Dokter Meets CEO

Dokter Meets CEO
Berusaha melupakan sang Ayah


Saat Nael tersedak, Laura dan Naura yang sedang menunggu eskrim menoleh kearahnya. Hingga Laura dan Naura saling tatap, baru saja Naura akan turun untuk menghampiri sang ayah, Laura menggenggam tangan Naura kemudian menggeleng, seketika Naura tersadar dan gadis kecil itu pun teringat dengan niatnya yang tidak ingin menghampiri sang ayah lagi.


Laura dan Naura melihat ke Nael, dan Nael juga melihat ke arah kedua putrinya. Hingga tetapan kedua anak dan ayah itu saling mengunci.


Tapi, tak lama Laura kembali menarik tangan Naura, agar Naura kembali berbalik ke depan dan tidak melihat sang ayah, membuat Nael mengerutkan keningnya.


Tak biasanya sikap kedua putrinya begitu. Biasanya, ketika ia memperlihatkan kebenciannya, Laura dan Naura tetap akan datang kepadanya. Tapi kali ini berbeda, tak lama Nael mengangkat bahunya acuh kemudian ia menoleh kearah Jordan yang sedang menatapnya dengan Intens. Rupanya, sedari tadi Jordan memperhatikan Nael.


“Jika kamu menyayangi kedua putrimu, Kenapa kau tidak hampiri saja mereka!” Kata Jordan. seketika Nael menendang kaki Jordan di bawah meja, membuat Jordan mengaduh kesakitan.


“Kau brisik sekali, memangnya siapa juga yang ingin mengakui mereka,” balas Nael, dengan sedikit keras. Hingga Laura dan Naura kembali berbalik, rupanya ucapannya terdengar oleh Laura dan Naura, karena meja mereka hanya terhalang oleh beberapa meja yang lainnya. Itu sebabnya, Laura dan Naura bisa mendengar ucapan sang ayah, apalagi Nael berbicara dengan sangat kencang.


lagi-lagi Laura dan Naura saling tatap, kemudian mata mereka langsung berkaca-kaca. Laura menguatkan Naura, mengelus tangan saudara kembarnya. kemudian mengajak Naura berbalik.


Jeremy yang yang akan memainkan ponselnya menoleh ke arah Laura dan Naura, ia merasa ada yang aneh dengan kedua anak didepannya. “Laura ... Naura, kalian tidak apa-apa?” tanya Jeremy. Ia kaget saat melihat mata Laura dan Naura berkaca-kaca.


“Tidak apa-apa, Paman!” kata Laura.


“Paman, bisakah kami, membatalkan untuk memakan es krim?” tiba-tiba Naura ingin pulang, begitupun Laura. Ucapan Nael barusan kembali mematahkan hati kedua anak itu. Stella yang sedang berada di sisi Laura, bangkit kemudian menunduk hormat pada Jeremy.


“ Terimakasih, Tuan. maaf jika kami merepotkan Anda,” ucap Stella pada Jeremi. Kemudian, ia membantu Laura dan Naura untuk turun dari kursi.


Jeremy, tersenyum hangat pada Laura dan Naura. ”Its, oke. Anak-anak. Lain kali, paman akan mengajak kalian makan bersama lagi. Sampikaan salam paman pada ibu kalian.”


Laura dan Naura pun mengangguk, kemudian Laura dan Naura keluar dari restoran tersebut.


Saat Laura dan Naura sudah keluar, mata Nael tak lepas memandang punggung Kedua putrinya yang terus berjalan sambil menunduk.


Biasanya, ia akan tersenyum senang melihat kedua putrinya tersakiti karena ucapannya. Tapi sekarang, ia merasa ada yang dengan hatinya. Nael menggeleng-gelengkan kepalanya, ia tetap mempertahankan egonya yang membenci kedua putrinya. Kemudian, ia menoleh kearah Jordan yang sepertinya sedang meneliti wajahnya.


Saat melihat Nael, Jordan tersenyum samar. “Kenapa kau tersenyum?” tanya Nael.


”Kau pasti sedang cemburu kan karena putrimu dekat dengan lelaki lain?” Goda Jordan, membuat Nael mendekus


“Untuk apa juga aku cemburu, itu bagus. Mereka tak akan pernah datang lagi padaku!”


Jordan mengangkat bahunya acuh. “Terserah kau saja,” ucap Jordan.


Ga komen ga frend hahahah