hingga kini mereka bisa berfoto dengan ayahnya. Walaupun Nael tidak tersenyum. Tapi,.ini sudah cukup bagi Laura dan Naura.


Akhirnya kincir angin pun turun. Laura dan Naura turun mendahului Nael, membuat Nael terdiam. Tadi Nael yang meninggalkan mereka dan .sekarang putrinya yang meninggalkannya.


Ga mo tau tinggalin komen setiap bab