
Saat melihat Jordan berbalik, Joana pun tampak berpikir dan mengingat ucapan Jordan barusan, yang mengajaknya tinggal di apartemen.
Tunggu, bukankah ini kondisi yang baik untuknya, di mana sang ibu tidak akan menemukannya jika ia bersembunyi bersama Jordan.
Saat Jordan akan masuk ke dalam mobil, Joana segera berlari kemudian ia masuk ke dalam kursi penumpang, membuat Jordan terhenyak kaget, apalagi Joanna mendahuluinya naik.
“Untuk apa kau menaiki mobilku! keluar dari mobilku!" titah Jordan yang merasa masih kesal pada Joanna. Joanna hanya terdiam, kemudian ia menoleh lalu menundukkan kepalanya, seolah memberi hormat pada Jordan.
”Maafkan aku Paman!” kata Joanna, sepertinya ini bukan waktunya mengajak Jordan berdebat. Setidaknya ia tahu diri dan tahu bagaimana cara mengamankan posisinya.
Jordan berdecak kesal saat mendengar respon Joana, tidak ingin banyak berdebat, akhirnya Jordan pun memakai sandal kemudian menyalakan mobilnya dan menjalankannya. Saat berada di dalam mobil, Joana melihat ke arah jendela, tanpa sadar ia memejamkan matanya sedangkan Jordan terus fokus mengemudi tanpa melihat ke arah Joanna.
Setelah melewati perjalanan yang cukup panjang, akhirnya mobil yang dikendarai Jordan sampai di basement apartemen. Jordan mematikan mesin mobilnya, kemudian ia menoleh ke arah Joanna.
Melihat Joana yang tertidur, rasanya Jordan tidak tega membangunkannya. Namun, mau tak mau ia harus membangunkan Joana.
“Heh, bangun!” kata Jordan. Namun Joana tidak terbangun. Membuat Jordan menghela nafas. “Heh bangun!” Jordan menempuh keras pundak Joana terpenjat.
“Maafkan aku mommy!" ucap Joana tiba-tiba saat Jordan membangunkannya. Rupanya itu adalah respon Joana secara alami, di mana ia menganggap ibunya yang membangunkannya dengan cara kasar seperti biasa.
“Ayo turun!” kata Jordan, Kali ini, nada suaranya melemah tidak seperti tadi. Jordan merasa melihat dirinya di masa lalu, di mana ia sering dipaksa menjadi yang terbaik oleh ayahnya, dan ia selalu dibanding-banding dengan kakaknya, yang tak lain ayah Arsen.
Joana menghapus keringat di dahinya, kemudian mengangguk. Lalu setelah itu ia pun turun menyusul Jordan yang juga sudah turun dan mereka pun berjalan ke unit apartemen milik Jordan.
“Kau tidur di di sofa!” titah Jordan saat mereka masuk ke dalam apartemen.
“Di- di sofa?”
“Apa kau keberatan, apa kau ingin tidur di kamarku?” tanya Jordan yang menoleh, karena memang di kamar Jordan hanya ada satu kamar. sedangkan satu kamarnya lagi dipakai ruang kerja.
“Kenapa, apa kau keberatan?” tanya Jordan lagi yang mengulangi pertanyaannya, saat melihat Joanna.
Joanna menggeleng dengan lesu. “Tidak Paman,” ucapnya dengan nada memberat. Selama beberapa waktu ini, Joana tidak pernah bisa tertidur di sofa, sebab ia selalu ketakutan dan merasa was-was.
Saat berada di rumah, ia selalu belajar di sofa dan tidak boleh belajar di kamar oleh Olivia. karena jika Joanna belajar di kamar, Joanna akan tertidur. Itu sebabnya, Olivia selalu memaksa Joana untuk belajar di sofa dan ketika Joanna tidak sengaja tertidur di sofa, Olivia akan menumpahkan air ke wajah Joanna agar Juana terbangun. Itu sebabnya Joana paling tidak bisa tidur di sofa, karena ketakutan selalu membayanginya.