
Dua hari kemudian
Laura turun dari pesawat, ia menggeret koper kecil. akhirnya ia tiba lagi di landasan pacu milik kakak sepupunya, ini sudah 3 hari berlalu, dan akhirnya liburannya selesai, ia harus kembali ke aktivitasnya menjadi wanita karir dan ibu rumah tangga.
Laura melihat ke sekelilingnya, lalu ia melihat ke pesawat yang ada di belakangnya, ia tersenyum dengan berat.“Terima kasih sudah membawaku terbang.” Laura pun kembali berjalan untuk pergi ke luar dari landasan pacu.
Saat sudah keluar dari landasan pacu, Laura menghentikan langkahnya saat melihat seseorang menyandar di mobil, siapa lagi kalau bukan Andre. Sejenak, Laura terdiam ia dilanda kepanikan. Bagaimana jika Andre menanyakan karyawan-karyawannya, sedangkan dia hanya datang seorang diri, ia bingung harus menjawab apa, ia takut Andre menganggapnya mendrama karena berbohong.
Andre yang sedang melamun tanpa sengaja melihat ke arah kanan, ternyata istrinya sudah berdiri di tak jauh dari tempatnya menunggu. Ia langsung melepas kacamatanya lalu tersenyum dan menghampiri Laura.
“Akhirnya kau sampai baby!” kata Andre setelah berada di depan Laura, ia langsung memeluk istrinya membuat Laura diam terpaku.
“A- Aku tidak tahu kau menjemputku di sini,”ucap Laura. “Kenapa kau datang kemari?” tanyanya lagi.
“ Tidak apa-apa, aku hanya ingin menjemputmu! Ayo ....” Andre menarik koper yang dipegang oleh Laura, kemudian menggenggam tangan Laura untuk masuk ke dalam mobil.
Setelah menyimpan koper Laura di bagasi, Andre membukakan pintu untuk Laura dan dia pun langsung naik ke kursi kemudi. Laura mahela nafas lega saat Andre tidak bertanya tentang karyawannya dan Kenapa ia hanya keluar seorang diri
Mobil mulai melaju, Andre fokus mengemudi. Laura melihat ke arah jendela, tak lama Laura terperanjat saat Andre menggenggam tangannya, kemudian Andre langsung mengecup punggung tangan Laura, membuat Laura merasa aneh.
Laura berusaha melepaskan tangannya dan tangan Andre. Namun, Andre menggenggamnya dengan erat. “Daddy, kau kenapa?” tanya Laura yang aneh dengan perubahan suaminya, biasanya Andre tidak seperti ini.
Andre tidak menjawab, ia malah mengecup lagi punggung tangan Laura. “Tidak, aku hanya ingin saja seperti ini,” jawab Andre .Laura tidak menjawab lagi, ia memalingkan tatapannya ke arah lain seraya memejamkan matanya, ia terlalu lelah untuk berpikir.
“Sayang!” panggil Andre, rupanya Laura tanpa sadar terlelap. Hingga ia sedikit terkejut ketika Andre membangunkannya.
“Apa?” tanya Laura, ia melihat ke sekelilingnya.
“ Kenapa kita di sini?” tanya Laura yang heran ketika suaminya membawanya kedai es krim.
“Ayo kita menikmati es krim, sudah lama sekali kita tidak berkencan berdua!” Saat Andre akan membuka seat belt, Laura menarik tangan Andre.
”Daddy, apa kau membuat kesalahan?" tanya Laura lagi membuat Andre mengerutkan keningnya.
“Kesalahan apa?”
“ Biasanya kau tidak begini. Apa kau begini karena ingin menutupi kesalahanmu?” tanya Laura, seketika tawa Andre meledak
“Kesalahan apa baby. Aku tidak mempunyai kesalahan apapun. Apa salah jika aku ingin mengajakmu berkencan lagi. toh, kita juga sudah lama tidak menikmati waktu berdua. Sudah Jangan pikirkan apapun lagi.” Andre turun dari mobil, kemudian ia langsung memutari mobilnya dan membukakan pintu untuk Laura, membuat Laura kebingungan dengan sikap suaminya.
Inilah yang bisa anda lakukan untuk menebus semuanya, ia melakukannya dengan tindakan, bukan dengan hanya kata maaf, dan berusaha mengembalikan kepercayaan Laura padanya.
Matanya tak lepas menatap punggung Andre yang sedang mengantri mengambil es krim, tanpa sadar, Laura mengembangkan senyumnya. Namun tak lama, ia teringat lagi semuanya hingga senyumnya kembali meredup.
Laura menghela nafas, kemudian menghembuskannya, ia berusaha untuk menenangkan dirinya 15 menit kemudian es krim pun datang, Andre menyimpan es krim ke hadapan Laura
“Ini makanlah!” kata Andre.
“ Terima kasih,” jawab Laura. Laura pun menyandorkan es krim itu sedikit demi sedikit, begitupun dengan Andre. Matanya tidak lepas memandang Laura.
Jantung Andre berdebar 2 kali lebih cepat saat melihat istrinya. Entah kenapa, ia seperti kembali pada masa awal saat mereka menikah kembali. Jantung Andre berdebar tak karuan, di mata Andre sekarang, Laura berkali-kali lipat lebih istimewa. Hingga tanpa sadar Andre mengembangkan senyumnya.
“Ka-kau Kenapa Dad?” tanya Laura, saat Andre tersenyum. Andre tersadar, kemudian menggeleng.
“Tidak, aku tidak apa-apa.” Andre menggerakkan tangannya untuk mengelap sudut bibir Laura yang terkena es krim, lagi-lagi membuat Laura terhenyak. Ini benar-benar di luar kebiasaan suaminya.
Akhirnya acara makan es krim pun selesai, dan Andre mengajak Laura untuk pulang.
Dua bulan Kemudian.
Ini sudah 2 bulan berlalu semenjak Laura pergi seorang diri dan Selama 2 bulan ini pula, sikap Laura tetap sama, Laura memang tidak pernah berubah. Ia tetap menjadi istri dan ibu yang baik untuk keluarganya, hanya saja Andre benar-benar merasakan perbedaan Laura.
Laura tidak pernah lagi perhatian padanya, Laura tidak pernah mengirimnya pesan, Laura tidak pernah lagi mengingatkannya tentang apapun dari itu membuat Andre merasa kesepian.
Waktu menunjukan pukul 10.00 malam, Laura keluar dari kamar anak-anaknya, ia melihat ke arah sofa ternyata Andre sedang tertidur di sofa. Baru saja Laura akan membangunkan Andre, dan menyuruh Andre tidur di kamar, ponsel Andre yang berada di meja berdering, satu panggilan masuk kedalam ponsel suaminya.
Walaupun sudah tidak ingin lagi tahu tentang masalah Andre di luar. Tapi sebagai seorang wanita, tentu saja Laura memiliki rasa ingin tahu. Bahkan, ketika ada yang menelpon Andre. Rasanya ia ingin menguping. Tapi tentu saja Laura tidak melakukan itu, karena tekadnya sudah kuat, ia tidak ingin lagi tahu tentang Andre.
Namun sekarang, ponsel itu terus berdering Laura berusaha membangunkan Andre. Namun Andre tidak kunjung terbangun. Laura ingin memberitahukan Andre bahwa ada yang menelepon.
Karena Andre tidak kunjung terbangun, Laura lebih memilih pergi. Namun baru saja ia melangkah, Andre menarik tangannya hingga Laura terjatuh dan dengan cepat ia memeluk pinggang Laura, setelah itu satu tangannya menggapai ponsel yang berdering.
“Kau bangun ternyata,” ucap Laura, “Itu ada yang menelponmu. Kenapa kau tadi tidak mengangkatnya. Ayo angkat dulu," ucap Laura. Bukannya menjawab, Andre malah menarik telapak tangan Laura, kemudian ia menyimpan ponselnya di telapak tangan Istrinya.
“Kenapa kau memberikan ponselnmu kepadaku?” tanya Laura.
“Mulai saat ini, aku tidak akan memegang ponselku lagi, aku juga tidak akan memegang laptopku pribadiku lagi, aku juga akan mengerjakan semua pekerjaan di rumah.”
Mendengar ucapan Andre, Laura langsung tertawa. Namun tak lama, tawa Laura berubah menjadi raut wajah yang serius, seolah ucapan Andre sama sekali tidak berpengaruh padanya.
“Memangnya apa gunanya kau memberikan itu padaku?” tanya Laura dengan sinis.