Dokter Meets CEO

Dokter Meets CEO
Nuader Yang Malang


“Naura kenapa kau melempar bantal padaku?” tanya Alvaro ketika Naura melemparkan bantal padanya.


Bukannya menjawab, Naura malah mengencangkan tangisannya wanita itu ingin menangis sekencang-kencangnya saat mendengar ucapan Alvaro, sia-sia selama ini dia merasa sedih dan dia merasa terbebani dengan perasaannya. Tapi ternyata, Alvaro Masih mencintainya, Alvaro masih ada di sampingnya dan Alvaro belum menikah.


“Naura ... Naura, kau kenapa?” Alvaro langsung panik saat mendengar Naura menangis, ia takut orang lain menyalah artikan tangisan Naura.


“Naura berhenti menangis, tangisanmu terdengar sampai keluar sana,” sambung Alvaro lagi. Tangisan Naura semakin mengencangkan saat mendengar ucapan Naura. Dia malah menggunakan kakinya untuk menendang tubuh Alvaro, sedangkan Alvaro merasa heran dengan apa yang dilakukan oleh wanita di depan ini.


“Kau jahat Alvaro, kau jahat!” teriak Naura, dia malah berteriak seolah melampiaskan apa yang dia rasakan.


“Naura cukup!” Alvaro langsung memegang kaki Naura agar Naura tidak menendangnya lagi.


“Naura!” teriak Alvaro, percuma Jika dia berbicara pelan pada Naura karena Naura malah akan terus menangis dan terus menendangnya hingga Naura terdiam.


“Ka-kau meneriakiku?” tanya Naura, seketika Alvaro tersadar dia langsung dilanda kepanikan.


“Tidak, bukan begitu maksudku. Kau kenapa, katakan padaku jangan seperti ini. Mana ku tahu apa yang kau rasakan jika kau terus mengamuk.”


Seketika Naura terdiam kemudian ia menutup seluruh tubuhnya dengan selimut.


“ Aku benci kau, Alvaro!'


Saat Alvaro akan berbicara lagi, Alvaro terdiam saat mendengar ucapan Naura yang membencinya walaupun Naura mengucapkan itu dengan makna yang sebaliknya. Namun bagi Alvaro Naura benar-benar membencinya. Padahal Naura hanya ingin meluapkan kekesalannya.


Saat tidak ada suara lagi dari Alvaro dan pergerakan lagi dari lelaki itu, Naura mengintip iya mengerutkan. keningnya saat Alvaro sedang melamun. Kenapa tiba-tiba lelaki itu terdiam. Hingga Naura membuka selimutnya.


“ Alvaro, Kau kenapa?” kali ini Naura berbicara dengan nada yang lembut tidak seperti tadi hingga Alvaro tersadar.


“Tidak, aku tidak apa-apa,” jawab Alvaro. Wajahnya membuat Naura benar-benar bingung.


“ Naura aku harus menelpon seseorang,” ucap Alvaro. Naura mengerti ada yang salah dengan Alvaro, hingga dia bertanya.


“Alvaro apa aku menyakitimu?” tanya Naura.


“Tidak, kau tidak menyakitiku hanya saja aku yang terlalu berharap ternyata kau masih membenciku.” Sekarang Naura mengerti dengan apa yang dirasakan oleh Alvaro, hingga dia langsung berusaha bangkit walaupun kepalanya terasa cenat-cenut.


“Alvaro tunggu!” kata Naura ketika Alvaro sudah berbalik dan berniat berjalan, perasaan Alvaro sekarang campur aduk dia sudah memberanikan diri untuk jujur pada Naura, tentang dia yang belum menikah tapi ternyata ia malah harus mendengar bahwa Naura membencinya.


“Istirahatlah Naura. Aku akan kembali sebentar lagi.”


tiba-tiba Brug, Alvaro langsung menoleh ke arah belakang saat mendengar suara yang cukup keras, mata Alvaro membulat saat melihat Naura jatuh dari berangkar, bahkan jarum infusan langsung tercabut hingga Alvaro langsung berlari ke arah Naura kemudian langsung mengangkat tubuh Naura brangkar.


Naura meringis ia langsung menunduk karena kepalanya terasa nyeri. “Kau tidak apa-apa? Mana yang sakit? Sebentar aku akan panggilkan dokter." aat Alvaro akan bangkit, tiba-tiba Naura menarik tangan Alvaro.


“kau ingin meninggalkanku lagi?” tanya Naura


“ Aku ingin memanggilkan dokter.”


“Bukan itu yang aku maksud?”


“Lalu apa?”


“Kenapa kau tidak peka sekali!”


“Jika aku mengatakan aku membencimu, aku tidak benar-benar membencimu Apa kau mengerti!” helaan nafas terlihat dari wajah tampan Alvaro.


“Jadii singkatnya bagaimana?”


“Aku mencintaimu bodoh!” Naura berteriak, dia menghilangkan seluruh gengsi rasa dan malu. Alvaro malah tertawa mendengar ucapan Naura, hingga Naura langsung menatap Alvaro dengan bingung.


“Kenapa kau berbohong Naura?" tanya Alvaro karena memang dia benar-benar tidak percaya Naura menyimpan perasaan padanya.


“Apa terlihat berbohong?” Seketika Alvaro terdiam, dia menatap wajah Naura lekat-lekat tubuhnya dia mematung.


“jadi maksudmu kau serius?” tanyanya.


“Hmm, aku serius dan aku ....”


Tiiba-tiba Naura menghentikan ucapannya saat Alvaro menarik tangannya dan membawanya ke dalam pelukannya, tak lama Naura tersentak kaget saat merasakan bahu lelaki itu bergetar Bahkan tak terdengar isakan dari Alvaro, Ia juga merasa Alvaro memeluknya semakin erat hingga ia kesulitan untuk bernafas.


“Alvaro, kau kenapa?” tanya Naura. Alvaro tidak menjawab ia malah memeluk Naura semakin erat hingga Naura benar-benar tidak mempunyai celah untuk bernafas. Namun Naura tidak protes dia membiarkan Alvaro memeluknya dengan erat


10 menit kemudian, akhirnya Alvaro sudah bisa menguasai diri dia melepaskan pelukannya dari Naura kemudian lelaki itu menatap ke arah wanita yang ia cinta. “Aku tidak bermimpi kan, aku tidak salah dengar?”.ucap Alvaro kali ini Alvaro seperti seorang anak yang bertanya pada ibunya, wajahnya benar-benar penuh ketulusan


Naura menggerakkan tangannya kemudian menghapus air mata Alvaro. “Aku tidak bohong aku mencintaimu Alvaro,” lirihnya.


Alvaro menangkup pipi Naura, kemudian menempelkan kening mereka hingga mereka menangis harus.ecara bersama-sama.


“Ahh!” tiba-tiba Naura meringis ia merasakan kepalanya nyeri karena Alvaro menempelkan kening mereka, hingga Alvaro tersadar.


“Kepalaku sakit.”


“Tunggu Sebentar aku akan memanggilkan dokter!”


Nauder langsung menyingkir ketika Alvaro akan keluar dari ruang rawat Naura. Ya, sedari tadi Nauder mengintip dia melihat pemandangan di dalam ruang rawat Naura, termasuk mendengar semua percakapan mereka.


Awalnya Nauder tidak ingin pergi ke rumah sakit..namun hati kecilnya meronta-ronta, dia ingin melihat kondisi Naura walaupun dari jauh. Nauder merasa bersyukur ketika kondisi Naura baik-baik saja. Namun tak dipungkiri hatinya terasa nyeri saat mendengar dan melihat apa yang Naura dan Alvaro lakukan


Nauder langsung berbalik saat Alvaro keluar dari ruang rawat Naura, ia tidak ingin Alvaro melihatnya. Setelah itu Nauder pun langsung berjalan ke arah luar untuk pergi keluar dari rumah sakit.


Nauder mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang, bayang-bayang pengakuan cinta Naura pada Alvaro terngiang-ngiang di otaknya. Tak lama Nuader kembali meminggirkan mobilnya, kemudian menghentikannya sejenak dia merasa tubuhnya lemas tidak bertenaga.


Ponsel di saku Nauder berdering menyadarkan Nauder dari lamunannya, hingga lelaki itu langsung merogoh saku kemudian melihat Siapa yang menelponnya, terpampang nama Elsa di layar


“Tuan, kapan kau akan kembali?” tanya Elsa.


“kau ini cerewet sekali, memangnya apa urusan mu kembali atau tidak!” Nauder masih terbawa kesal karena ia merasakan rasa sedih akibat ungkapan Naura dan Alvaro tadi, ia bahkan menaikkan nada suaranya.


“Kau memarahiku?” tanya Elsa.


“Tutup mulutmu Elsa. Aku sedang tidak ingin diganggu,” jawabnya


” Ya sudah kalau begitu, aku tidak peduli aku akan keluar dari perusahaanmu sekarang juga.” setelah mengatakan itu Elsa pun langsung menutup panggilannya, membuat Nauder tersadar. Dengan cepat, Nauder pun menjalankan kembali mobilnya untuk ke perusahaan.


Namun Baru beberapa menit berlalu, Nauder menyadari sesuatu. “tunggu kenapa aku jadi menurut padanya!”