Dokter Meets CEO

Dokter Meets CEO
Saling memeluk


Gabby terdiam di sisi, ketika Nael masuk ke dalam gudang. Mata Gabby berkaca-kaca saat melihat wajah Nael, ternyata dugaannya benar. Joan adalah Nael. rasa haru menyeruak dalam dada Gabby, ketika ia bisa melihat kembali lelaki yang ia rindukan. Setelah melihat Nael, rasa bersalahnya seketika hilang berganti dengan kelegaan yang luar biasa.


Jujur saja, saat dulu mendengar Nael meninggal dan melihat Nael terbaring di peti mati, Gabby di hantui rasa bersalah pada Nael


Ia menyalahkan dirinya sendiri karena kecelakaan yang menimpa ayah dari anak-anaknya.


Setelah Nael meninggal, Gabby selalu berpikir, seandainya ia membantu Nael mendapatkan hati Laura dan Naura, seandainya ia membantu Nael untuk mendapat Maaf dari kedua putrinya, seandainya ia tidak pergi ke Polandia, tentu Nael tidak akan celaka dan tentu Nael tidak akan kehilangan nyawanya.


Dan setelah Nael meninggal, sampai saat ini Gabby terus dihantui rasa bersalah. Setiap malam, ia selalu memikirkan Nael setiap malam ia selalu menyesali semuanya. Hingga tanpa sadar, rasa menyesal itu berubah menjadi rindu.


Diam-diam, dia selalu memikirkan Nael, yang ia pikir sudah meninggal, setiap malam ia selalu berandai-andai, seandainya Nael masih hidup, dia pasti akan sangat bahagia dan sekarang setelah 3 tahun berlalu, setelah penyesalan yang semakin menumpuk, akhirnya Gbaby menemukan jawabannya, sekarang rasa bersalahnya sirna saat melihat Nael ada di depannya.


Gabby yang sedang melamun tersadar, ketika mendengar Nael terus berteriak memanggilnya dan memanggil kedua nama putrinya.


hingga akhirnya, Gabby keluar dari persembunyiannya.


“Ternyata feelingku benar, kau masih hidup.” Tiba-tiba bulir bening langsung terjatuh dari pelupuk mata Gabby, saat Nael menoleh kearahnya. Hingga tatapan mereka saling mengunci. Sungguh, ia ingin sekali menangis saat melihat melihat orang yang ia rindukan ada di depannya.


Nael terpaku saat melihat Gabby, tubuhnya menegang. Ia memejamkan matanya mengutuk dirinya sendiri karena ia lupa memakai topengnya. Hingga Ia hanya bisa terdiam lalu menunduk, ia bingung bagaimana menghadapi Gabby.


“Ga-Gaby!” Panggil Nael dengan terbata-bata. Ia memberanikan diri mengangkat kepalanya. Nael tersentak kaget ketika melihat wajah Gabby memerah dan berderai air mata. Ia bingung kenapa Gabby menangis.


“Ga-Gabby, kenapa kau menangis. A-aku tak bermaksud .....” Ucapan Nael terhenti ketika Gabby memeluknya, hingga tubuhnya diam mematung.


“Aku merindukanmu bodoh, kenapa kau harus berpura-pura mati membuatku tersiksa selama 3 tahun ini, kau membuatku merasa bersalah dan kau ....” Gabby tak sanggup lagi meneruskan ucapannya, suaranya tenggelam dalam tangisan, ia memeluk Nael begitu erat. Hingga akhirnya Nael tersadar dan ia pun membalas pelukan Gabby tak kalah eratnya.


Tangis kedua sejoli itu pecah, mereka saling memeluk. Hingga pada akhirnya, Mereka saling melepaskan pelukannya, hingga kini mereka saling menatap.


Nael mengangkup kedua pipi Gabby, Lalu menghapus air Gabby. “Gabby!” panggil Nael, ia bisa saja menghapus air mata Gabby, tapi tangannya sendiri pun mulai berderai.


“Gabby ....” lamat-lamat, pandangan Nael mulai memudar, kepalanya mulai terasa memberat dan sedetik kemudian tubuh Nael ambruk ke lantai, rupanya efek alergi dari nanas masih belum hilang sepenuhnya.


“Nael!” teriak Gabby yang terkejut saat Nael tak sadarkan diri.


Cieee yang ngerasa lega hahaha. Gabby kan gengsinya Segede gaban, ya pasti dia ga akan Nerima Nael dengan mudah lah hahahaha


Gengs satu part dulu ya. because im banyak sekali pekerjaan pagi ini. Entar sore atau malam 3 bab kalau komen di atas 500 hahahah