Dokter Meets CEO

Dokter Meets CEO
Sebuah amarah


“Me-menikah?” ulang Hansel. Ia menatap Jordan dengan tatapan tak percaya.


Saat melihat ekspresi Hansel, Joanna tersenyum getir. Terlihat keterkejutan di mata sang ayah. Joanna tidak terkejut dengan ucapan Jordan yang mengajaknya menikah, karena Joanna pikir, Jordan hanya berkurang-pura, yang membuat ia terkejut adalah ekspresi Hansel, kenapa Hansel harus terkejut, bukankah selama ini Hansel tidak pernah peduli padanya


“Hmm, aku akan menikahi Jona!” Jordan merogoh sakunya, kemudian mengambil dompetnya. Lalu setelah itu, ia mengeluarkan kartu nama.


“Tolong, hubungi aku besok. Ayo kita berbicara berdua!” kata Jordan. Ia memberikan kartu namanya ke hadapan Hansel. Hansel mengambil kartu nama Jordan, dan setelah itu, Jordan menarik tangan Joanna untuk keluar dari store tersebut, meninggalkan Hansel dan putrinya.


Setelah keluar dari store, Jordan langsung membawa Joana ke salah satu cafe. Ia tidak tahu cafe mana yang Joana sukai. Jadi, ia hanya membawa Joana ke cafe yang terdekat di store tersebut.


Jordan menarik kursi, kemudian mendudukan Joana di kursi, begitu pun ia juga ikut duduk di sebrang Joana. Lalu setelah itu, ia pun duduk dan mengangkat tangannya untuk memanggil pelayan.


“Kau ingin memesan apa?” tanya Jordan, Joanna yang sedang melamun tersenyum dengan mata yang membasah. Terlihat jelas, bahwa Joana sedang menahan tangisnya.


“Paman, bolehkah aku memesan semua dessert yang ada di sini?” tanya Joanna, jari-jarinya saling bertautan di bawah sana, ia menahan untuk tidak menangis. Ia ingin memakan sebanyak-banyaknya untuk mengalihkan rasa sedihnya, rasa kecewanya dan lukanya


Jordan mengangguk, kemudian ia mengangkat tangannya, lalu memilih semua menu dessert yang ada di cafe tersebut. Setelah pelayan pergi, Jordan melihat ke arah Joana yang sedang melamun. Ia tahu, pertemuan Joana dan Hansel pasti memberikan banyak luka untuk gadis itu, itu sebabnya saat ini ia membiarkan Joana tenang terlebih dahulu.


15 menit kemudian


Seluruh pesanan dessert yang ada di cafe itu sampai di meja, dan meja itu sekarang penuh dengan pesanan Jordan untuk Joana.


“Joana!” panggil Jordan, lagi-lagi Joana tersenyum, kemudian mengangguk. Lalu setelah itu, ia mengambil dessert di depannya, tanpa melihat lagi ke arah Jordan.


Joana memakan dessert itu dengan sedikit cepat, terkesan rakus dan seperti orang kelaparan. Ia tidak perduli jika orang lain melihatnya dengan aneh, ia hanya ingin melebur rasa sedihnya dengan makanan yang ada di depannya.


Sedangkan Jordan menunduk, karena ia tidak ingin Juana merasa tak nyaman dengan tatapannya, ia tahu gadis di depannya ini butuh waktu untuk melebur amarahnya.


Joanna mengambil tisu kemudian mengelap mulutnya dengan tisu, dessert yang tadi dipesan Jordan semuanya ludes dalam waktu 15 menit. Jordan mengulurkan tangannya, untuk mengambilkan minum untuk Joanna. Hingga Joana pun langsung menerima minum tersebut dari tangan Jordan.


“Paman bisakah kita pulang saja sekarang?” tanya Joana. Ia ingin menumpahkan tangisannya dan menangis sekencang-kencangnya. Rupanya, memakan dessert saja tidak cukup, ada air mata yang mendesak untuk segera dikeluarkan.


Jordan bangkit dari duduknya, kemudian mengulurkan tangannya pada Joanna, setelah itu ia berjalan ke kasir kemudian mereka pun keluar dari cafe tersebut.


•••


“pergilah ke kamarku, istirahat di sana!” kata Jordan setelah mereka sampai di apartemen.


“Bolehkah aku memakai kamarmu Paman?” tanya Joanna, kali ini mata Joana sudah mulai berkaca-kaca. Wajah joana, benar-benar terlihat penuh luka.


“Hmm, pakailah!” kata Jordan, tanpa membalas ucapan Jordan, Joana pun berjalan dengan lesu, kemudian ia langsung pergi ke kamar. Joana menutup pintu, kemudian ia menyadarkan tubuhnya di pintu Lalu setelah itu, tubuhnya merosot ke bawah, dia duduk di lantai sambil memeluk lututnya.


“Mommy ampun ....”


“Mommy cukup .....”


“Mommy hentikan ....”


“Mommy ....”


“Mommy .....”


“Mommy ....”


Joana menutup telinganya, saat ia disiksa oleh Olivia. Semua kekejaman Olivia bertumpu di otak Joana. Hingga rasanya, otak Joana ingin meledak.


Joana membaringkan diri di lantai, ia menangis tanpa suara. Hanya air mata yang mengenang membasahi wajah cantiknya. Nasib Wanita yang kini menginjak 19 tahun, benar-benar buruk.


Ia sudah sedikit tenang, karena dekat Jordan dan bisa terbebas dari Olivia. Tapi nyatanya, ketika melihat sang ayah, rasa sakit itu kembali menghantamnya. Ia ingin menjerit sekencang-kencangnya, karena nasibnya begitu malang.


•••


Setelah Joana pergi ke kamarnya, Jordan mendudukkan diri di sofa. Kemudian ia mengutak-atik ponselnya, dan ternyata ada salah satu anak buahnya yang mengabari bahwa Olivia datang ke apartemen Jordan dan diam-diam selalu menunggu di lobby.


“Teruslah saja mencoba Olivia!” ucap Jordan yang menertawakan kebodohan Olivia. Di balik sikap santai Jordan, Jordan sedang menyiapkan sesuatu untuk Olivia.


••••


Joanna terbangun saat merasakan ada yang mengelus pipinya, ia mengerjap-ngerjap pandangannya, karena tidak percaya saat melihat Jordan tersenyum padanya. Sejenak tangan Joana terulur untuk mengelus pipi Jordan


Jujur saja, Joanna menyangka ini adalah sebuah mimpi. Namun sepersekian detik, kesadaran Joana mulai kembali, saat Jordan menggenggam tangannya. Hingga secepat kilat, ia langsung menjauhkan tangannya dari pipi Jordan.


“Pak-Paman!” Joana bangkit dari berbaringnya, dan melihat ke sekelilingnya. Seingatnya tadi, ia berbaring di lantai. Tapi ternyata sekarang, ia sudah tertidur di ranjang, dan ia menyadari bahwa Jordan menggendongnya.


“Paman, kau menggendongku kemari?” tanya Joanna. Jordan menggangguk, kemudian ia menarik lagi tangan Joana. Hingga Joana kembali berbaring di sampingnya.


“Kau lapar? Aku sudah memesankan makanan untukmu,” tanya Jordan. Joanna menggeleng.


“Tidak, aku tidak ingin apa-apa." Tiba-tiba Joana terpikirkan sesuatu, kemudian ia menatap Jordan. “Paman, kenapa Paman harus berbohong, tentang paman yang ingin menikahiku, Paman membuatku terlihat menyedihkan di hadapan ayahku!" kata Joanna. Hatinya kian pedih saat membayangkan, seandainya ucapan Jordan berbohong.


Jordan terkekeh, kemudian dia langsung menggenggam tangan Joanna, membuat mata Joana membulat


“Pa- paman,”


“Siapa yang mengatakan itu sebuah kebohongan?” tanya Jordan. Joanna menatap Jordan dengan terkejut.


“Maksudmu kau tidak berbohong?” tanya Joanna.


“Aku memang ingin menikahimu!” balas Jordan.


“Paman, kau tidak perlu memaksakan dirimu. Aku berjanji, setelah kondisiku membaik, aku akan mencari pekerjaan dan mengganti semuanya. Aku akan mengganti semua biaya rumah sakit, biaya makanku dan biaya tinggalku!” ujar Joanna, lagi-lagi bulir bening langsung terjatuh dari pelupuk mata gadis itu, membuat Jordan langsung menghapus air mata Joanna.


Jordan menarik dagu Joanna,hingga tatapan mereka saling mengunci. Perlahan, Jordan mendekatkan wajahnya, hingga ...


Cup.


Satu kecupan mendarat di bibir Joana membuat mata Joana membulat, tanpa memberi jeda Jordan langsung menggerakkan bibirnya, untuk melumatt bibir Joana, ia menggoda lidah Joana untuk bergerak.


Ciuman yang tadinya lembut, berubah menjadi ciuman yang menuntut. Higga Jordan melepaskan tautan bibirnya, kemudian ia langsung menindih tubuh Joana dan setelah itu, ia kembali lagi mencium bibir Joana.


Sungguh demi apapun, Jordan tidak ingin melepaskan bibir Joanna, apalagi ia sudah tidak menyentuh wanita selama bertahun-tahun


Saat mereka larut dengan aktivitas yang sedang mereka lakukan, tiba-tiba Joana tersadar, seketika itu juga Joana langsung mendorong dada Jordan, hingga tautan bibir mereka terlepas.


Jordan tertawa saat melihat ekspresi Joana, kemudian ia langsung kembali membaringkan tubuhnya sejajar di samping Joana.


“Sekarang, dengarkan ini. Aku tidak pernah kasihan padamu. Aku tidak pernah mengasihanimu. Aku tidak berbohong tentang pernikahan, karena aku memang ingin menikahimu, melindungimu dan menjadikanmu istriku!” kata Jordan, tatapan matanya begitu penuh ketulusan, menatap Joana dengan tatapan cinta, membuat Joana terpaku.


“Pak-Paman, apa kau mabuk?” tanya Joanna.


“Aku tidak mabuk, Joana! Setahun kau pergi, aku menyadari bahwa aku mencintaimu. Dulu saat aku mengusirmu dari apartemenku, karena aku mempunyai perasaan padamu. Hanya saja aku takut untuk melangkah. Tapi setelah setahun kau menghilang, Aku menyesali semuanya. Dan sekarang, aku ingin mengatakan bahwa aku mencintaimu Joana.”


otak Juana kosong saat mendengar ucapan Jordan, dadanya berdegup dua kali lebih kencang. bahkan wajahnya memerah. Entah dia harus senang, atau harus sedih. Di sisi lain, ia sedih karena baru bertemu ayahnya. Tapi di sisi lain ia senang cintanya terbalas.


Tidak, Joana tidak ingin memikirkan apapun lagi, detik itu juga Joanna berhambur memeluk Jordan , ia memeluk Jordan begitu erat, membuat Jordan menghela nafas lega, kala oa sudah mengungkapkan perasaannya.


•••


“Kenapa kau memasak, Aku kan sudah memesan makanan?" tanya Jordan saat menghampiri Joana di dapur.


Joana yang sedang menyimpan sayuran menoleh .


“Paman sudah bangun rupanya." balas Joana, karena memang, setelah mereka saling mengungkapkan perasaan satu sama lain, Jordan tertidur. ”Aku ingin memasak saja untuk paman!” kata Joanna.


Jordan menarik kursi, kemudian mendudukkan diri di depan Joanna, ia melihat wajah Joana lekat-lekat. Baru saja tadi ia melihat senyuman di wajah Joana. Tapi kenapa kali ini wajah Joana kembali murung.


“Apa ada yang mengganggu?” tanya Jordan, Joana menatap Jordan.


“Paman maaf, tadi aku lancang mengangkat panggilanmu.”


“Ada yang meneleponku?” tanya Jordan,


.Joana mengangguk. “Hmm, ternyata yang menelepon paman adalah ayahku.”


“Lalu apa katanya?” tanya Jordan lagi.


“Dia mengatakan, tidak bisa berbicara dengan paman, karena akan kembali lagi ke luar negeri.”


Sekarang Jordan mengerti, kenapa wajah Joana murung. “Lalu kau menjawab apa?” tanya Jordan.


“Aku meminta waktu Ayah untuk makan bersamaku. Bolehkah aku pergi bersama ayahku?”


“Apa dia setuju?”


“Hmm, dia setuju, walaupun aku tahu dia keberatan.”


”Joana, kau tidak perlu memaksakan dirimu.”


“Tidak paman, aku hanya ingin makan berdua saja dengan ayah, sekali ini saja. Karena aku tidak tahu kapan lagi bertemu ayah.”


Keesokan harinya


“Kau berjanji di sini dengan ayahmu?" tanya Jordan. Saat ia sudah berada di luar restoran.


“Hmm, aku berjanji dengan ayahku di restoran ini!” Jordan tampak melihat ke sekelilingnya, di mana ada orang-orangnya yang akan menjaga Joana. Dia tidak bisa bersama Joanna, karena dia harus melakukan meeting di kantor.


“Ya sudah, kau tidak perlu khawatir, ada orang-orangku yang berjaga di sekitarmu!” Joana pun menggangguk. Saat Joana akan turun, Jordan mengunci pintu, membuat Joana menoleh.


“Paman ...”


Secepat kilat, Jordan menarik tengkuk Joana, kemudian ia langsung mencium bibir Joana sekilas, membuat pipi Joana memerah. Lalu setelah itu, Joana pun turun dari mobil Jordan lalu berjalan masuk ke dalam restoran.


Saat masuk ke dalam restoran, Joana melihat ke sekelilingnya, mencari sang ayah dan saat melihat ayahnya, akhirnya Joanna menghampiri Hansel.


“Ayah!” Panggil Joana.


Seperti biasa, Hansel menatap Joana dengan dingin, tanpa ada rasa bersalah sama sekali. Joana menggigit bibirnya, saat melihat ekspresi Hansel yang tetap sama. Ia pun menarik kursi, kemudian mendudukan dirinya.


“Cepat pesan makananmu, waktu ayah hanya tinggal 10 menit lagi, Ayah harus segera terbang ke bandara!”


Hampir saja bulir bening langsung terjatuh dari pelupuk mata Joanna saat mendengar jawaban Hansel yang sangat dingin dan tidak berperasaan, dan terdengar seperti malas.


Padahal seumur hidupnya, ini pertama kalinya Joanna meminta sesuatu pada Hansel. Setidak berharga itukah dia di mata ayahnya.


Hansel memanggil pelayan. Lalu setelah itu, Hansel mengambil buku menu di tangan pelayan tersebut. Lalu melemparkannya ke depan Joana, membuat joana langsung memejamkan matanya karena terkejut.


Sungguh, Joana ingin sekali pergi dari hadapan sang ayah. Tapi rasanya, kakinya berat untuk melangkah, karena untuk pertama kalinya ia bisa makan dengan sang ayah.


Dengan tangan gemetar, Joanna pun membuka buku menu tersebut, kemudian ia memilih menu paling atas, karena ia tidak sanggup lagi untuk memilih. Apalagi, ia sedang menahan tangisnya agar tidak pecah.


Setelah memesan makanan, Hansel fokus dengan ponselnya, sedangkan Joanna hanya mampu terdiam, ia menunduk karena rasanya begitu menyakitkan saat melihat ayahnya fokus dengan ponsel, tanpa menanyakan keadaannya.


Padahal Ia tahu akan seperti ini. Tapi tetap saja rasanya ini begitu menyakitkan.


Tak lama, Hansel Hansel melihat jam di pergelangan tangannya kemudian ia menegakkan tubuhnya. “Ini sudah 10 menit berlalu, Ayah tidak bisa menemanimu lagi, karena Ayah takut ketinggalan pesawat. Kau bisa kan memakan makananmu sendiri?”


lagi-lagi Johanna hanya mampu menatap ayahnya dengan getir, makanannya saja belum tiba, tapi sekarang Hansel malah meninggalkannya.


Tanpa mendengar jawaban Joana. Hansel pun bangkit, kemudian merogoh saku lalu mengambil dompet dan meninggalkan selembar uang di meja untuk membayar makanan yang Joanna pesan, dan tanpa perasaan. Hansel berbalik kemudian meninggalkan Joanna tanpa menoleh lagi kebelakang.


Hansel masuk ke dalam mobilnya, kemudian ia langsung jalankannya untuk menuju bandara di mana keluarganya sudah menunggu di sana, karena memang dia segera terbang untuk kembali ke luar negeri


Hansel mengendarai mobilnya dengan kecepatan yang sedikit kencang, beberapa kali ia melihat ke arah jam di tangannya. Ia sungguh takut, tertinggal oleh pesawat, apalagi istrinya terus meneleponnya.


Ckittt


Tak lama, Hansel mengerem mobilnya secara mendadak, kala ada mobil yang menghadang laju kendaraanya.


Hansel mengerutkan keningnya saat melihat seorang lelaki turun dari mobil yang menghadangnya, seorang lelaki, membawa map coklat berjalan ke arahnya.


Lagi ga semangat, karena komennya dikit banget yok lah gengs gas komen


Gans ini.walaupum satu bab tapi panjang ya