
Naura masuk ke dalam mobil, la langsung memukul-mukul setir kemudi, emosi Naura benar-benar terbakar saat mendengar syarat Alvaro.
“Apa-apaan dia!” teriak Naura, ia berteriak sekencang-kencangnya Karena ia benar-benar merasakan marah yang luar bisa. Kenapa ia bisa terjebak dengan pria gila seperti Alvaro.
Tak lama, ponsel Naura berdering satu pesan masuk dari Alvaro, dia pun langsung membukanya. [Naura ingat, jika kau tidak melakukan apa yang aku mau, maka aku akan kirimkan foto ini] Tulis Alvaro dalam pesannya, ia memberi ancaman lagi pada Naura membuat Naura menggeram kesal.
“Terserah," jawab Naura ia kembali melemparkan ponselnya ke belakang, kemudian ia menyalakan mobilnya dan menjalankannya.
•••
Setelah mengirim pesan pada Naura, Alvaro terkekeh senang, Ia menyimpan ponselnya kemudian mengedarkan pandangannya ke depan, ia melihat sekeliling ruangan ini. Ini adalah kamar yang dulu dipakai untuk Ia melakukan hubungan manis dengan Naura. Rasanya, Alvaro tidak akan lupa bagaimana saat itu terjadi dan itu adalah saat bahagia dalam hidupnya
Tak lama, ponsel Alvaro kembali berdering. Satu panggilan masuk dari anak buahnya. “Apa!” teriak Alvaro saat anak buahnya mengatakan bahwa orang Nauder menyabotase senjataa yang akan dikirimkan ke luar negeri.
“Nauder!” teriak Alvaro, ia mencengkram erat ponsel yang sedang ia pegang. “Baik aku akan mengurusnya,” ucap Alvaro pada anak buahnya kemudian lelaki itu mematikan panggilannya
“Nauder, aku bersumpah kau akan menyesal!" Alvaro berucap dengan geram, ia langsung bangkit dari duduknya lalu keluar dari kamar hotel yang ia tempati.
Alvaro berjalan ke arah mobilnya. “Siapkan semua, kita kepung markasnya,” ucap Alvaro ketika anak buahnya mengangkat panggilannya.
Alvaro menjalankan mobilnya dengan kecepatan sedang, ia melihat lewat kaca depan, beberapa mobil hitam mengikuti mobilnya, ternyata anak buahnya sudah mengikuti di belakangnya.
Kali ini, Alvaro tidak bisa menahan emosinya lagi kala Nauder menyabotase hasil pengiriman senjataa yang akan Ia kirim ke luar negeri dan senjataa itu dari pabrik miliknya. Tentu saja pengiriman itu sangat berharga fantastis. Sepertinya Nauder sedang balas dendam padanya.
Alvaro pernah menggagalkan pengiriman barang milik Nauder, ia menggagalkan pengiriman itu karena pengiriman itu karena suatu hal. Dan ternyata sekarang, Nauder membalasnya.
Setelah melewati perjalanan yang cukup panjang, akhirnya mobil Alvaro sampai di depan sebuah rumah mewah yang bernuansa hitam, rumah itu adalah markas Nauder, markas yang sangat jauh dari pemukiman dan di tengah-tengah hutan. Tidak ada yang tahu markas itu, selain orang-orang yang berkecimpung di dunia hitam termasuk Alvaro.
Beberapa kali ia bertarungg dengan Nauder di rumah itu, keduanya sama-sama kalah. Hingga keduanya juga sama-sama mundur dan setelah sekian lama, akhirnya Alvaro kembali lagi ke sini..
“Buka atau aku tabrak pagarnya!” ucap Alvaro ketika ada beberapa orang yang menghadang laju mobilnya untuk masuk kedalam..
“Mau aku tabrak?” tanya Alvaro, lelaki itu menatap penjaga tanpa gentar. Padahal, badan penjaga itu begitu kekar, berkali-kali lipat dari badannya. Tapi Alvaro sama sekali tidak takut.
“Oke, baiklah jika kalian tidak mau mendengarkan perintahku!” Alvaro memajukan mobilnya, berniat menabrak penjaga yang menjaga di depan.
Penjaga itu langsung menyingkir Karena Mereka takut ditabrak. Saat penjaga menyingkir, Alvaro menabrak gerbang. Namun gerbang itu begitu kokoh, Hingga satu kali tabrakan saja gerbang itu tidak terbuka.
Tapi Alvaro yang sudah terlanjur Emosi tidak memperdulikan mobil mewahnya yang rusak. Ia kembali lagi menabrak gerbang itu. Tapi lagi-lagi, gerbang itu masih tak terbuka. Hingga pada akhirnya, Alvaro mengangkat tangannya mengisyaratkan untuk satu mobil maju dan akhirnya dua mobil langsung menabrak gerbang itu hingga gerbang rusak dan terbuka.
Setelah gerbang terbuka, Alvaro beserta mobil-mobil di belakangnya langsung masuk hingga penjaga gerbang langsung menelepon ke arah dalam mengabarkan pada bos mereka bahwa ada yang masuk ke dalam rumah.
Nauder menutup panggilannya, kemudian ia menyeringai saat mendengar Alvaro masuk kedalam markasnya. Ia langsung menoleh ke belakang di mana di sana terdapat beberapa selang yang menjaga agar barang-barang yang ia jual tetap dan bisa dikirim secepatnya ke luar negri.
“Nauder keluar Kau!” teriak Alvaro dari arah bawah.
Nauder yang sedang berada di lantai atas langsung menekan tombol untuk mengamankan barang-barang tersebut agar tetap aman dan tetap berfungsi. Setelah itu, ia menutup pintu dan turun ke bawah
“ Aku tidak menyangka kau akan datang kemari,” ucap Nauder, ia menatap Alvaro dengan seringai mengejek.
“Tutup mulutmu, kembalikan senjataa itu ke dermaga,” ucap Alvaro. Nauder dengan santai duduk di sofa, lalu ia bersedekap dan menatap Alvaro dengan santai.
“Kau pikir aku akan menuruti keinginanmu?” tanya Alvaro
“Apa kau tidak ingat kau dulu juga pernah menyabotase pengirimanku!”
“Itu bukan karena bisnis. Tapi karena ....”
“Oh, comeone, dude. Jangan memikirkan hal lain karena bisnis seperti kita tidak jauh dari apa yang aku lakukan. ”
“Jangan banyak bicara Nauder, suruh anak buahmu untuk mengembalikan barangku. Jika tidak ....”
“Jika tidak ....” Nauder memotong ucapan Alvaro
Tiba-tiba Nauder tertawa. “Silakan saja.” Nauder bersiul, hingga Alvaro melihat ke atas. Beberapa orang berjaga di atas sambil mendongkan senjataa ke arahnya, membuat Alvaro udah kembali menyimpan pistolnyaa.
“ Aku tidak ingin berbasa-basi. Cepat kembalikan itu ke dermaga!”
“Kau harus mengganti rugi atas barang yang saat saat itu kau sabotase. Baru akan aku akan memberikannya," balas Nauder.
“Aku tidak akan pernah memberikan ganti rugi. Jika aku memberikan ganti rugi atas itu, maka aku tidak ada bedanya denganmu.”
“Jika kau berkata begitu. Lalu kenapa kau memaksaku untuk mengembalikan senjataamu ke dermaga?" tanya Nauder. “Jika kau tidak ingin mengganti rugi, beritahu kemana kau mengirim barangku. Maka aku akan melepaskan barangmu.” Nauder tetep kekeh dengan keputusanya.
Kedua kubu itu saling menuntut satu sama lain, tanpa ada yang mau mengalah . Alvaro tidak ingin mengembalikan barang Nauder, dan Nauder tidak mau rugi. Hingga pada akhirnya, Alvaro lebih memilih mundur, karena ia rasa ia percuma meminta baik-baik pada Nauder, ia berpikir untuk mencari di mana Nauder menyembunyikan barangnya.
•••
Naura masuk ke dalam apartemen, ia langsung membanting tubuhnya. Rasanya, Naura tidak bisa berpikir jernih. Bagaimana mungkin setiap minggu ia akan menemani Alvaro makan dan menonton, sedangkan Ia juga tidak bisa beralasan pada Nauder. Terlebih lagi ia tidak mau melakukan itu tapi Naura tidak punya pilihan
.
Tak lama ponsel Naura berdering, ia merogoh saku kemudian mengambil ponselnya
Tak lama, Naura mengembangkan senyumnya ternyata yang meneleponnya adalah Nauder.
“Hallo, sayang. Apa kau sudah di apartemen?” tanya Nauder dengan lemah lembut.
“Hmm, aku sudah di apartemen, kapan kau pulang?”
“Aku masih berada di kantor. Sebentar lagi, aku akan pulang. Kau ingin sesuatu, atau kau ingin menitip sesuatu aku akan membelikannya?” Naura tersenyum sesaat ketika mendengar ucapan Nauder di seberang sana, lelaki ini begitu membuatnya istimewa. Naura mencintai Nauder dan dia tidak akan membiarkan Alvaro menghancurkan rumah tangganya.
“Tidak, aku tidak ingin apa-apa aku akan memasak untuk kita makan malam.” Tak lama Naura mempertajam pendengarannya saat ia mendengar suara yang aneh.
“Apa kau sedang di kantor?” tanya Naura memastikan.
“Hmm, Aku sedang di kantor," jawab Nauder.
“Oh, yasudah kalau begitu." Naura mematikan panggilannya ia mendengar suara yang aneh seperti suara orang yang menjerit. Namun mungkin itu hanya perasaannya saja. Setelah itu, Naura pun memutuskan bangkit kemudian ia langsung berjalan ke arah kamar untuk memakai pakaian dan bersiap untuk memasak.
Nauder keluar dari laboratorium, kemudian ia menghampiri dokter. “Awasi saja semua perkembangannya. Tolong bereskan jika sudah selesai," ucap Nauder pada dokter. Setelah itu, Nauder pun turun dari lantai atas, ia memutuskan untuk pulang.
Saat ia sedang mengendarai di mobilnya, tiba-tiba melihat ke toko bunga. Kemudian ia langsung memikirkan mobilnya dan memutuskan untuk membeli bunga untuk Naura. Apapun yang Nauder kerjakan di luar sana, cintanya pada Naura tidak usah diragukan lagi, dia mencintai Naura lebih dari apapun.
•••
Satu minggu kemudian
Naura berdiri di depan apartemen Alvaro. Sekuat apa pun, ia menghindar pada akhirnya ia tidak bisa mengelak bahwa ia harus tetap menuruti perintah Alvaro hingga di sinilah dia berdada.
Naura berpikir, ia tidak mengkhianati Nauder, semua terjadi bukan karena kesalahannya dan begitupun sekarang, Ia hanya menemani Alvaro makan siang dan menonton selama 1 jam
Naura mengangkat tangannya kemudian mencet bel. Lalu setelah itu, terdengar suara pintu Nauder dan tak lama Alvaro membuka pintu.
“Selamat datang, sayang," ucap Alvaro.
“Tutup mulutmu Jangan pernah memanggil aku sayang dengan mulut kotormu!" kata Naura yang menjawab dengan ketus.
“Oh, kau menakutkan sekali," ledek Alvaro, ia mempersilahkan Naura masuk ke dalam. Saat Naura masuk, tiba-tiba ia menghentikan langkahnya saat ia melihat ke arah ruang tamu, di mana Alvaro memajang fotonya.
Tunggu, sepertinya lelaki ini begitu gila. “ayo sayang kita masuk." Alvaro menarik tangan Naura. hingga Naura menghempaskan tangannya.
“Ke-kenapa fotoku ada di sana tanya?” tanya Naura, ia ingat betul foto itu diambil 6 tahun lalu di mana dia baru saja kembali ke Rusia, lelaki ini benar-benar terobsesi dengannya. “A-apakau seorang psico?” tanya Naura, Alvaro menyeringai....