
Gengs maafin baru update ya ❤️❤️
“Apa maksudmu Ameera?” Joshua kembali bertanya pada Ameera ketika Ameera mengatakan hal seperti itu, begitu pun Gaby yang terus menatap Ameera dengan tatapan penasaran dengan apa yang diucapkan oleh Ameera, karena Ameera terlalu berbelit-belit.
Ameera menyandarkan tubuhnya ke samping, kemudian wanita itu melihat ke arah Joshua.
"Seperti apa maumu, Paman? Kau tidak akan mempunyai anak dari wanita seperti Savana, dia mengabulkan keinginanmu dengan membeli obat penggugur kandungan, dan sekarang anak kalian sudah tidak ada, dan Savana pun kritis. Bukankah itu semua sudah tercapai? Apa kau puas?" tanya Ameera yang berbicara dengan nada riang, tapi tangisnya kembali berlinang membuat Gaby dan Nael langsung menatap Joshua.
"Joshua, ada apa ini?" tanya Nael.
Nael sedikit bangkit dari duduknya kemudian berkacak pinggang, lalu setelah itu menatap Joshua dengan tajam. Sementara Joshua masih terdiam. Tubuhnya mematung. Lelaki tampan itu tiba-tiba teringat kejadian kemarin.
'Gugurkam saja anak itu.'
Tubuh Joshua terasa lemah saat mengingat itu. Sial. Dia pun bangkit dari duduknya, berniat untuk pergi ke rumah sakit. Namun, sepersekian detik dia langsung berbalik lalu menghampiri Ameera.
"Di mana Savana dirawat?" tanya Joshua.
Ameera mengangkat bahunya tak acuh. "Untuk apa juga kau peduli? Bisa saja sekarang Savana sudah menyusul anak kalian. Tidak ada gunanya berlaga kau menghampirinya, 'kan?" tanya Ameera, wajahnya menatap Joshua dengan tatapan benci yang kentara.
"Ameera!" bentak Joshua.
"Apa? Berani kau berteriak padaku?!" teriak Ameera yang tiba-tiba dilanda emosi. Dia bahkan mengambil piring yang berisi makanan, lalu setelah itu melemparkannya pada tubuh Joshua membuat mata Gaby dan mata Nael membulat.
Sekarang pertama kalinya Ameera seperti ini, bersikap tidak sopan pada orang lain. Tentu saja karena emosi gadis itu sudah menggebu-gebu, hingga pada akhirnya dia tidak bisa lagi menahannya.
Joshua memejamkan matanya. Dia tidak ada waktu untuk berdebat dengan Ameera hingga pada akhirnya lelaki itu memutuskan berbalik dan pergi dari mansion, sedangkan Ameera masih terdiam. Napasnya masih memburu hingga Gaby dan Nael langsung menghampiri cucu mereka.
"Tenangkan dirimu, Ameera," ucap Gaby. Dia mengelus punggung cucunya.
***
Joshua menjalankan mobilnya dengan kecepatan penuh. Keringat dingin sudah membasahi seluruh tubuhnya. Kata demi kata yang pernah dia ucapkan pada Savana kembali menubruk otaknya. Dia hanya sedang emosi mengatakan hal tersebut. Dia tidak setega itu untuk menyuruh Savana menggugurkan anak mereka, walau bagaimanapun anak yang dikandung Savana adalah anaknya juga.
Joshua pergi ke apartemen. Dia berencana mencari petunjuk di sana, siapa tahu petugas keamanan mengetahui di mana Savana dirawat.
Setelah melewati perjalanan yang cukup panjang, akhirnya mobil yang dikendarai oleh Joshua sampai di basement. Lelaki itu langsung berlari ke arah lift. Dia berencana untuk mengganti pakaiannya terlebih dahulu, sebab pakaiannya sudah terkena tumpahan makanan yang tadi dilemparkan oleh Ameera.
Saat masuk, Joshua menghentikan langkahnya kala melihat cairan merah di kakinya. Dia menginjak suatu cairan hingga Joshua langsung menoleh ke arah bawah. Rasanya sendi-sendi Joshua dilepas paksa dari tubuhnya ketika melihat dia menginjak darah, dan dia mengikuti dari mana darah itu berasal, ternyata dari belakang sofa.
Secepat kilat, Joshua langsung berlari ke kamarnya kemudian lelaki itu langsung mengganti pakaiannya, setelah selesai dia kembali keluar dan bertanya pada petugas apartemen.
***
.
Lalu sekarang, di sinilah Joshua berada, di rumah sakit tempat Savana dirawat, dia bisa tau di mana rumah sakit Savana, karena melihat cctv yang menampilkan ambulance yang membawa Savana.
Joshua dengan cepat masuk ke dalam. Lelaki itu langsung bertanya pada pihak informasi, menanyakan di ruangan mana Savana dirawat, dan setelah mendapatkan info di mana Savana dirawat, akhirnya Joshua pun langsung berjalan ke arah lift.
Setiap waktu yang berlalu, dilewati Joshua dengan penuh rasa takut. Penyesalan demi penyesalan dirasakan lelaki itu. Jangan tanyakan betapa menyesalnya Joshua saat ini ketika dia mengetahui bahwa calon anak mereka sudah tidak ada.
Sungguh, walaupun dia sering mengatakan dia tidak ingin anaknya terlahir dari rahim wanita itu, tapi tetap saja dia merasa hancur ketika Savana mengikuti kemauannya. Dia benar-benar mengutuk dirinya sendiri.
Joshua masuk ke dalam ruangan. Tatapan matanya langsung melihat ke arah brankar, di mana Savana sedang terbaring di sana dengan hati yang luar biasa hancur. Joshua berjalan ke arah brankar untuk menghampiri istrinya, dan sekarang dia melihat Savana terbaring memejamkan matanya dengan wajah yang memutih. Lalu tak lama, tatapannya teralih pada perut istrinya yang sudah rata.
Tangis Joshua mulai menggenang. Lelaki tampan itu merasakan lebih hancur dari sebelumnya saat melihat Savana terbaring.
"Savana, maafkan aku." Cukup itu yang bisa Joshua katakan, tapi semuanya percuma. Kata maaf tidak akan pernah bisa mengembalikan anak mereka.
***
Beberapa hari kemudian.
Savana mengerjap, wanita itu membuka matanya sejenak otak Savana kosongan, yang pertama kali dia lihat adalah atap berwarna putih.
Savana berusaha mengingat apa yang terjadi. Namun, dia tidak mengingat apapun. Tak lama, saat dia bergerak dia merasakan perutnya terasa nyeri dan pada akhirnya Savana mengingat semulanya, dia mengingat detik demi detik menyakitkan yang dialami olehnya.
Bulir bening langsung terjatuh dari pelupuk mata Savana. ‘Tuhan, ternyata kau tidak mengambil nyawaku.’ Savana membatin dengan tangis yang berlinang dia menggerakkan tangannya untuk memegang perutnya yang sudah rata. Rasa sakit kembali mendera Savana, kala teringat detik-detik menyakitkan dia melihat darah yang mengucur dari kedua padanya.
“Maafkan Mommy, Nak.” Savana kembali membatin dan tak lama pintu terbuka hingga Savana menoleh, muncul sosok Joshua. Rupanya, Joshua baru saja mengurus sesuatu di bawah.
Saat masuk, Joshua menghentikan langkahnya ketika melihat Savana membuka mata, hingga tetapan keduanya saling mengunci. Perlahan-lahan, Joshua berjalan ke arah Savana
‘Sekarang, kau tidak perlu khawatir, kau tidak akan terbebani dengan anak yang terlahir dari rahimmu.’ Savana membatin menatap Joshua yang sedang berjalan ke arahnya.
“Sa-savana!” panggil Joshua dengan terbata, Savana tersenyum membuat Joshua terlalu. Wanita itu masih bisa tersenyum padanya setelah Apa yang dia lakukan, dan tentu saja Joshua tau bahwa senyuman itu penuh luka.