
Maafin baru up ya. gas komen biar updatenya rutin lagi
”Sa-sayang.” Andre terhenyak saat melihat reaksi Laura yang serius. Padahal Ia sudah bertekad untuk tidak memakai ponsel dan laptop lagi. Bahkan, ia sudah berniat untuk mengerjakan semua pekerjaannya di rumah..Tapi reaksi Laura sungguh di luar dugaan. Laura sama sekali tidak terpengaruh.
Laura tersenyum getir, ia menormalkan ekspresi wajahnya. “Untuk apa kau melakukan itu?” tanya Laura, walaupun berusaha berbicara seperti biasa. Tapi raut wajah Laura tidak bisa disembunyikan, bahwa masih ada luka yang ia simpan.
“Kau tidak usah berlebihan, Dad. aku tidak perlu menyimpan ponsel dan laptopmu, aku juga tidak butuh.” Laura seperti melemparkan bola panas ke wajahnya Andre, hingga Andre seperti Dejavu
Hati Andre berdenyut nyeri saat mendengar ucapan Laura beginikah sakitnya dulu Laura, saat melarang Laura mengetahui semua tentangnya Jika ia berada di luar.
” Ayo ke kamar, ini sudah malam!” Laura memutuskan untuk mengakhiri pembicaraan, ia tidak ingin memperpanjang pembicaraan mengenai ini dengan Andre. Hati Laura sepertinya sudah mati
Saat Laura bangkit dari duduknya, Andre lalu menarik lagi tangan Laura. Hingga kini, Laura kembali duduk di sofa.Andre rasa inilah waktunya dia berbicara.
Dari kemarin-kemarin, Andre masih masih berpura-pura tidak menyadari tentang perasaan Laura dan pura-pura tidak tahu tentang apa yang Laura rasakan. Tapi. Sepertinya, Andre harus berbicara dari hati ke hati bersama istrinya..
“Ada apa?” tanya Laura.
“Aku tahu aku pasti sangat menyakiti hatimu saat aku melarangmu untuk memegang ponselku menyentuh laptopku serta melarangmu untuk menggangguku ketika aku di luar, itu pasti menyakitkan kan?” tanya Andre, Laura berusaha menegarkan hatinya.
“Tidak, biasa saja,” Jawab Laura. Hati Andre lagi-lagi terasa nyeri saat melihat raut wajah Laura yang dipenuhi luka. Bahkan nada suara istrinya berubah menjadi ketus.
“Baby. Aku sungguh minta maaf. Aku minta maaf karena telah melakukan itu padamu, aku minta maaf karena telah melarangmu untuk menyentuh laptop dan ponselku. Aku minta maaf karena melarangmu untuk menggangguku ketika aku bekerja.”
Laura terkekeh saat mendengar ucapan Andre. “Sudah kubilang. Aku biasa saja, Aku tidak apa-apa,” jawab Laura. Ia bisa saja berkata begitu. Namun wajahnya mengatakan sebaliknya.
“Baby, jika kita tidak bicara sekarang. Ini pasti tidak akan ada akhirnya, aku juga minta maaf karena dulu aku membentakmu kemudian lebih memilih membela Naura!” kali ini ekspresi Laura berubah saat Andre menyebutkan nama Naura. !Namun secepat kilat, Laura menormalkan ekspresinya.
“Aku mohon Baby, maafkan aku..Aku berjanji akan melakukan apapun untuk menembus kesalahanku!”
Laura menghela nafas, kemudian menghembuskannya. “Kau benar, aku memang sakit hati saat kau melarangku menyentuh semua ponsel dan laptopmu. Oke, aku mengerti kita semua butuh privasi. Tapi kata-katamu begitu menyakitkan. Aku ini istrimu bukan musuhmu. Aku tidak ingin terlalu tahu apapun yang kau lakukan di luar. Hanya saja, ada kalanya aku ingin mengetahui apa yang sedang suamiku lakukan. Saat aku melihat kau makan bersama Naura, hatiku benar-benar hancur. Saat itu, aku begitu ingin menghabiskan waktu denganmu walaupun hanya sekedar makan siang. Tapi rasanya aku tidak berani, karena kau selalu berkata sibuk..Tapi kau masih bisa menyempatkan makan bersama Naura. Kau membentakku hanya karena aku meminta waktumu sedangkan kau bisa memberikan waktumu untuk Naura. Siapa istirimu yang sebenarnya.” Laura menghentikan sejenak ucapannya kemudian ia menghapus air matanya yang sudah berlinang.
“Kau selalu membanggakan Naura, karena Naura berhasil membantumu. Tapi kau tidak tahu, akulah yang membantu perusahaanmu, aku meminjam uang dari Seina, aku yang mati-matian menutupi kekurangan perusahaanmu..Tapi kau ....” Laura tidak sanggup lagi meneruskan ucapannya
suaranya tenggelam dengan tangisan
sedangkan Andre langsung menatap Laura dengan tatapan terkejut. “Kau yang membantu perusahaanku?” tanya Andre. Ia menatap kaget pada istrinya, karena selama ini ia hanya mengetahui bahwa bahwa Naura lah yang membantu bisnisnya dengan memperkenalkan ia pada pengusaha asal Cina.
“Hmm, aku yang membantumu. Aku menguras semua tabunganku, aku meminjam uang dari Seina hingga aku harus mengambil proyek dan bekerja dengan keras untuk mengembalikan uang Seina. Kau pikir aku tidak sakit ketika kau terus memuji Naura di hadapanku?”
“Sayang!” kali ini bulir bening langsung terjatuh dari kerupuk mata Andre Kenapa ia Begitu bodoh.
“Aku mempunyai trauma yang luar biasa saat kecil, tidak pernah ada yang membentakku seperti kau. Apalagi kau membentakku untuk membela Naura. Lalu kau masih berharap aku masih bersikap seperti biasa?” tanya Laura.
“Aku memang masih bersikap biasa. Karena Aku berusaha berdamai dengan diriku sendiri, karena aku melihat anak-anak. Jika kau meminta aku memaafkanmu. Ya, aku memaafkanmu. Tapi aku tidak bisa melupakannya. Jadi jangan bahas ini lagi. Ini juga sudah berlalu, kau tidak perlu memberikan ponselmu padaku, aku juga tidak peduli dengan apapun yang kau lakukan. Kau pulang saja dan berkumpul bersama kami itu sudah cukup.”
Setelah mengatakan semua keluh kesahnya, Laura memilih untuk pergi ke kamar, dan Andre kembali menarik tangan Laura, ia langsung memeluk Laura dengan tangis yang sesegukan
Terbayang bagaimana sakitnya Laura karena perlakuannya.
1 tahun kemudian
Tidak terasa Ini sudah tahun berlalu. Semenjak pembicaraan malam itu, Laura tidak membahas apapun lagi dengan Andre, Ia tetap bersikap biasa. Tidak ada yang berubah. Tapi satu yang tetap sama, Laura tetap tidak pernah lagi memperhatikan Andre, tidak pernah lagi bertanya dan tidak mau lagi tahu urusan Andre di luar. Laura tetap konsisten dan ucapannya. Selama Andre pulang, maka semuanya sudah cukup.
Sedangkan Andre, selama setahun ini Andre juga tidak berubah, ia terus membuktikan dan memperlakukan Laura sebaik mungkin, walaupun Laura seperti membangun pembatas nyata dengannya.
Namun, ada yang berbeda dengan kondisi Andre
satu bulan ini Andre merasakan ada yang aneh dengan tubuhnya. Terkadang, ia merasa tiba-tiba jantungnya berdebar tak karuan, bahkan kadang ia merasa sesak. Namun ia berusaha baik-baik saja dan tidak memberitahukan kondisinya pada Laura.
Andre melihat jam di pergelangan tangannya Ini sudah waktunya ia pulang kantor. Sebenarnya ia ingin beristirahat lebih lama lagi di kantor. karena ia takut Laura curiga. Tapi Mau tak mau, ia harus pulang walaupun Laura tidak akan bertanya. Tapi tetap saja, Andre tidak mau membuat Laura curiga.
Andre pun bangkit dari duduknya, kemudian ia langsung memakai jasnya. Lalu menyambar kunci mobil dan keluar dari ruangannya
•••
Andre turun dari mobil ia menormalkan ekspresinya, bahkan sekarang tubuh Andre pun rasanya terasa lemas. Saat ia masuk, tidak ada siapapun, Ia pun langsung berjalan ke arah lift untuk pergi ke kamarnya.
Lagi-lagi di kamarnya tidak ada siapapun membuat Andre menghela nafas lega. mungkin Laura masih berada di kantor. Andre merasa tenang jika Laura tidak ada, setidaknya Laura tidak harus melihatnya kesakitan.
•••
Laura menutup laptopnya, kemudian ia langsung menyandarkan tubuhnya ke belakang. pekerjaannya sudah selesai, ia melihat jam di pergelangan tangannya, ternyata waktu menunjukkan pukul 07.00 malam, ia terpaksa mengambil lembur untuk membereskan pekerjaannya.
Tak lama, ia mengambil ponsel. Satu pesan masuk dari Andre.
[Baby, Apa kau ingin aku menjemputmu?] tanya Andre, pesan itu dikirim pukul 05.00 sore. Biasanya jika Laura tidak menjawab, Andre akan terus mengirimnya pesan. Tapi sekarang, Andre hanya mengirimnya pesan satu kali.
Laura langsung menelpon rumah, hingga pelayan yang mengangkatnya. “Oh, baiklah. terima kasih!" Laura mengerutkan keningnya saat mendengar ucapan pelayan yang mengatakan bahwa Andre sudah pulang.
Biasanya Andre akan menelpon Laura berkali-kali sampai Laura menjawab untuk sekedar menawarkan ingin dijemput atau tidak. Tapi sekarang Andre hanya mengirimnya pesan satu kali.
“Mungkin dia lelah,” ucap Laura. Laura pun bangkit dari duduknya, kemudian ia merapikan mejanya Lalu setelah itu menyambar tas dan keluar dari ruangannya.
••••
Laura masuk ke dalam kamar, ia mengerutkan keningnya saat Andre sedang terbaring di ranjang. Melihat Andre terbaring di ranjang hati Laura sedikit tergugah. Entah kenapa ia merasa ada yang aneh
Dengan cepat, ia meletakkan tasnya kemudian Ia pun langsung berjalan ke arah ranjang. Lalu mendudukkan dirinya di sebelah Andre.
Laura menggerakkan tangannya, untuk mengelus rambut Andre dan tanpa sengaja, tangan Laura mengelus kening suaminya. Lauraa merasakan kening Andre panas, hingga Laura langsung meraba semua wajah Andre, membuat Andre terbangun.
“Sayang!” panggil Andre dengan suara yang lemas.
“Daddy tubuhmu panas,” ucap Laura, sedangkan area hanya tersenyum, ia menggenggam tangan Laura
“Tidak apa-apa mungkin aku hanya demam. Maaf aku tidak sempat menjemputmu.” Andre berucap dengan pelan, rasanya tubuh Andre benar-benar begitu melemas, dan seperti tidak bertenaga.
“Daddy bangun kau harus minum obat demam!” ucap Laura.
“ Tidak sayang. Aku tidak akan meminum obat apapun. Jantungku terasa berdebar terasa ngilu jadi aku harus meminum obat dokter!”
Mata Laura membulat saat mendengar ucapan Andre yang mengatakan tentang jantungnya yang terasa ngilu. “Jantungmu ngilu,” ulang Laura.
Laura menarik selimut Andre, kemudian ia mengambil bantal agar Andre berbaring dengan sedikit tinggi. Saat melihat Laura seperti ini, Andre tersenyum. Sudah lama sama sekali, ia tidak melihat Laura sepanik ini karena kondisinya.
••••
Laura menggenggam tangan Andre, ia menatap wajah Andre yang sedang terpejam. Rasanya Laura ingin sekali menangis saat mendengar ucapan dokter tentang kondisi Andre.
Ya, saat ini Andre sedang dirawat di rumah sakit untuk mengoptimalkan jantungnya. Tadi malam, setelah Laura mengetahui bahwa Andre merasakan sakit di jantungnya. Tanpa pikir panjang, Laura memanggil ambulans, ia langsung membawa suaminya ke rumah sakit.
Walaupun awalnya Andre menolak..Tapi pada akhirnya, Andre mau dibawa ke rumah sakit dan rupanya Andre harus dirawat. Saat melihat wajah Andre terpejam. Tiba-tiba Laura menyesali semuanya.
“Apakah aku terlalu tega sampai aku tidak tahu kondisi suamiku!” lirih Laura.
Saat Laura melamun, Andre yang sedang memejamkan matanya mengintip. Diam-diam menggulung senyum. Sebenarnya kondisi Andre Masih normal, ia hanya sedikit kelelahan saja. Ia sengaja meminta dokternya berbohong agar mengatakan pada Laura bahwa kondisinya parah. Andre melakukan ini agar Laura bisa kembali perhatian lagi padanya.