Dokter Meets CEO

Dokter Meets CEO
Mendekat secara perlahan


Raymond menghela nafas saat melihat Ayana yang tampak ketakutan tiba-tiba hatinya terasa nyeri sat melihat Ayana saat ini. Entah seberapa sakit yang ditahan wanita di depannya ini, sampai rela melakukan apapun demi putrinya. Bahkan rela bekerja di bar


“Ayo, masuk kita berbicara di dalam!” titah Raymond lagi, membuat Ayana yang sedang menunduk langsung mengangkat kepalanya.


“Tolong jangan memasukkan aku ke dalam penjara!” Ayana terus mengulangi kata-katanya, membuat Raymond benar-benar terpukul. Ia merasa lelaki yang paling jahat di muka bumi ini.


“Ayo kita bicara, jika kau tidak menurut aku akan ...” Raymond menghentikan ucapannya, saat Ayana tiba-tiba membuka pintu mobil dengan lebar dan langsung masuk ke dalam mobil, sebelum Raymond menyelesaikan ucapannya. Dipikiran Ayana, ia harus menurut pada Raymond agar Raymond tidak menuntutnya.


Raymond memutari mobil, kemudian ia masuk ke dalam kursi kemudi. Saat duduk, Ayana menarik-narik pakaian ke bawah, berusaha menutupi pahanya. Ia begitu malu pada Raymond karena tampilannya seperti ini.


Raymond yang mengerti apa yang dirasakan Ayana langsung menoleh ke belakang, kemudian ia menggapai jas yang tergantung di bagian belakang. Lalu setelah itu ia menutupi paha Ayaa dengan jasnya, hingga Ayana menghela nafas lega.


“Aku minta maaf,” ucap Raymond tiba-tiba, membuat Ayana langsung menoleh. Rasa takut yang tadi Ayana rasakan berganti dengan rasa bingung, karena tiba-tiba Raymond meminta maaf.


Raymond yang sedang melihat ke depan langsung menoleh ke arah samping hingga matanya bersibobrok dengan Ayana.


“Aku baru mengetahui bahwa komputermu diretas. Aku minta maaf, karena telah menuduhmu dan telah memperlakukanmu dengan buruk,” ucap Raymond, Ayana refleks menutup mulut saat mendengar ucapan Raymond


Bulir bening langsung terjatuh pada dari mata Ayana saat mendengar ucapan Raymond, tentang dia yang tak bersalah. Ia refleks meneteskan air mata Karena rasa lega yang menghinggapinya.


Raymond menoleh lagi ke arah Ayana, jantung Raymond berdetak dua kali lebih cepat saat melihat Ayana saat ini, sedangkan Ayana berusaha untuk menghentikan tangisnya. Ia tidak ingin Raymond menganggapnya berlebihan.


“Jadi apa kau mau memaafkanku?" tanya Raymon. “Kembalilah menjadi sekretarisku Dan aku berjanji aku tidak akan memperlakukanmu lagi dengan buruk, aku akan ....” Raymond menghentikan ucapannya, ia tidak ingin Ayana mengetahui tentang apa yang dia rasakan. Ia akan merebut hati Ayana secara perlahan, karena ia tahu kehidupan Ayana tidak mudah dan tidak mungkin Ayana percaya pada orang lain, termasuk percaya padanya.


“Apa kau mau kembali menjadi sekretarisku?” tanya Raymond lagi saat Ayana tidak menjawab.


Ayana menghapus air matanya, kemudian menggangguk.


“Aku mau,” jawab Ayana tanpa pikir panjang,


membuat hati Raymond begitu pedih, Raymond merasakan hatinya begitu nyeri ketika Ayana langsung menyetujui untuk menjadi sekretarisnya dan Raymond yakin, Ayana begitu tersiksa bekerja di Bar.


Mungkin orang lain berpikir, Ayana tidak punya harga diri, setelah diperlakukan buruk oleh Raymond, tapi mau kembali setuju menjadi sekretaris Raymon. Tapi percayalah, Ayana tidak punya pilihan lain, bekerja di bar selama 2 minggu ini benar-benar bertentangan dengan hati nuraninya.


Banyak tangan-tangan nakal yang selalu ingin menyentuhnya. Namun selama 2 minggu ini, beruntung ia bisa menghindar. Beum lagi, ia melihat bahwa Moa tidak nyaman dengan lingkungan apartemen yang begitu kumuh dan banyak sekali orang mabuk.


Baahkan terkadang, Moa takut untuk keluar dari kamar. Padahal Ayana tahu, Moa selalu ketakutan di dalam kamar tersebut dan ketika Raymond menawarkan kembali untuk menjadi sekretarisnya, Ayana tidak ingin lagi berpikir dua kali, ia langsung menyetujuinya.


Biarlah Raymond menganggapnya tidak mempunyai harga diri, ia juga tak masalah jika Raymond akan kembali mengerjainya lagi, yang terpenting ia bisa membuat Moa hidup nyaman agar Moa tidak tertekan lagi.


“Terima kasih kau telah memaafkanku!” kata Raymond.“Kalau begitu, lebih baik kita pulang sekarang,” ucap Raymond lagi.


“Aku harus menjemput putriku dulu di apartemen,” jawab Ayana. Raymond pun menggangguk.


“Tidak jauh dari sini. Anda tinggal menunggu saja di sini, Tuan. Biar aku yang menjemputnya,” ucapnya lagi.


“Tidak usah, kau tidak mungkin keluar dengan pakaian seperti itu.” Ucap Raymond,.seketika ayahnya tersadar..Ya, tidak mungkin keluar dengan pakaian seperti itu.


“Kalau begitu tunjukkan saja apartemennya biar aku yang masuk dan menjemput putrimu!” Tak punya pilihan lain, akhirnya, Ayana menggangguk kan kepalanya, kemudian menjalankan mobilnya. Walaupun dekat, Raymond lebih memilih untuk pergi memakai mobil ke apartemen.


•••


Moa terus melihat jam di dinding, Ia meringkuk di pojokan lalu melihat ke seluruh ruangan kamar. gadis kecil itu begitu ketakutan. Setiap malam, ia harus menahan rasa takut seorang diri,.karena ibunya bekerja.


Dan sekarang, perutnya lapar..Dia ingin pergi ke dapur untuk mengambil makanan yang telah disiapkan. Tapi jujur saja ia begitu takut.”


tiba-tiba terdengar suara bel, membuat moa yang sedang melamun terperanjat kaget. Secepat kilat, Moa pum berlari dan membuka pintu tersebut berharap itu adalah ibunya.


Saat membuka pintu, Moa mengerutkan keningnya saat melihat seorang lelaki dewasa berdiri di hadapannya, dan tiba-tiba Moa merasa ketakutan, gadis kecil itu pun berniat mundur dan berniat untuk menutup pintu. Sebab, Moa tahu, orang-orang berada di lingkungan ini adalah orang-orang pemabuk dan itu sebabnya saat melihat Raymond, Moa begitu ketakutan.


“Hai!” ucap Raymond, Moa yang baru saja akan mundur dan menutup pintu langsung menghentikan gerakannya saat mendengar suara Raymond.


“Pak- Paman siapa?” tanya Moa.


“Paman teman ibumu!” kata Raymond.


“Mana ibuku?”


“ibumu ada di bawah. Dia menunggumu untuk ke bawah karena kita akan pulang ke rumah.”


Moa, menatap Raymond tanpa berkedip. Ia bingung, bukankah ibunya bekerja.


“Pak-Paman ... Paman tidak bisa membohongiku ibuku sedang bekerja!” ucap Anak kecil itu dengan bibir bergetar.


Raymond merogoh sakunya, kemudian ia mengutak-ngatik ponselnya. Lalu menelepon nomor baru milik Ayana, dan ia pun langsung memberikan ponselnya pada Moa.


“Berbicaralah dengan ibumu!” kata Raymond dan tak lama Ayana pun ngangkat panggilan dari Raymond dan berbicara dengan Moa.


“Sekarang kau percaya kan pada Paman?” tanya Raymond. Moa mengganggu.


“Tak-tapi pakaianku belum dibereskan,”.ucapnya lagi.


“Paman akan mengurusnya nanti, ayo kita pergi!” Raymond mengulurkan tangannya dan Moa langsung menerima uluran tangan Raymond, setelah itu mereka pun turun ke bawah.