
“Arsen ... Arsen ....” Gisel terpekik kaget ketika Arsen terkulai lemas saat memeluknya, ia langsung menjauhkan tubuhnya dan benar dugaannya, bahwa Arsen tidak sadarkan diri.
“Tolong ... tolong!” teriaki Giseel, karena ia tidak sanggup membopong tubuh Arsen, hingga tak lama ada seseorang yang melintas yang sepertinya akan berjalan ke arah lift.
“Tuan, bisakah anda membantu saya?” tanya Gisel, lelaki itu dengan sigap menahan tubuh Arsen dan membawa tubuh Arsen untuk masuk ke dalam apartemen.
“Terima kasih, Tuan.” kata Giseel pada lelaki itu, lelaki itu pun menggangguk, kemudian keluar dari unit apartemen Arsen, hingga kini di kamar itu hanya tinggal Gisel dan Arsen saja.
Gisel merogoh tasnya, kemudian ia mengambil ponselnya lalu ia menelepon seseorang dokter yang biasa menanganinya dan meminta dokter tersebut datang ke apartemen Arsen, karena ia tidak bisa membawa Arsen ke rumah sakit.
Setelah menelepon dokter, Gisel langsung menyimpan ponselnya kemudian mendudukkan diri di sebelah Arsen.
Gisel menutup wajahnya dengan kedua tangannya, kemudian ia menangis sesegukan. yang lebih membuat Giseel hancur, bukan perasaannya pada Arsen. Tapi soal ia penyakit yang di derita oleh Arsen, di mana saat satu ginjal Arsen sudah tidak berfungsi dan kondisi satu ginjalnya yang lain pun sudah memburuk.
Bagaimana tidak, selama 10 tahun ini. Setelah disiksa oleh Stuard, Arsen selalu meminum obat penenang, obat tidur dan juga lain-lain. Hingga berdampak pada ginjalnya, dan Arsen tidak ingin dokter mengoperasinya. Itu sebabnya, Arsen lebih memilih menandatangi surat kematian dari pada harus mengalami transflansti.
1 jam kemudian
Gisel masih setia duduk di samping Arsen yang masih belum membuka matanya, dokter sudah memeriksa Arsen, hanya saja dokter belum bisa mendiagnosis Arsen, karena Arsen harus dibawa ke rumah sakit untuk mengetahui kondisinya.
Setelah dokter pergi, Gisel hanya mampu terdiam. Ia hanya mampu menatap wajah Arsen dengan hati yang luar biasa pedih, ia akan memanggil ambulans, jika 1 jam lagi Arsen belum sadarkan diri.
Gisel menangis sesegukan, sebenarnya dari ucapan Arsen saat ia mabuk, Gisel sudah tahu bahwa Arsen pun mencintainya, dan sekarang ia tahu, kenapa Arsen tidak membalas perasaannya, dan itu karena penyakitnya dan Gisel yakin, ada beban yang ditanggung oleh Arsen hingga Arsan lebih memilih menyerah.
Setelah puas menangis, Gisel menaiki ranjang. kemudian ia berbaring di sebelah Arsen. Tangannya masih setia menggenggam tangan Arsen.
Cukup!
Ia tidak peduli lagi dengan status Arsen yang merupakan mantan Kaka iparnya, dia tidak peduli lagi dengan Arsen yang menolaknya, Ia hanya ingin tinggal di samping Arsen, dia tidak ingin lagi memperdulikan pendapat kakaknya.
Ini sudah saatnya ia memperjuangkan kebahagiaannya dan bahagianya adalah arsen, tidak peduli Arsen, terus menolaknya. Tapi, Giseel akan terus di sisi lelaki yang ia cintai.
Arsen mengerjap, Ia membuka mata. Kepalanya terasa berkunang-kunang. Namun, tak lama ia mengerutkan keningnya saat merasa ada yang aneh. Ia melihat ke arah samping, di mana Gisel sedang tertidur
.Arsen menggigit bibirnya, haruskah dia memperjuangkan Gisel atau dia harus meneruskan niatnya untuk menyerah. Lalu bagaimana dengan pandangan Gabriel dan Gaby?
Gengs hari ini aku up 4 bab kok. tapi 3 bab lagi sore ya. karena hari ini hari Minggu jadi otor mau ngabisin waktu dulu sama keluarga.
3 episod nanti adalah episode keramat. jadi jangan sampai ketinggalanya.
Yok gas komen yon