
“Laura ... Naura!” panggil Nael ketika kedua putrinya kompak tidak mau ke melihat ke arahnya.
“Baiklah, Daddy hitung sampai 5, jika kalian tidak mau turun. Maka Daddy benar-benar tidak akan mempertemukan kalian dengan mommy dan kalian akan tetap disini bersama Daddy.” ucap Nael. “Satu ... Dua .... Tig ....”
Tiba-tiba Naura membuka pintu Kemudian Ia turun dengan sendirinya, begitupun Laura. Ia juga ikut turun. Saat Nael mengulurkan tangannya pada Laura, Laura sempat akan menerimanya. Namun tak lama, ia tersadar hingga ia menolak uluran tangan sang ayah.
Saat Laura dan Naura sudah turun, Nael langsung menarik lembut kedua tangan putrinya dan menggenggamnya. Ia menggenggam tangan Laura dan Naura begitu erat agar kedua putrinya tidak bisa menarik tangan yang ada di genggamannya.
“Ayo masuk!” Naura menatapnya dengan tatapan malas, kemudian mereka pun berjalan. Beberapa kali Naura dan Laura ingin melepaskan tangannya dari genggaman Nael. Tentu saja tak bisa, karena ia menggenggam tangan mereka begitu erat.
“Kalian duduk di sini oke, Daddy akan membuatkan minuman untuk kalian." Nael mendudukkan Laura dan Naura di sofa, setelah itu ia pergi ke dapur
“Naura ... kita harus bagaimana sekarang?”; tanya Naura, “Bagaimana jika kita tidak bisa bertemu Mommy lagi?” tangis Laura hampir saja meledak. Namun, Naura dengan cepat menggenggam tangan Laura.
“Laura, jangan menangis lagi, ada Aku disini.” seperti biasa, Naura yang menenangkan sang kakak.
“Lalu kita harus bagaimana Naura?”
Naura mencoba berpikir rasional, “kita tidak punya cara lain selain menurut dengan apa yang dia katakan. Kita hanya harus membuatnya terus kesal agar dia memulangkan kita pada Mommy,” jawab Naura. Tiba-tiba, ia memikirkan satu. Dimana harus membuat sang ayah kesal, agar sang ayah memulangkan .
“Kenapa kalian berbisik-bisik?” tiba-tiba terdengar suara dari arah depan, Nael datang sambil membawa minuman untuk 2 putrinya.
Naura dan Laura saling bertatap tatapan, kedua anak kembar merencanakan sesuatu.
“Ups, maaf aku tak sengaja, minuman ini tidak enak,” kata Laura, sedangkan Nael hanya tersenyum.
Melihat aksi Laura, diam-diam Naura tersenyum sinis, memudian meminum minumannya sendiri.
Tak lama ia melepaskan gelas sedang dipegangnya ke bawah hingga gelas itu pecah.
“Ups maaf!” kata Naura, sedangkan Nael hanya terkekeh. Ia bisa melihat, kedua putrinya sengaja melakukan ini. Bukannya marah, Nael merasa sedih. Ia tahu ini adalah cara putra-putrinya melampiaskan amarah padanya.
“Kenapa kau tidur di sini?” tanya Naura dengan dingin saat melihat Nael naik ke ranjang yang ditempati olehnya dan oleh Laura.
Nael mendudukan diri tengah-tengah, Lalu setelah itu ia menepuk kedua sisinya.
”Ayo ke mari kita tidur bersama,” awab Nael, Naura menggeleng.
“Tidak mau siapa juga yang mau tidur denganmu,” kata Naura dengan sarkas.
“Apa kalian tidak mengantuk, apa kalian tidak lelah. Kalian harus mengumpulkan tenaga untuk mengerjai Daddy besok, sama seperti tadi,” ucap Nael Sambil tertawa. Karena memang sedari tadi, kedua putrinya habis-habisan mengerjainya.
Tiba-tiba, mata Naura membulat. Ia Nael menatap dengan tatapan tak percaya. Ia pikir, Nael tidak akan menyadari bahwa mereka mengerjainnya.