Dokter Meets CEO

Dokter Meets CEO
Sulit di Hubungi


Gabby meminum minuman air di botol itu hingga tandas, kemudian ia mencoba menenangkan diri dengan menghirup oksigen sebanyak-banyaknya. Lalu setelah itu ia terdiam kembali.


“Lalu sekarang, bagaimana. Apa langkah yang akan kau ambil. Apa kau tidak ingin memberitahukan kehamilanmu padanya?” tanya Stuard.


“Aku hanya ingin membesarkan anak ini seorang diri. Aku tahu, ayah anak ini mencintai wanita lain dan ia juga tidak mungkin menerima kehamilanku. Nael pernah mengatakan bahwa ia membenci anak-anak dan tidak ingin di repotkan. Saat tau selingkuhan Arsen hamil. Akupun ingin hamil, hingga aku memaksanya tanpa pengaman dan aku berjanji padanya taakan meminta pertanggung jawabannya jika aku hamil”


Gabby menghentikan ucapannya, kemudian menghapus air matanya. Dulu, saat mengetahui Kristim hamil. Gabby kalap, hingga saat berhubungan di rumah sakit bersama Nael, ia memaksakan Nael untuk tidak memakai pengaman.


Tentu saja Nael menolak, karena ia tidak ingin mempunyai anak. Tapi saat itu karena otak Gabby buntu, ia berjanji pada Nael tidak akan meminta pertanggungjawaban dari Nael jika ia mengandung, karena memang Gabby pun hanya ingin memiliki anak tanpa ingin menikah.


Gabby sudah bertekad, tidak akan menikah dengan siapa pun dan hanya ingin menghabiskan waktunya bersama anak-anaknya.


Awalnya, Gabby pikir. Ia akan kesulitan mengandung. Tapi ternyata, Tuhan begitu baik. Saat mengetahui ia sedang mengandung, tentu saja Gabby begitu berbunga-bunga. Ia tak peduli Nael tidak bertanggung jawab, karena memang sedari awal Ia hanya ingin hamil dan Tuhan mengabulkannya, sekarang ia mengandung anak kembar.


“Dad, apakah aku boleh membesarkan anakku seorang diri tanpa pernikahan?” tanya Gabby dengan ragu-ragu.


Stuard hanya tersenyum,.kemudian mengelus bahu Gabby. “Gabby, kau tidak perlu takut untuk melangkah. Ada Daddy dan Gabriel yang akan melindungimu. Semua keputusan ada di tanganmu Gabby. Daddy akan mendukung apa pun keputusanmu,” jawab Stuard, membuat Gabby mengembangkan senyumnya.


Ia bersyukur, sang ayah bisa mengerti dirinya dan menolongnya dalam keadaan apapun.


Mendengar ucapan Gabby, Stuard terdiam, dia juga bingung bagaimana memberitahukannya pada Simma, istrinya. Kondisi kesehatan Simma pun sedang buruk.


Ia takut, kondisi Simma akan drop, karena sedikitnya apa yang dialami Gabby mengingatkannya pada masa lalu dimana saat itu ayah kandung Gaby dan Gabriel meninggalkan Sima dalam keadaan hamil, dan jika istrinya tahu tentang apa yang menimpa pada Gabby, Stuard takut istrinya akan menyalahkan dirinya sendiri dan akan merasa bersalah karena putrinya harus mengalami hal yang sama seperti dirinya dulu.


“Mommy, biar jadi urusan Daddy. Sekarang, kau tidak perlu berpikir apa-apa. Kau hanya perlu bahagia agar anak-anakmu juga ikut bahagi. Sekarang mana ponselmu, Daddy, ingin melihat cucu Daddy!”


•••


“kenapa dia susah sekali dihubungi,” lirih Nael, ketika ponsel Gabby sudah tidak aktif. Ini sudah dua minggu berlalu, setelah kejadian Arsen memecahkan kaca jendela ruangannya.


Dan setelah itu pula, Gabby tidak bisa dihubungi


Nael Naila ingin mengatakan sesuatu hal pada Gabby, tapi Gabby malah tak bisa di hubungi, membuat Nael kebingungan.


“Kau kenapa? sepertinya kau gelisah sekali tanya?” Jordan yang tiba-tiba masuk ke ruangannya. Nael tang sedang mondar-mandir langsung menghentikankan langkahnya.


“Kau selalu saja datang di saat yang tidak tepat!” cibir Nael.