Dokter Meets CEO

Dokter Meets CEO
Lima menit saja


Jantung Gabby berdebar dua kali lebih cepat ketika Nael mengulurkan tangan padanya. Namun dengan cepat, Gabby turun dari mobil ia tidak ingin Nael melihat pipinya yang memerah.


Nael menepuk keningnya saat Gabby menolak uluran tangannya, Ia lupa bahwa ibu dari anak-anaknya adalah wanita yang sangat gengsian.


Setelah Gabby turun, Nael pun menyusul Gabby yang sudah berjalan masuk ke dalam.


“Apa mereka sudah tidur?” tanya Gabby.


“Aku harap kau tidak keberatan melihat Laura dan Naura dari cctv. Aku takut mereka terbangun dan melihatmu,” kata Nael, ia melihat ke arah Gabby. Lalu tangannya bergerak dengan pelan untuk menggenggam tangan Gabby.


“Gabby yang menyadari apa yang akan dilakukan oleh Nael, langsung menaikkan tangannya. Ia berjalan sambil memeluk tubuhnya, karena tidak ingin Nael menggenggam tangannya, hingga membuat Nael memejamkan matanya. Sepertinya setelah menaklukan hati anak-anaknya, ia juga harus menaklukan hati Gabby.


•••


“Bagaimana? apa sulit menaklukkan hati Laura dan Naura?” tanya Gabby setelah ia melihat Laura dan Naura dari cctv. Saat ini, mereka sedang duduk di balkon yang berada di ujung Vila. Nael mengajak Gabby untuk duduk di sana karena tidak ingin kedua putrinya mengetahui kedatangan Gabby, ia takut putrinya tiba-tiba terbangun dan keluar ari kamar.


“Tidak, mereka begitu lucu. Kau tahu, tadi Laura berhasil memanggilku Daddy karena aku berjanji akan menelponmu dan tak lama ia malah melotot padaku dan berkacak pinggang, lalu menjulurkan lidahnya ia marah karena aku terlalu mengajukan banyak yarat pada akhirnya dia pun kembali ke kamarnya.”


Nael menceritakan tingkah Laura dengan berseri-seri. Terlihat jelas, bahwa Nael begitu bahagia ketika menceritakan tingkah Laura.


Tadi, saat Laura meminta Nael menelpon Gabby, Nael malah terus mengajukan syarat untuk putrinya, ia meminta putrinya terus memanggil Daddy dengan suara yang keras, Nael meminta Laura untuk mencium pipinya. dan pada akhirnya, Laura kesal karena Nael terus menyuruhnya, hingga ia pun turun dari pangkuan ayah dan kembali ke kamarnya.


Hati Gabby menghangat, saat melihat ekspresi Nael yang yang terlihat sangat berbunga-bunga ketika menceritakan tentang Laura. Gabby Tidak pernah membayangkan ada di titik, titik dimana ia melihat perubahan Nael yang awalanya membenci Laura dan Naura tapi sekarang, Nael malah matian-matian mengejar maaf kedua putrinya.


“Pesta pernikahan seperti apa yang kau inginkan?” tanya Nael. Seketika Gabby tersedak.


“Kenapa kau bertanya padaku? memangnya siapa juga yang mau menikah?” tanya Gabby.


“Bukankah kita akan menikah setelah Laura dan mau menerimaku," ucap Nael dengan santai membuat mata Gabby membulat.


“Memangnya siapa juga yang mau menikah denganmu? apa aku pernah mengatakan bahwa aku ingin menikah denganmu? Nael, Sepertinya kau salah sangka, Aku menerimamu bukan untuk menjadi suamiku,” jawab Gabby dengan pipi bersemu merah. Membuat Nael berdecih.


“Tapi sepertinya, wajahmu mengatakan hal yang sebaliknya!” Goda Nael sambil tertawa. Gabby memalingkan tatapannya kearah lain, wajahnya pun sudah memerah.


“Aku menyesal datang ke sini. Aku akan pergi sekarang. Tolong kembalikan Laura dan Naura secepatnya padaku,” jawab Gabby dengan gugup, karena Nael terus menatapnya. Saat Gabby bangkit, Nael pun ikut bangkit kemudian Nael menarik tangan Gabby. Lalu memeluk Gabby dari belakang.


Dan setelah itu, Nael membalikkan tubuhnya dan tubuh Gabby. Hingga kini mereka menghadap ke balkon dengan posisi Nael yang memeluk Gabby dari belakang.


“Nael!” teriak Gabby, ia berusaha melepaskan tangan Nael yang melingkar di pinggangnya.


“Nael, kau kurang ajar sekali!” Gabby, meronta agar Nael melepaskan pelukannya.


“Sebentar saja, biarkan Aku memelukmu. Hanya 5 menit.”


Scroll gengs