
•••
“Apakah kau manusia? Kenapa kau begitu jahat!” teriak Naura lagi. “Kakaku sedang mengandung anakmu, dan kau memperlakukan kakakku begitu buruk, apa kau tidak punya otak!” Naura terus berteriak melampiaskan kemarahannya, ia tidak terima Laura diperlakukan buruk oleh Andre.
“Semua ini salahmu Laura!” teriak Andre menghentikan Laura yang sedang mengamuk.
“Apa maksudmu, Kenapa kau menyalahkanku?” tanya Naura.
“Karena kau meninggalkanku secara tiba-tiba. Apa kau tahu betapa sakitnya hatiku saat kau tiba-tiba pergi. Kau memutuskan kau begitu saja, dan aku melihat sosok Laura. Aku pikir, aku bisa menganggap kalian sama. Tapi ternyata kalian berbeda. Bukankah itu salahmu? Seandainya saat itu kau tidak meninggalkanku, Laura tidak akan menjadi korban!” Andre malah balik menyalahkan Naura, membuat Naura berdecih.
“Apa kau tidak tahu selama ini kurangmu di mana?" tanya Naura tiba-tiba.
Andre terdiam “Aku mencintaimu, Naura. Aku menyayangimu. Semua sudah aku berikan padamu. Lalu di mana kurangnya aku ?" Andre balik bertanya pada Naura.
“Kau tidak pernah berkaca pada dirimu sendiri, kau selalu posesif padaku, kau selalu melarang apapun yang aku mau, dan aku harus menurut padamu. Apakah kau pikir aku bisa tahan dengan sikapmu seperti itu!” teriak Naura.
“Aku tidak tahan dengan sikapmu, Andre. Itu sebabnya aku pergi meninggalkanmu. Bahkan saat aku ingin ke luar negeri mengejar cita-citaku kau sama sekali tidak mendukungku dan malah melarangku.” Naura menghentikan ucapannya sejenak, kemudian menghirup oksigen sebanyak-banyaknya.
“Aku bisa melihat Laura mencintaimu dengan tulus, dan aku lihat sikapmu pada Laura begitu baik. Hingga aku tidak melarang kalian untuk menikah. Seandainya aku tahu kau akan begini, aku tidak pernah mengijinkanmu menikahi kakakku.”
Setelah meningatakan itu, Naura keluar dari ruangan Andre, meninggalkan Andre yang tampak termenung. Ia tidak menyangka, ternyata itulah alasan Naura meninggalkannya.
Tak lama setelah Naura pergi, ponsel Andre berdering. Satu panggilan masuk dan Andre langsung mengangkat.
“Hallo, ada apa?” tanya Andre dari sebelah sana.
“Apa!” Andre berteriak saat seseorang mengatakan bahwa harga saham perusahaannya turun.
“Bagaimana mungkin!” teriak Andre lagi, ia memejamkan matanya dengan rahang yang mengeras.Ternyata, ayah mertuanya tidak main-main dengan ancamannya
7 tahun kemudian
Waktu berlalu begitu cepat, tidak terasa Ini sudah 7 tahun berlalu. 7 tahun lalu, Laura melahirkan anak perempuan yang ia beri nama Isabel, dan sekarang gadis kecil itu sudah berumur 6 tahun. Banyak yang terjadi dengan hidup Laura selama 7 tahun ini.
Setelah bercerai dari Andre, Laura menjadi lebih tertutup. Ia sering mengurung diri dan hanya ingin menghabiskan waktu bersama putrinya. Hubungannya dengan Andre masih belum membaik bahkan sampai detik ini.
Andre masih saja bersikap seperti dulu pada Laura, ia selalu bersikap dingin pada Laura. Meskipun begitu, Laura tetap bersikap biasa pada Andre, ia tidak ingin Bella menyaksikan pertikaian kedua orang tuanya. Satu yang Laura syukur, Andre begitu menyayangi Bella.
Laura masih berusaha berbesar hati, ia tidak ingin menampakan permasalahannya dengan Andre di depan Bella, walaupun Andre tidak pernah menggubris jika Laura bertanya. Tapi Laura tidak pernah membalas sikap dingin Andre, Ia tetap bersikap ramah pada Andre.
Sejatinya Laura hanya tidak ingin Bella melihatnya terluka, karena ia merasakan betul bagaimana saat dulu ia selalu melihat ibunya menangis diam diam. Ia tidak mau Bella melihat ia dalam kondisi seperti itu. Itu sebabnya, Laura mencoba baik-baik saja.
Selama 7 tahun ini, Andre jarang sekali menjemput Bella sendiri, ia selalu menyuruh sekretarisnya untuk menjemput Bella jika akhir pekan, karena ia enggan bertemu dengan Laura. Andre masih dendam pada Laura, karena dulu perusahaannya hampir dibuat kolaps oleh Nael. Namun beruntung, Andre berhasil mengendalikannya..
“Kenapa kau menyusul kemari, dengan siapa kau kesini?' tanya Laura, seraya mengelus rambut putrinya.
“Aku pulang sekolah di jemput oleh Daddy," balas Bella, membuat Laura mengerutkan keningnya.
“Daddy?” ulang Naura.
“Hmm, Daddy menunggu di bawah," jawab Bella, Laura mengangguk-anggukkan kepalanya.
“Oh, Daddy ada di bawah. Ya sudah ayo kita turun! Kau ingin ikut Mommy atau ingin ikut Daddy lagi?” tanya Laura
“Aku ingin ikut dengan Mommy saja. Ayo kita pulang!” Bella menarik tangan Laura menuju ke lift.
Dan benar saja saat mereka turun di lobi, Laura melihat Andre, Tumben sekali mantan suaminya ini mau mengantar putrinya sampai kantornya. Karena biasanya, Andre akan menyuruh supirnya untuk menjemput Laura di sekolah dan menyuruh supirnya untuk mengantarkan Bella padanya..Tapi sekarang ....
“Daddy!” panggil Bella, ia memanggil Andre saat sudah berada di lobby. Andre yang baru saja menelepon langsung menyimpan ponselnya, lalu tersenyum.
“Daddy pulang oke," ucap Andre. Saat Laura mendekat, Andre hanya menoleh sekilas ke arah Laura. Wajahnya begitu dingin saat menatap ibu dari putrinya.
Setelah Bella menggangguk, Andre mengelus rambut Bella kemudian berbalik begitu saja, tanpa menyapa Laura.
Ada desiran aneh setiap kali melihat Andre. Tak di pungkiri cinta itu masih ada, walaupun berbalut luka. Sampai detik ini, Laura tidak pernah membuka hatinya untuk siapapun, karena Laura bertekad untuk tidak menikah lagi dan ingin fokus membesarkan Bella.
“Ayo kita pulang!” ajak Laura yang menggenggam tangan sang Putri. Lalu Laura dan Bella pun keluar dari kantor.
Setelah melewati perjalanan cukup panjang, akhirnya mobil yang dikendarai oleh Laura sampai di penthouse miliknya, ia pun segera turun, kemudian membantu Bella untuk turun dari mobil.
Saat turun dari mobil dan berjalan masuk, Laura mengerutkan keningnya saat ada mobil sang ayah terparkir.
“Kenapa Daddy tidak memberitahu bahwa Daddy akan kemari?” tanya Laura saat masuk ke dalam.
“Kau tidak pernah pulang ke mansion, kau juga tidak mengangkat panggilan Mommy dan Daddy,” ucap Nael yang langsung menceramahi sang Putri, karena memang Laura jarang sekali pulang.
“Maaf, Dad. Pekerjaanku banyak," dusta Laura. Sebenarnya ia malu menatap keluarganya.
“Daddy ada apa kemari?" tanya Laura.
“Daddy ingin mengenalkanmu pada anak dari rekan bisnis Daddy,” balas Nael membuat mata Laura membulat.
Gas komen ya gengs, maaf baru up kerjaanku baru beres