
“Nael, kau tidak kasihan melihat anakmu tadi?” tanya Jordan saat mereka masuk ke dalam ruangan. Setelah pemakaman Stuard dam Simma selesai, Jordan dan Nael pergi ke kantor Nael, dan saat masuk ke dalam ruangan, Jordan langsung berbicara tentang apa yang ia pikirkan di dalam hatinya.
Ya, Jordan diajak oleh Nael pergi melihat pemakaman Stuart dan Sima dan Jordan dengan jelas melihat ekspresi Naura ketika menatap Nael. Ia tak habis pikir kenapa hati Nael masih saja beku dan tidak bisa melihat ketulusan kedua putrinya.
Nael melepaskan jasnya, kemudian ia langsung mendudukkan diri di sofa. “Jangan bahas mereka lagi. Aku sungguh malas,” jawabnya yang entah kenapa tiba-tiba ia merasa emosi ketika mengingat Laura dan Naura.
Ia mencoba memanipulasi hatinya. Bahwa ia emosi melihat kedua putrinya. Tapi sebenarnya tidak. Ia hanya kesal ketika melihat orang lain menggendong Naura dan Laura. Tapi seperti biasa, ego selalu memenangkannya.
Hingga ia berbalik di kata membenci kedua putrinya. padahal, sebenarnya alam bawah sadar Nael sedikit kesal ketika putrinya tidak lagi mengejarnya seperti biasa. Padahal, biasanya putrinya akan selalu datang dan menempel padanya walau ia menolaknya berkali-kali.
“Nael apa kau pikir kau tidak akan menyesal di suatu saat nanti. Bagaimana jika kedua putrimu membencimu?” tanya Jordan. Rasanya, ia ingin membedah kepala Nael karena sikap keras kepalanya.
Nael tertawa. “Mana mungkin aku menyesal. Dari awal, aku tidak menginginkan keberadaan mereka, dari awal aku sudah bilang pada wanita itu untuk tidak mengandung anakku dan itu salah mereka sendiri. Aku tidak bersalah di sini,” jawab Nael dengan acuh, membuat Jordan menggeleng-gelengkan kepalanya.
“Seandainya keponakanku tidak selingkuh. Mungkin Gabby akan aman dan kedua anakmu takan menderita,” ucap Jordan lagi. Mendengar ucapan Jordan, Nael yang sedang menyenderkan tubuhnya ke belakang, langsung menegakkan tubuhnya kembali.
“Ah, ia Keponakanmu. Di mana dia sekarang?” tanya Nael saat Jordan membahas Arsen. Karena setelah kejadian, Gabby mengaku hamil 8 tahun silam, ia tidak mendengar lagi keadaan Arsen.
Jordan mengangkat bahunya. “Entahlah, aku tidak tahu dia di mana, yang jelas dia menghilang dari keluarganya.”
Saat itu, Stuart masih berbaik hati pada Arsen Dan melepaskan Arsen dengan perjanjian Arsen tidak akan mengganggu Gabby lagi, dan setelah itu Arsen menghilang tidak tahu kemana.
“Nael!” panggil Jordan lagi. Nael yang sedang melamun melihat ke arah Jordan.
“ dulu kau ingin sekali bertanggungjawab pada Kanaya padahal Kanaya mengandung anak lelaki lain. Lalu sekarang kenapa kau tidak mau bertanggung jawab pada kedua putrimu?” tanya Jordan seketika Nael langsung melempar bantal sopa ke arah Jordan.
“Kau terus saja membahas itu!” omel Nael. Sudah ribuan kali Jordan bertanya tentang itu. Jordan hanya tak habis pikir dengan Nael yang sama sekali tidak punya empati pada kedua putrinya.
“ Aku tidak mau membahas ini lagi, dan jangan bahas kedua anak itu, membahas mereka membuatku muak,” jawab Nael, membuat Jordan menggeleng.
“Kau mau ke mana?” tanya Nael ketika Jordan bangkit dari duduknya.
“Aku malas aku berada di sini. Ah ia,
aku yakin suatu saat nanti, kau pasti akan menyesal dan kau akan meminta bantuan kepada kami semua agar menyatukanmu dan menyatukan kedua putrimu dan saat itu terjadi aku pasti akan menjadi orang yang tertawa paling keras saat kau merasakan penyesalan.”
Nael berdecih saat mendengar ucapan Jordan “pergi sana!” ucap Nael, sedangkan Jordan dan mengangkat bahunya acuh.
Scroll gengs