Dokter Meets CEO

Dokter Meets CEO
Akhirnya jujur


Setelah Alvaro membawa Naura pergi, Nauder mengalihkan tatapannya pada sang Ibu, dia menatap Helmia dengan tatapan membunuhh, dia tidak akan rela Naura disakiti oleh siapapun termasuk ibunya, sekalipun mereka sudah bercerai, karena bagi Nauder, Naura masih di atas segalanya.


Nauder maju ke arah sang ibu, selangkah Nauder maju, selangkah pula Helmia mundur, hingga wanita paruh baya itu menyentuh tembok membuat Nauder menyeringai. Sedangkan tubuh Helmia bergetar, wanita parubaya itu bener-benar tidak bisa mundur lagi.


Saat dekat dengan sang Ibu, Nauder mengangkat tangannya, kemudian lelaki itu langsung mencengkramm leher sang Ibu membuat Helmia kesulitan untuk bernafas.


“Na-nauder. ” Helmia, berbicara dengan tercekat dia memukul-mukul tangan Nauder, berharap Sang putra melepaskan tangan dari lehernya. Tapi sepertinya, Naura tidak berencana melepaskan ibunya dengan mudah.


“Selama ini, aku menghormatimu karena kau yang mengurusku dari kecil, dan kau memberikan kasih sayang padaku. Selama ini, aku patuh karena aku masih mencoba menghargaimu. Namun ketika kau menyentuh Naura, aku tidak akan pernah lagi peduli padamu dan ingat posisimu hanya ibu tiriku, jadi jangan pernah mencoba mengaturku dengan mengorbankan nyawa orang lain. Jika kau melakukan ini lagi pada Naura, kau akan tahu akibatnya!”


Faktanya Helmia bukan ibu kandung Nauder, Helmia menikah dengan ayahnya ketika usianya Nauder berumur 3 tahun. Kehidupan Nauder kecil begitu bahagia, dengan keluarga yang penuh cinta, apalagi Helmia mendidiknya dengan lembut dan penuh kasih sayang.


Dan ketika Nauder berusia 17 tahun, sang ayah meninggal. Dan Helmia pun langsung membuka rahasia pada Nauder, bahwa ibu kandung Nauder pergi meninggalkan Nauder saat masih bayi, itu sebabnya rasa sayang Nauder semakin bertambah Pada Helmia. Padahal Helmia berbohong, ada rahasia lain yang ia simpan, rahasia tentang kepergian ibu kandung Nauder.


Nauder melepaskan cengkramannya dari leher sang Ibuu, hingga Helmia terbatuk-batuk, wanita paru baya itu langsung menghirup oksigen sebanyak-banyinya. “Ingat, jika kau menyentuh Naura lagi, maka aku akan menghancurkan bisnismu.” Setelah mengatakan itu, Nauder pun langsung berbalik.


Nauder keluar dari gudang, dia melihat ke sana kemari ternyata mobil Alvaro sudah pergi, dia pun berjalan ke arah mobilnya. Setelah berada di mobil, lelaki itu langsung menyandarkan tubuhnya ke belakang teringat saat tadi ia melihat Naura yang terikat dengan kepala yang bersimbah darah.


Rasanya, Nauder Ingin menyusul Naura ke rumah sakit dan memeluk wanita itu, tapi Naura tidak seberani itu untuk melakukannya. Tak lama, ponselnya udah berdering satu panggilan masuk ke dalam ponselnya.


“Tuan, kau di mana kau!” Nauder menjauhkan ponsel dari telinganya, karena Elsa berteriak di seberang sana, di tengah rasa sedihnya Nauder ingin sekali tertawa saat mendengar teriakan Elsa.


Sebab tadi pagi dia menyimpan segudang pekerjaan di meja sekretarisnya, dan ia tahu sekretarisnya akan mengomel.


“Apa,” jawab Nauder.


“Cepat ACC surat pengunduran diriku. Aku tidak mau lagi bekerja denganmu.”


“Bereskan dulu pekerjaanmu, nanti aku akan menyetujui Keputusan pengunduran dirimu._


“Baik awas aja jika kau berbohong, aku bocorkan data perusahaanmu pada perusahaan lain jika kau tak menepati ucapanmu.”


Setelah Elsa mematikan panggilannya, Nauder tertawa. Tentu saja dia berbohong, mana mungkin dia mau kehilangan sekretaris cekatan seperti Elsa,. dia lebih suka melihat Elsa mengomel daripada Elsa keluar dari perusahaannya.


Setelah panggilan dimatikan, Elsa langsung menyimpan ponselnya kemudian ia menyandarkan tubuhnya ke belakang, wanita itu menatap berkas yang ada di depannya. Tubuhnya sudah sangat lelah, karena semalam dia juga bekerja di cafe.


Elsa terpaksa melakukan beberapa pekerjaan sekaligus untuk melunasi hutang yang ditinggalkan ayahnya, hingga dia terpaksa bekerja di beberapa tempat dan tidak memperdulikan kesehatannya.


Sebenarnya gaji yang diberikan Nauder cukup besar hanya saja tanggungan perbulannya juga sama besarnya itu sebabnya dia berusaha mencari lebih untuk dia bertahan hidup dan untuk mengirim ibunya.


Hidup Elsa sudah pelik sedari kecil, dan itu sebabnya Elsa begitu berani ketika ada orang yang sewengan-wenang padanya.


***


“Hah, racun serangga?”


di tengah rasa sakit yang ia rasakan, Naura merasa bingung dengan apa yang diucapkan oleh Alvaro. Apa maksudnya, kenapa Alvaro malah berkata tentang racun serangga.


Alvaro tersadar, dia memutar otak tidak mungkin kan dia mengatakan yang sebenarnya. “Tidak, maksudku bukan begitu, aku hanya ....” Alvaro menjeda sejenak ucapannya, kemudian dia menarik kursi. Dia mendudukkan diri sebelah brangkar, dan menggerakkan tangannya untuk menggenggam tangan Naura.


Lalu setelah itu lelaki itu mengecup punggung tangan wanita yang ia cintai dengan berlinang air mata. “Alvaro Kenapa kau menangis?” tanya Naura.


“Seandainya aku tidak sibuk dengan pekerjaanku, kau tidak akan seperti ini.” Alvaro berusaha untuk menegarkan dirinya sedangkan Naura mengalihkan tatapannya ke arah lain.


Saat melihat Alvaro seperti ini, ia mendadak melepaskan tangannya dari Alvaro. “Alvaro pergilah jangan membuatku berharap, aku tidak mau jahat pada wanita lain. Walau bagaimanapun kau sudah milik Nella.”


Tidak ada pembicaraan lagi di antara Naura dan Alvaro. Alvaro ragu-ragu bertanya, haruskah dia bertanya sekarang atau dia menundanya. Tapi setelah berpikir cukup lama, akhirnya Alvaro memutuskan untuk bertanya.


“ Naura Apa kau mencintaiku?” tanya Alvaro, dia memejamkan matanya karena takut mendengar jawaban Naura. Sedangkan Naura menggigit bibirnya, berusaha untuk tidak menangis. Pertanyaan Alvaro memang sederhana. Namun Naura tidak mampu menjawabnya.


“Kau pikir Aku akan menjawab pertanyaanmu.’


“Ternyata bertahun-tahun mencintaimu tidak membuatmu luluh Naura.” Alvaro berucap lirih.


Mendengar ucapan Alvaro, Naura menoleh. “Maksudmu?”


“Tiidak lupakan saja,” Jawab Alvaro. “Sebentar aku akan menelpon seseorang.” Saat Alvaro akan bangkit, Naura menarik tangan Alvaro.


“Jelaskan dulu apa yang kau maksud!" pinta Naura.


“Aku tidak bermaksud apapun," jawab Alvaro.


“Alvaro jika kau tidak mau menjelaskannya aku tidak mau berbicara lagi denganmu," ucap Naura, wanita itu seolah merupakan rasa sakit di kepalanya.


“Tidak ada aku tidak mengatakan apapun."


“Ya sudah pergi sana!” Naura menghempaskan tangan Alvaro, membuat Alvaro menghela napas, kenapa wanita susah sekali dimengerti. Alvaro mendudukkan dirinya kembali di kursi.


“Aku masih mencintaimu Naura,.


baik dulu maupun sekarang!” otak Naura kosong saat mendengar ucapan Alvaro


“La-lalu Nella?”


“Dia bukan istriku, dia kakak sepupuku.”


mata Naura terbelalak saat mendengar ucapan Alvaro, sia-sia dia merasa sedih. Seketika Naura langsung mengambil bantal, kemudian ia melemparkan pria pada wajah Alvaro.


“Kau keterlaluan, Kenapa kau berbohong!” teriak Naura, antara sedih marah dan senang semua berkecamuk dalam dada wanita itu.


Alvaro menatap Naura dengan tatapan tak percaya. “Tunggu Kenapa kau semarah ini?” tanya Alvaro.


Naura ....