
Setelah kepergian Gabby Nael masih terdiam ditempat. Tubuhnya diam mematung, ucapan Gabby membuat dunia berhenti berputar dan jantungnya seperti melompat dari rongga dadanya.
Matanya tak lepas menatap kertas dan hasil USG yang berada di depannya, kertas yang tadi Gabby tinggalkan. Tak pernah terpikirkan di benak Nael, bahwa dia akan memiliki seorang anak dari wanita yang tidak ia cintai.
Semua perasaan menumpuk Nael, tiba-tiba, ia menjadi kesal dan benci pada Gabby. Ia marah pada Gabby, karena Nael menganggap, itu semua karena kesalan Gabby.
Sekalipun Gabby berkata tidak memintan pertanggungn jawabannya. Tapi tetap saja, ada ada rasa yang Gejergejolak,, dan ia sendiri akan mempunyai beban dengan kehadiran anak yang sedang di kandung oleh Gabby. Bersama wanita yang ia cintai saja ia tak ingin mempunyai anak. Apalagi dengan wanita yang tidak ia cintai.
Nael mengusap wajah kasar, kemudian ia bangkit dari duduknya. Lalu mengambil kertas yang ada di depannya dengan geram, setelah itu ia keluar dari kafe.
Ia membuka tempat sampah, meremass kertas itu dan membuang kertas itu. Kemudian, ia langsung berjalan ke arah mobil.
“Ashhhhh!” nael berteriak seraya mengeram kesal, lalu ia memukul stir kemudi. Ia benci pada Gabby dan ia juga benci pada dirinya sendiri. Ia benar-benar marah karena kondisi ini.
Ia masih tak, menyanka, bahwa ia akan memiliki seorang anak. Padahal, jelas-jelas, Ia tidak ingin memiliki anak. Tapi sekarang, Gabby datang dan memberitahu bahwa Gabby sedang mengandung anaknya.
Walaupun Gabby tidak meminta pertanggungjawabannya. Tapi tetap saja, Nael mempunyai beban tersendiri, dan Nael sungguh benci perasaan ini.
Nael, menyalakan mobilnya dan menjalankannya kembali. Ia berencana untuk pergi ke apartemen Jordan.
“Kau kenapa? bukankah kau tadi menemui wanita itu?” tanya Jordan. Nael tak menjawab, ia malah langsung merangsak masuk dan pergi ke dapur untuk mengambil alkohol yang ada di kulkas Jordan.
“Nael, ada apa denganmu? Bukankah kau baru saja menemui wanita itu?” tanya Jordan lagi, Padahal, sebelum bertemu Gabby, Nael terlihat sangat berbunga-bunga. Tapi sekarang, lihatlah Apa yang terjadi, sahabatnya begitu kacau.
“Wanita itu begitu bodoh! Sekarang dia hamil!” kata Nael, bahkan saling kesalnya, Nael menyebut Gabby wanita yang bodoh.
Jordan menatap Nael dengan bingung. Tapi tak lama, ia terdiam saat mengingat bahwa prinsip sahabatnya adalah tidak ingin mempunyai anak dan sekarang, Jordan mengerti kenapa Nael terlihat kacau.
“Kau tidak boleh berkata begitu. Walau bagaimanapun di anakmu. Jika kau tidak bertanggung jawab ya sudah, tidak usah!” seloroh Jordan.
Nael melempar bantal pada Jordan, ia menjerit kesal. “Aku memang tidak akan bertanggung jawab kepada mereka, karena itu bukan salahku. Tapi tetap saja, mereka beban untukku!” Nael berbicara berteriak. “Seandainya saat itu ia tidak memaksa untuk tidak memakai pengaman. Tentu saja, ini tidak akan begini!”
Jordan menggeleng, saat melihat tingkah sahabatnya. Dia pun berlalu masuk dalam kamar dan lebih memilih membiarkan Nael seorang diri.
Nael merasakan kepalanya sudah memberat, ia menghabiskan berbotol-botol alkohol. Tapi tidak bisa melupakan perasaan yang bergejolak. Sungguh, saat ini ia benar-benar mengutuk Gabby. Karena kecerobohan Gabby, akhirnya mereka harus memiliki anak, dan Nael merasa terbebani walau tak berniat bertanggung jawab.
••••
Scroll gengs