Dokter Meets CEO

Dokter Meets CEO
Rindu seperti dulu


“Kami?”


kata-kata Naura membuat tubuh Alvaro diam mematung, dia menatap Naura dengan tatapan tak percaya. Ucapan Naura yang barusan memang terkesan sederhana, Naura hanya mengucapkan kata ' kami' Namun bagi Alvaro, itu sangat berarti.


“Tidak, bukan begitu maksudku. Pergilah! aku akan menemani Ameera.” Naura dengan cepat meralat ucapannya, ia tidak mau Alvaro salah paham ataupun Alvaro menganggapnya berlebihan.


Alvaro tersadar, walaupun sempat merasa senang ketika Naura mengucapkan kata 'Kami.” namun Alvaro langsung tersadar, ia tidak boleh terlalu larut. Dia harus tetap menjaga jara, bagi Alvaro, seperti ini lebih baik, karena ia masih takut Naura akan mengancamnya seperti dulu dan berujung menjauhkannya dengan Ameera.


Dia ia takut Naura risih dengan kehadirannya hingga Naura tidak memperbolehkan lagi bertemu dengan putrinya. Alvaro tanpak menghela nafas.


“Naura aku minta maaf, Tolong sampaikan pada Ameera, Aku berjanji akan segera pulang. Setelah urusan di luar negeri selesai." Sebenarnya berat untuk Alvaro meninggalkan Ameera di rumah sakit dengan keadaan putrinya yang sedang seperti ini. Tapi ia juga harus memenuhi tanggung jawabnya. Dia sedang membuka bisnis baru, karena ia sudah berpikir untuk berhenti dari dunia hitam.


“Pergilah Alvaro kami tidak apa-apa.” Nada suara Naura begitu bergetar, sungguh untuk pertama kalinya ia begitu berat melepaskan kepergian Alvaro. Jika dipikir, ia begitu kesepian.


Di saat orang lain menemani anak mereka yang sedang terbaring bersama-sama, Naura harus merasakan getir ketika ia harus menerima kenyataan bahwa ia dan Alvaro tidak mungkin bersama dan tidak mungkin mengasuh Ameera secara berbarengan, karena Naura jelas-jelas menghargai istri Alvaro.


Alvaro berbalik kemudian lelaki itu pergi, hingga Naura hanya mampu menatap pinggang Alvaro. Setelah Alvaro tidak terlihat Naura mendudukkan dirinya di kursi tunggu menunggu dokter untuk keluar.


•••


Alvaro menyandarkan tubuhnya ke belakang, ia menghentikan mobilnya sejenak rasanya ia terlalu berat untuk pergi apalagi mengingat Ameera.


Selama 3 tahun ini, Alvaro tidak pernah pergi ke luar negeri dan selalu mendampingi Ameera jika Ameera drop, dia yang akan menemani Ameera sepanjang waktu, dia hanya akan pergi ketika Naura datang dan sekarang rasanya ada yang aneh dari Alvaro.


Alvaro mengutak-atik, ponselnya kemudian ia menelpon seseorang. “Bisakah kehadiranku dinwakilkan saja, putriku sedang sakit. Aku tidak bisa pergi kemana-mana." Helaan nafas lega terlihat dari wajah tampan Alvaro saat mendengar jawaban di sebrang sana.


“Baiklah terima kasih.” Setelah mengatakan itu Alvaro pun langsung memutarbalikkan mobilnya untuk kembali ke rumah sakit.


•••


“Bagaimana keadaan Putri ku, Dok?" tanya Naura.


“Kondisi Putri anda sudah stabil, detak jantungnya normal. Silakan jika ingin menjenguknya.”


“Terima kasih, Dok.” Naura masuk ke dalam ruang rawat Ameera, wanita itu langsung berjalan ke arah brangkar kemudian dia duduk di kursi yang ada di samping Brangkar, sudah lama sekali Ameeera tidak kambuh seperti ini.


3 tahun terakhir ini, Semenjak ada Alvaro di hidup di hidup putrinya, Ameera jarang sekali tumbang. Mata, Naura tak lepas menatap wajah putrinya semakin hari semakin mirip dengan Alvaro, wanita itu tiba-tiba teringat pada masa lalu dimana Alvaro selalu mengejar-ngejarnya, terobsesi padanya dan selalu ingin memilikinya


Ada kalanya Naura menyesal telah mengancam Alvaro, ada kalanya Naura ingin kembali pada masa lalu di mana dia diperjuangkan oleh Alvaro. Saat mengingat itu, Tiba-tiba bulir bening langsung terjatuh dari pelupuk mata Naura saat mengingat semuanya, apalagi saat mengingat hubungan ia Alvaro dan Nauder yang begitu rumit.


Naura menghapus air matanya, tak lama ia menoleh ke arah belakang saat mendengar suara pintu terbuka. Mata Naura membulat saat melihat siapa yang datang, ternyata itu adalah Alvaro.


“ Bukannya kau akan pergi?" tanya Naura.


“Aku tidak tenang, meninggalkan Ameera. Jadi, aku membatalkan niatku.”


“Kau ingin menunggu Ameera. Kalau begitu aku akan pergi," ucap Naura, selalu seperti ini setiap Ameera drop mereka tidak pernah berada lama di ruangan yang sama.


Saat Naura akan berbalik dan pergi melewati tubuh Alvaro, tanpa sadar Alvaro menarik tangan Naura, hingga Naura kembali berbalik tatapan kedua insan itu saling mengunci, ada yang aneh Naura tidak menyingkirkan tanganan Alvaro, membiarkan Alvaro memegang tangannya.


“Ada apa?" tanya Naura,


“Ini sudah malam menginaplah di sini, Aku akan menunggu di luar,” jawab Alvaro lagi, ruang rawat Ameera ada ranjang yang besar karena Ameera ditempatkan di ruang VIP, dengan fasilitas yang lengkap. Namun, tidak mungkin mereka tidur di satu ranjang hingga Alvaro menyuruh Naura untuk tidur di ruangan, dan dia akan tidur di luar.


Naura masih belum tersadar bahwa tangannya masih dipegang oleh Alvaro, begitupun Alvaro yang juga tidak sadar bahwa Dia memegang tangan Naura, hingga pada akhirnya kedua insan itu sama-sama tersadar.


Alvaro melepaskan tangan Naura, hingga kecanggungan langsung melanda keduanya, “Tidak usah, Alvaro. Aku pulang saja.”


“Kumohon Naura, ini sudah malam, kau menyetir sendiri bukan, jadi tunggulah di sini biar aku yang menunggu di luar.” Tak ingin Naura membantah lagi, Alvaro pun langsung berlalu begitu saja meninggalkan ruangan.


***


Waktu menunjukkan pukul 2 malam, Naura menyalakan lilin kemudian ia menyimpannya di depan jendela. Lalu setelah itu, wanita itu pun mengepalkan tangannya lalu memejamkan matanya dan mulai berdoa.


Selalu seperti ini, ketika dia terbangun setiap malam dia akan berdoa pada tuhan untuk semuanya, dia tidak pernah meminta apapun dia hanya ingin Ameera sehat.


Tak lama, Naura mendengar suara derap langkah, Entah kenapa feelingnya itu adalah Alvaro Dengan cepat, Naura mematikan lilin lalu berlari ke arah ranjang dan setelah itu menutup sekujur tubuhnya dengan selimut, dan benar saja tak lama pintu terbuka muncul sosok Alvaro masuk ke dalam ruangan untuk melihat keadaan Ameera.


Alvaro menatap Ameera lekat-lekat, ia mencium kening putrinya. Lalu setelah itu menaikkan selimut saat ia akan kembali keluar tatapannya beralih pada Naura yang sedang terbaring di ranjang, seperti ada magnet untuk Alvaro menghampiri Naura.


Perlahan Alvaro berjalan ke arah ranjang kemudian dia mendudukkan diri di sebelah Naura, lalu menatap wajah lamat-lama. sungguh Dia sangat merindukan melihat Naura dari dekat seperti ini.


Alvaro menggerakkan tangannya kemudian membenarkan rambut Naura yang menutupi pipi, bawanya ke belakang telinga dan sebelum bangkit, Alvaro mendekatkan wajahnya ke wajah Naura.


Cup


Satu kecupan mendarat di kening Naura hingga membuat Naura hampir saja membuka matanya.


“Terimakasih sudah menjadi wanita yang sangat kuat dan juga .....”