
Setelah cukup lama terdiam, Arsen pun menoleh ke arah Gisel, kemudian ia menggenggam tangan Gisel hingga Gisel menoleh. “Gisel, apakah kau tidak keberatan menunda malam pertama kita?” tanya Arsen. “Aku masih belum percaya diri dan aku juga masih belum ...."
“Aku mengerti," jawab Gisel, yang tidak ingin mendengar ucapan Arsen lagi. Ia mengerti apa yang di rasakan oleh Arsen, walaupun sebenarnya Ia juga sedikit kecewa.
Arsen bangkit dari duduknya, ia menarik lembut tangan Gisel, kemudian mengajak Gisel untuk berbaring, lalu membawa Gisel ke dalam pelukannya
“Maafkan aku, Gisel. Aku berjanji aku akan menemui pesikiater agar bisa menyembuhkan dirik!” kata Arsen, Giseel mengangguk dalam pelukan Arsen.
4 bulan kemudian.
Gisel memasak sambil melamun, pikirannya melayang entah ke mana. Ini sudah 4 bulan, pernikahannya dengan Arsen. Tapi Arsen masih belum menyentuhnya.. Bahkan sikap Arsen tetap sama,.mereka seperti teman. Bukan seperti suami istri.
Ia mengerti hubungan mereka terlalu mendadak, hingga mereka butuh untuk beradaptasi satu sama lain. Tapi sebagai seorang wanita, tentu saja Gisel merasa ini aneh. Ia kerap kali berpenampilan seksi untuk menggoda Arsen, ia memberanikan diri agar Arsen tidak terus menutup diri. Tapi tetap saja Arsen hanya membalasnya dengan senyuman.
Entah kenapa, Gisel sedikit lelah. Ia merasa Arsen tidak menginginkannya, walaupun ia juga melihat cinta arsen yang menggebu-gebu padanya.
“Gisel!” panggil Arsen tiba-tiba, menyadarkan Gisel dari lamunannya. Gisel tersenyum kemudian ia kembali fokus memasak.
“Kau tidak apa-apa?” tanya Arsen.
“Aku tidak apa-apa!” balas Gisel, Arsen tertegur saat melihat reaksi Gisel yang tampak berbeda dan ia sadar kenapa Gisel seperti ini padanya. Jujur saja, Arsen pun bingung kenapa ia masih belum membuka dirinya, mungkin karena ia masih malu dan karena trauma masa lalunya.
Makan malam begitu hening, Arsen dan Gisel sama-sama terdiam dan fokus pada makanan mereka masing-masing.
“Arsen, Aku akan tidur duluan!" Setengah menyelesaikan makannnya. Gissel pun bangkit dari duduknya, kemudian ia berjalan ke kamar, sedangkan Arsen hanya mampu menatap punggung Gisel.
Arsen mengusap wajah kasar, kemudian Ia pun bangkit dari duduknya, lalu berjalan ke arah balkon untuk mencari angin segar.
Ia memejamkan matanya, berusaha untuk mengusir pikiran gundahnya. Tiba-tiba, Arsen membuka matanya, saat membayangkan Gissel pergi karena bosan dan jenuh menunggunya. Ia membayangkan bagaimana jika pada akhirnya, Gisel kecewa padanya dan meninggalkannya.
Gisel sudah sangat baik untuknya, menerima semua dosanya. Tapi ia masih tidak ingin membuka dirinya karena ia yang tak mampu mengatasi ketakutannya. Seketika Arsen pun langsung berbalik dan pergi menyusul Gisel.
Arsen membuka pintu kamar, namun Gisel tidak ada di manapun. Tak lama, ia mendengar suara gemericik air, ternyata Gisel sedang berada di kamar mandi, Arsen menghembuskan nafasnya kemudian Ia pun masuk ke dalam kamar mandi.
Tubuh Arsen diam mematung, jantungnya berdebar dua kali lebih cepat saat melihat Gisel sedang membelakanginya dengan tubuh polia dan berdiri di bawah kucuran shower.
Jakun Arsen naik turun. Setelah 4 bulan mereka menikah, ini itu pertama kalinya ia melihat tubuh Gisel secara polos. Arsen mengusap wajah kasar, karena tubuh Gisel begitu menggoda. Ia kenapa ia bodoh, menyia-nyiakan istrinya dari dulu. Padahal Ia Sadar, Gisel sering menggodanya.
Tanpa pikir panjang, Arsen pun langsung melepaskan pakaiannya dan ....
Sebentar lagi ketemu Jordan Ayana ya dengan Versi yang kalian ma
Gas komen gengs