
Melihat Moa ketakutan, Raymond langsung turun dari mobilnya, diikuti Ayana yang juga ikut turun. Dan saat Raymond turun, Moa berlari lebih kencang dari sebelumnya, dan setelah sampai, ia memeluk kaki Raymond.
“Daddy tolong!” teriak Moa, ia berteriak histeris dan memeluk kaki Raymond begitu erat.
“it's okay, Daddy di sini,” jawab Raymond seraya mengelus rambut Jordan.
Jordan diam mematung, nafasnya terasa tercekat di tenggorokan. Dunia Jordan seakan menggelap, saat mendengar dan melihat interaksi Raymond dan putrinya, hatinya terasa berdenyut nyeri saat mendengar Moa memanggil Raymond Daddy. Bahkan, rasanya ia ingin menggapai tubuh Moa dan mengatakan pada Moa, bahwa dialah ayahnya.
“Bukankah sudah kubilang, tolong jangan membuat Moa tertekan!” kali ini, Ayana menghampiri Jordan, membuat Jordan tersadar.
“Sayang tolong! kau bawa Moa ke mobil, aku harus berbicara dengannya!” Terdengar suara Raymond dari arah belakang, membuat Ayana menoleh. Ayana pun mengangguk, lalu setelah itu, Ayana memangku Moa dan membawa Moa ke dalam mobil.
Setelah Ayana dan Moa masuk, Raymond menghampiri Jordan. “Aku tidak ingin emosi denganmu, mari kita berbicara layaknya lelaki dewasa. Ayo ke mobilmu dan bicara di sana!” ajak Raymond, Jordan tidak menjawab. Ia berbalik dengan kesal, kemudian berjalan ke arah mobilnya diikuti Raymond di belakangnya.
“Kau tidak akan bisa mengklaim Moa sebagai milikmu, dan aku tidak mau Moa memanggilmu Daddy!” kata Jordan yang memulai pembicaraan, Raymond mengangguk-anggukkan kepalanya.
“Aku akan merebut Moa lagi dari kalian,” ucap Jordan, membuat Raymond terkekeh
“Coba saja!” jawab Raymond dengan santainya. Raymond menegakkan kepalanya kemudian ia menatap Jordan.
“Apa kau pikir, Moa tidak mempunyai perasaan?” tanya Raymond tiba-tiba, membuat Jordan menatap Raymond dengan bingung.
“Apa maksudmu? apa kau pikir hidup Moa akan lebih baik jika kau merebutnya, apa kau pikir, Moa tidak akan tertekan dengan kondisi kita, saat ini?” ucap Raymond lagi membuat Jordan terdiam.
“Coba kau pikirkan, Bagaimana perasaan Moa, saat kau yang selalu mengganggunya, tapi tiba-tiba kau dan mengaku ayahnya bukankah itu akan berdampak pada mental Moa. Aku menyayangi Moa bukan karena Moa adalah anak dari wanita yang aku cintai, tapi aku menyayangi Moa, karena Moa itu sendiri. Aku akan menikah dengan Ayana secepatnya. Jika kau tidak mengusik kami, aku akan membujuk Moa secara perlahan untuk mau menerimamu, untuk Moa dekat denganmu dan aku akan menjelaskan semuanya, karena Moa berhak tahu yang sebenarnya. Tapi jika kau ingin terus mengganggu Moa, jika kau terus membuat Moa tertekan, maka aku akan mencari cara lain untuk menghentikanmu, dengan cara lembut ataupun dengan cara kasar sekalipun. Ayo kita berpikir dewasa, demi mental Moa.”
Setelah mengatakan itu, Raymond pun keluar dari mobil Jordan, meninggalkan Jordan yang diam terpaku. Walau bagaimana pun, permasalahan di antara mereka harus diselesaikan dengan kepala dingin, dan Raymond harus memberi pengertian pada Jordan.Jika tidak, Jordan akan terus mengganggu Moa. begitulah pikir Raymond.
Jordan masih terdiam, ucapan Raymond barusan menohoknya, apalagi saat mendengar tentang mental Moa, haruskah dia merelakan semuanya membiarkan Moa memanggil Daddy. Haruskah dia menerima bahwa putrinya lebih menyayangi lelaki lain.