Dokter Meets CEO

Dokter Meets CEO
Rapuh


Mata Nael dan Mata Gabby saling mengunci. tatapan mereka begitu lurus, memandang satu sama lain. Tapi tak lama, Nael dan Gabby sama-sama memalingkan tatapannya ke arah lain, dan Gabby kembali melanjutkan melihat prosesi pemakaman, begitupun Nael.


Sebenarnya, ia tidak berniat datang ke prosesi pemakaman Simma dan Stuard. Hanya saja, ayah dan ibunya memaksanya hadir, sebagai penghormatan terakhir pada pada Simma dan Stuard. Hingga mau tak mau, ia pun mengikuti kemauan kedua orang tuanya.


Detik-detik menyedihkan itu terjadi, ketika peti kedua orang tuanya sudah di bawah dan akan ditutup oleh tanah. Tiba-tiba, tubuh Gabby bergetar saat melihat makam orang tuanya akan ditutup oleh tanah.


Rasanya, Gabby tidak sanggup melihat pemandangan di depannya. “Jangan!” tiba-tiba, Gabby berteriak ketika petugas akan menutup liang lahat menggunakan tanah. Gabby berlari dan tanpa sadar, ia ingin melompat ke dalam peti mati tersebut.


Namun beruntung, dia ditahan oleh Gisel. Walaupun Gissel sedang terpukul. Tapi, ia masih bisa mengendalikan diri, berbeda dengan Gaby. “Kakak tolong! jangan begini. biarkan Mommy dan Daddy tenang!” kata Giselle. Ia berusaha untuk menahan tubuh sang kakak, karena sang kakak terus meronta.


“ Gisel, ayo bangunkan Mommy dan Daddy, jangan biarkan mereka dalam peti itu. Mommy dan Daddy pasti akan sesak jika di sana!” teriak Gabby pada sang adik. Gabby benar-benar terpukul, hingga ia lepas kontrol.


Gabriel yang masih lemah langsung berjalan menghampiri sang adik, kemudian ia memeluk Gaby dan Gisel secara bersamaan, ia memeluk kedua adiknya begitu berat. Hingga pada akhrinya, Gabby bisa menguasai diri dan tak lagi histeris.


Gabriel mengelus punggung kedua adiknya, mereka saling memeluk dengan tangis yang berlinang. Kemudian mereka sama-sama menatap kedepan, menyaksikan pemakaman kedua orang tua mereka.


••••


“Kaka, ayo pulang!” ajak Gisel yang sudah bangkit dari duduknya.


“Kalian duluan saja, aku masih mau menemani Mommy dan Daddy,” ucap Gabby. Ia terus memeluk nisan Stuard dengan tangis yang tergugu. Tak peduli tubuhnya sudah lemas dan tak berdaya, ia hanya ingin menemani kedua orang tuanya.


“Gabby ayo pulang, jangan begini. Kau juga harus memikirkan Laura dan Naura,” ucap Gabriel. Ia memang tahu bahwa Laura dan Naura dibawa oleh Jeremy.


Seketika Gabby tersadar, saat mendengan ucapan Gabriel. Ia langsung teringat kedua putrinya. Ia lupa,.bahwa tadi Naura dan laura pergi ke rumah sakit bersama Jeremy


Gabriel membantu Gabby untuk berdiri, Kemudian, mereka pun keluar dari area pemakaman. “Gabriel ... Gisel, kalian pulanglah. Akulu akan menaiki taksi di sini,” ucap Gabby, karena ia tahu adik dan kakaknya masih tak berdaya.


Gabriel menggeleng. “Tidak Gabby, ki menemanimu ke rumah sakit,” ucap Gabriel. Walaupun tubuhnya terasa lemas, tapi ia tidak mungkin membiarkan Gabby sendiri. Sekarang, ia lah yang harus menjaga kedua adiknya.


“Tidak usah, Gabriel. Aku hanya ingin menikmati waktu bersama putriku,” jawab Gabby, lagi. Seketika Giseela maju ke arah Gabby kemudian memeluk sang kakak. “Aku akan menyusul nanti setelah beristirahat,”kata Gisel. Gabby pun mengangguk. “Ayo, Kak. Kita pergi,” Gisela menarik tangan Gabriel, untuk pergi ke mobil, sedangkan Gabby menunggu taksi.


Scroll gengs aku up 3 bab ga Mao Tao harus tinggalin komem setiap bab.ga komen besok up satu bab hahah