Dokter Meets CEO

Dokter Meets CEO
Turuti Aku!


Aaaa!” Ayana berteriak saat Raymond masuk kedalam kamarnya. ia langsung panik, apalagi Ia hanya memakai handuk yang tipis. Secepat kilat, Ayana berlari ke arah kamar mandi, untuk kembali mengambil handuk yang lebih lebar.


Raymond menggeleng, seraya terkekeh melihat tingkah Ayana, ia melepaskan jasnya kemudian berjalan ke walk in closed untuk mengganti pakaiannya.


Setelah mengganti pakaiannya. Raymond langsung keluar dari walk in closed kemudian ia membaringkan tubuhnya di ranjang, dan bersamaan itu pula, Ayana pun keluar dari kamar mandi dengan sudah memakai pakaian.


“Kau mau kemana?” Tanya Raymond saat Ayana melewati ranjang dan sepertinya akan keluar dari kamar.


“Aku ingin menghampiri Moa dan menyiapkan makan malam untuknya," jawab Ayana.


“Moa sedang tidur, kemari!” Raymond menepuk ranjang, mengisyaratkan Ayana untuk duduk di sebelahnya. Namun tentu saja Ayana hanya terdiam, ia tidak pernah mau dekat-dekat dengan Raymond. Padahal mereka tidur satu ranjang.


Sudah dua bulan ini, selain tinggal di apartemen yang sama, Raymond dan Ayana pun tidur di satu kamar yang sama. Sebenarnya Ayana, ingin tidur di kamar Moa. Tapi, Raymond mengatakan tidak ingin membuat Moa curiga dan jika mereka tidur terpisah Moa akan mengetahui jika Raymond bukan ayah Moa, hingga mau tak mau Ayana pasrah dan tidur satu kamar dengan Raymond.


Awalnya Ayana selalu tidur di sofa. Namun, setiap sudah terlelap, Raymond selalu memindahkan Ayana ke ranjang. Karena Ayana enggan disentuh oleh Raymond, Ayana pun selalu tidur di ranjang dan tidak pernah tidur di sofa lagi, agar Raymond tidak menggendongnya..


tentu saja ia tetap menjaga jarak dengan Raymond, walaupun pada akhirnya ia selalu terbangun dengan Raymond yang memeluknya dari belakang.


Risih ... Ya, tentu saja Ayana risih. Bagaimana tidak, mereka tidak mempunyai hubungan apapun dan tidak terikat hubungan apapun. Tapi Raymond selalu mendekatinya. Ayahnya tidak punya pilihan lain, rasanya ia juga tidak bisa pergi dari Raymond karena ia takut Jordan mengganggunya dan mengganggu putrinya lagi.


“Kemari!” titah Raymond saat Ayana masih terdiam.


“Aku lapar. Aku ingin makan,” jawab Ayana, ia kembali menghindar dari Raymond.


“Ayana!” Raymond menekankan ucapannya saat memanggil Ayana pertanda ia ingin tidak ingin dibantah, hingga ayahnya pun langsung menoleh lalu berjalan ke arah ranjang dan menundukkan diri di sebelah Raymond.


Saat Ayana mendudukkan diri di sebelah Raymond, Raymond langsung menarik tangan Ayana hingga Ayana langsung terbaring di ranjang dan seketika itu juga Raymond mengunci tubuh Ayana dan memeluk Ayana,hingga kini tangan dan paha Raymond ada di atas tubuhnya.


Ayana berusaha untuk menyingkirkan tangan Raymond dan kaki Raymond dari tubuhnya. Namun yang terjadi, Raymond malah memeluknya semakin erat.


“10 menit saja, biarkan begini. Aku sungguh lelah!” kata Raymond.


“Maafkan aku, harusnya aku tadi yang menjemputmu,” ucap Ayana yang merasa bersalah saat mendengar ucapan Raymond. Dengan cepat, Raymond menggeleng.


“Aku bukan lelah menjemput Moa, aku hanya sedikit lelah dengan pekerjaan,” jawabnya lagi. Setelah itu, Raymond pun memejamkan matanya kemudian ia sedikit menarik tubuh Ayana hingga kini ia dan Ayana berbaring berhadap-hadapan.


••••