
Nael menghentikan langkahnya, ketika melihat Gabby keluar dari lift, sedangkan Grisella langsung menoleh ketika Nael memanggilnya dan ingin memberikan kunci mobil padanya.
Gabby yang baru saja keluar, langsung menoleh ke arah Nael. Namun tak lama, ia memalingkan tatapannya ke arah lain. Lalu setelah itu, ia berlalu berlalu melewati tubuh Grisella karena ia tidak tahu wanita yang ada didepannya ini adalah ibu Nael.
“Nona Gabby!” Panggil Grisela, membuat Gabby menghentikan langkahnya. Lalu, ia menoleh kearah Grisela, sedangkan Nael memejamkan matanya. Lalu mengusap wajah kasar, karena tahu apa yang akan dilakukan oleh sang ibu.
“anda memanggil saya?” tanya Gabby.
“ Bolehkah Aku berbicara denganmu?” tanya Grisella.
“Mom!” Nael memanggil Grsella dengan Sedikit keras, sehingga Gabby menoleh. Lalu, menatap Grisella dan Nael secara bergantian. Ia baru menyadari bahwa Nael dan Grisella begitu mirip. Sekarang Gabby tau, Siapa wanita yang ada di depannya ini.
Gabby berusaha untuk tersenyum pada Grisell. “Maaf, saya tidak tahu apa yang ingin anda bicarakan. Tetapi jika menyangkut tentang calon anak saya, saya rasa sudah tidak ada kaitannya lagi dengan Nael,” ucap Gabby dengan Tegar. Ada tangis yang mendesak untuk dikeluarkan, ketika mengingat Nael yang tidak mau mengakui anak ini, sekalipun Gabby tahu, sedari awal Nael memang tidak pernah menginginkan kedua anaknya.
“Tidak ... aku tidak ingin membahas tentang itu, aku hanya ingin berbicara denganmu. Bisakah aku meminta waktumu sebentar, Nona Gaby?” ucap Grisella.
“Mom!” Nael memanggil ibunya dengan nada keberatan. Ia tidak ingin sang Ibu berbicara dengan Gabby. Tatapan Nael padanya, tentu saja itu menambah rasa sakit yang dirasakan oleh Gabby. Tak bisakah, Nael sedikit bersikap baik padanya. Ia merasakan betul bahwa Nael menatapnya dengan tatapan benci.
Gabby tanpak melihat ke arah nael, kemudian melihat lagi ke arah Grisela. “Baiknya, Nyonya. Silahkan ikut saya Mungkin kita bisa bicara di apartemen adik saya.”
Kini, semua sudah terduduk di sofa, Grisela duduk dengan Nael sedangkan Gabby duduk di sofa berseberangan dengan Grisella dan Nael. Mereka saling terdiam, Gabby menunduk sedangkan Nael tampak duduk dengan gaya yang angkuh.
Gisella yang masih terdiam, kemudian menatap ke arah Gabby. “Nona, Gabby!” Panggil Grisella. Gabby yang sedang menunduk, kemudian menoleh kearah Grisella, lalu tersenyum.
“Ya, Nyonya ada apa? apa ada yang ingin anda katakan pada saya?” tanya Gabby.
Gabby menatap Nael, hingga pandangan mereka saling beradu. Hati Gabby terasa nyeri, ketika Nael menatapnya dengan tatapan benci bercampur malas. Tak lama, Gabby memalingkan tetapannya kearah Grisella.
“Apakah benar yang Nael katakan, bahwa kau tidak ingin Nael bertanggung jawab atas kandungan mu?” tanya Grisella pada Gabby.
“Mom, sudah kubilang. Dia memang tak ingin aku bertanggung jawab, aku juga tidak bersalah di sini!” kata Nael yang tiba-tiba memotong ucapan Grisella sebelum Gabby menjawab pertanyaannya.
“Tutup mulutmu, Nael!” kata Grisella membuat Nael berdecih, tentu saja ekspresi Nael tak luput dari penglihatan Gabby. Hingga rasa sakit yang di rasakan Gabby semakin menjadi-jadi.
••••
Gengs aku up 3 bab. Maaf ya, baru bisa up sekarang, qodarullah, anakku dua duanya aku dan suamiku drop. Kami sekeluarga sakit barengan, ini aja ngetik sambil menggigil. Doain ya, biar cepet sembh.