Dokter Meets CEO

Dokter Meets CEO
Menyusul Andre


“Kenapa kau duduk di depan?” tanya Laura saat Andre duduk di belakang bersamanya.


Andre yang sedang memangku Bella menoleh. “Memangnya kenapa, ini kan mobilku,” jawab Andre dengan santai. Jujur saja ia menahan tawanya agar tidak pecah, karena dia masih teringat pesan Laura pada ponsel putrinya.


Saat melihat ponsel pesan yang dikirimkan Laura pada Bella. Rasanya, Andre mempunyai semangat untuk hidup berkali-kali lipat. Rasanya ia tidak ingin menyerah pada ketakutannya, ia mengencangkan doanya agar ia bisa selamat saat dia mengalami operasi.


“Oh, ya sudah aku turun dari mobilmu. Paman tolong hentikan mobilnya,”kata Laura.


“Tiidak paman, teruskan saja jalan!”


“Mommy ... Daddy. Tiba-tiba Laura dan Andre yang sedang berdebat langsung menoleh ke arah Bella, mereka saling tatap lalu terdiam dalam waktu yang cukup lama, apalagi saat melihat wajah Bella tampak meredup, gadis itu seolah terganggu dengan perdebatan kedua orang tuanya.


Tadinya, ia sangat bahagia ketika ia bisa satu mobil dengan ibu dan ayahnya. Tapi ketika melihat perdebatan diantara mereka, rasanya membuat Bella sedikit aneh dengan situasi yang seperti ini. Andre dan Laura saling tatap, keduanya mengerti dengan perasaan Bella.


Laura langsung mengelus rambut Bella.


”Kami hanya bercanda, Bella,” ucap Laura. “Ia, ka, Daddy,” ucapnya lagi pada Andre, Andre menggangguk.


”Hmm, kami hanya bercanda,” jawab Andre lagi.


Andre menarik kepala Bella, agar putrinya merebahkan kepalanya di dadanya. Sedangkan Laura langsung menolehkan kepalanya ke arah jendela, kedua insan yang barusan berdebat itu sama-sama terdiam, mereka sama-sama merasakan perih. Andre yang akan pergi meninggalkan, sedangkan Laura yang berpikir tentang kondisi Andre.


Setelah melewati perjalanan yang cukup panjang, akhirnya mobil yang dikendarai sopir Sampai di bandara. Andre pun keluar dari mobil, begitupun dengan Laura. Ia membawa koper untuk masuk ke dalam, dan kini setelah melakukan serangkaian proses untuk terbang. Laura Laura dan Bella mengantarkan Andre ke terminal keberangkatan.


Andre menurunkan Bella dari pangkuannya, kemudian ia menekuk kakinya menyetarakan dengan Bella, gadis kecil itu sudah berlinang air mata karena membayangkan ayahnya pergi.


“Jangan menangis, Daddy pasti akan kembali untukmu.”


“Daddy bolehkah aku ikut?" tanya Laura. Andre menggeleng.


“Daddy hanya sebentar, berjanji pada Daddy, kau harus menuruti semua apa yang Mommy katakan,” kata Andre. “Berjanji pada Daddy, kau tidak boleh bersedih atau tidak boleh menangis.” Andre mengangkat tangannya, kemudian menaruh kelingkingnya di hadapan Bella, sebagai perjanjian.


Ia mengecup seluruh bagian wajah putrinya, merekam semua wajah Bela dalam ingatannya. Andre kembali bangkit, hingga kini ia bertatapan dengan Laura. Laura memalingkan tatapannya ke arah lain, karena matanya pun sudah membasah.


Andre terdiam, ia bingung harus bagaimana. Ia ingin memeluk wanita di depannya. Tapi ia juga tidak seberani itu untuk melakukan keinginannya.


“Jaga dirimu baik-baik, Laura. Seperti yang aku bilang ... keberhasilan operasiku 50% dan kegagalannya 50%. Jika aku selamat,.aku akan menebus semuanya. T api jika tidak aku ....” tiba-tiba Andre menghentikan gerakannya saat tubuhnya di tubruk oleh Laura.


Saat mendengar ucapan Andre, gengsinya luntur begitu saja. Hingga ia langsung memeluk Andre. Tubuh Andre dia mematung Laura memeluknya, dan tanpa menunggu lagi, Andre langsung membalas pelukan Laura, membuat tubuh Laura diam menegang.


Benarkah mantan suaminya yang selalu bersikap dingin padanya membalas pelukannya. Ah, entahlah Laura ... tidak ingin berpikir banyak, Ia hanya ingin menghabiskan detik-detik waktunya bersama Andre.


“Jaga diri kalian,” ucap Andre setelah melepaskan pelukannya, ia menoleh lagi ke arah Bella Lalu setelah itu berbalik dan pergi masuk dalam pintu keberangkatan


Andre membelai foto milik Laura dan Bella, ia menciumnya dengan tangis yang berlinang. Hari ini, Andre akan melakukan operasi pemasangan ring.


Ini sudah 2 minggu berlalu Andre berada di Amerika. Jujur saja selama kemarin, ia tidak bisa tidur. Beberapa kali Laura menelponnya, tapo' dia tidak mengangkat panggilan dari Laura, karena jika ia mengangkatnya, ia akan semakin tidak tenang. Hingga akhirnya, ia mematikan ponselnya.


Pintu terbuka menyadarkan Andre dari lamunannya, dan ternyata dokter Andre yang masuk.


“Tuan Andre, apa anda sudah siapa?”tanya Mikael, dokter Andre.


“Hmm, saya siap. Tolong berikan yang terbaik untuk saya,” balas Andre.


“Kami akan selalu memberikan yang terbaik untuk anda. Satu jam lagi, tim Dokter akan menjemput anda kemari. Karena anda masih mempunyai waktu 1 jam, jadi beristirahatlah, Tuan agar anda tidak terlalu tegang," ucap Dokter, setelah itu, Andre menekan remot agar berangkar turun lebih ke bawah.


Andre memejamkan matanya, berusaha untuk tertidur agar tubuhnya tidak terlalu menegang. 2 minggu ini, Andre dipenuhi ketakutan yang luar biasa, ia menjalani semuanya seorang diri. Tidak ada yang menemaninya.


Semenjak kecil, setelah orang tuanya meninggal.Andre adalah sosok yang tegar dan kuat di mata siapapun. Tapi nyatanya Andre tidak setegar dan tidak sekuat itu.


Saat Andre sedang memejamkan matanya, tiba-tiba ia kembali terbangun. Saat mendengar suara pintu terbuka, tubuh Andre diam mematung saat mencium aroma ini, aroma yang sangat Andre rindukan


Wangi parfum ini adalah wangi yang sangat Andre ingin hirup, dan ia tidak mungkin salah. Lauralah yang masuk, saat menyadari itu Laura Andre sengaja tidak membuka matanya, dan ingin mengetahui apa yang akan diucapkan Laura. Jujur saja saat ini ketakutannya langsung sirna, saat Laura ada di sisinya. Ia tidak menyangka Laura akan menyusulnya ke Amerika.


Laura menarik kursi, kemudian ia mendudukkan dirinya di kursi. Sebenarnya, Laura sudah ada di sini satu minggu yang lalu. Hanya saja, ia terlalu gengsi untuk menghampiri Andre dan selalu memantau Andre dari jauh


Namun saat ini, Laura tidak bisa menahan dirinya lagi hingga ia pun langsung menghampiri Andre dan masuk ke ruang rawatnya


“Andre aku tahu kau tidak tidur,” ucap Laura tiba-tiba yang menyadari bahwa Andre tidak tertidur.


“Tidak, aku tidur,” jawab Andre. Namun tak lama, Andre menggigit bibirnya. Paadahal, Ia sama sekali tidak berniat mengatakan itu.


“Berhenti bercanda Andre!” kata Laura kali ini Laura sama sekali tidak berminat untuk meladeni Andre.


“ Kenapa kau di sini?” tanya Andre yang membuka matanya, kemudian ia langsung bertanya pada Laura, ia terlalu gugup untuk sekedar basa-basi.


“Aku hanya ingin memastikan keadaan selamat. Bukan karena aku perduli. Tapi demi Bella,” dustanya, walaupun sempat melunturkan gensinya. Tapi Laura adalah Laura, dia tidak akan mengakui apapun sebelum terdesak.


“Jadi kau kemari karena Bella?” tanya Andre. “Lalu kenapa Bella tidak ikut kemari?” tanya Andre, Skak


Laura ....


Gas komen ya gengs.