Dokter Meets CEO

Dokter Meets CEO
Rencana Naura


Alvaro menggeleng saat melihat istrinya kembali merajuk hingga dia pun langsung menyusul Naura untuk pergi ke kamar dan tepat saat masuk, ternyata Naura sudah duduk di sofa sambil membelakangi pintu hingga Alvaro langsung menyimpan tas kerjanya dan langsung menghampiri Naura.


“Sayang, lihat aku. Katakan apa yang kau rasakan, Kenapa kau tidak boleh membiarkan Ameera berpacaran?” tanya Alvaro, dia berbicara dengan lemah lembut seraya membelai rambut Naura, hingga akhirnya amarah wanita itu pun hilang begitu saja karena sikap Alvaro yang lemah lembut, hingga akhirnya Naura pun berbalik.


”Kau tidak menyayangiku kau tidak pernah sependapat denganku tentang Ameera.’


selalu kata-kata itu yang Naura ucapkan. Bagaimana mungkin Naura mengatakan hal seperti itu pada suaminya padahal jelas-jelas suaminya selama ini selalu memberikannya cinta pada keluarga mereka.


Alvaro menarik lembut tangga Naura, kemudian menggenggamnya lalu mengelus punggung tangan Naura dengan ibu jarinya. “Sayang katakan, Kenapa kau tidak setuju Ameera berpacaran?” tanya Alvaro. Naura pun mengatakan sejujur yang di rasakan, dia takut, Ameera terjerumus ada hal yang negatif


“Sayang walaupun aku sibuk bekerja. Aku selalu memperhatikan Ameera, aku juga selalu memperhatikan kalian semua. Kau tidak perlu khawatir. Sudah oke, jangan diperpanjang lagi.” Alvaro merangkul tubuh Naura, hingga Naura pun langsung maju lalu memeluk pinggang suaminya.


“ Aku mandi dulu.”


" Tidak boleh kau tidak boleh mandi sudah seperti ini saja,” Jawab Naura hingga Alvaro mencium kening Naura bertubi-tubi. Satu tangannya mengelus perut Naura


“Apa Naysa belum pulang?" tanya Alvaro yang menanyakan Putri keduanya.


“Belum dia sedang les balet.”


“Oh ya sudah, biar aku saja yang menjemputnya.«


“Tidak boleh, biarkan Nesya pulang bersama sopir, kau di sini saja bersamaku. Kau sibuk sekali kemarin, kau juga tidak memelukku semalam. Aku kesal padamu.” Naura menggerutu membuat Alvaro terekekeh.


“Ya sudah aku mandi dulu. Setelah itu aku akan menemanimu,” ucap Alvaro.


“Kau tidak mengajakku mandi bersama?” tanya Naura, membuat Alvaro tertawa.


***


Ameera mondar-mandir di kamarnya, padahal Ia ingin rahasiakan bahwa dia bolos sekolah dan dan dia sudah berpacaran dengan seorang lelaki. Dia ketahuan gara-gara Naysa, adiknya yang satu sekolah dengannya yang juga bersekolah di sekolah yayasan milik ayahnya.


Naysa mengatakan bahwa tidak melihat Ameera di sekolah, tentu saja Naura langsung bertanya pada gurunya, hingga dia ketahuan.


“Dasar anak kecil menyebalkan,” ucap Ameera yang mengingat tingkah adiknya. Seketika dia


pun teringat sesuatu.


Ameera dengan cepat pergi ke arah tasnya, dia menyimpan semua pretelan konser yang kemarin ia beli bersama kekasihnya, bisa habis jika semuanya disita oleh sang Ibu.


Tak lama terdengar suara derap langkah membuat Ameera dengan cepat menyembunyikan semuanya hingga, dan pintu terbuka muncul sosok sang ayah masuk ke dalam kamarnya.


“Apa Daddy mengganggumu?’ tanya Alvaro Ameera menggeleng.


“Duduk di sana, Daddy ingin berbicara denganmu.” Ameera pun mengangguk, Gadis remaja itu langsung mendudukkan diri di sofa sedangkan Alvaro berdiri dan menatap putrinya dengan bersidekap.


“Apa benar kau sudah berpacaran?” tanya Alvaro yang memastikan.


“Hmm, aku sudah berpacaran. Tapi apa salahnya aku sudah remaja, aku berhak menyukai lawan jenisku. Apa Daddy mau aku menyukai sesama jenis?” ucap Ameera


“Mulutmu Ameera," ucap Alvaro hingga Ameera menunduk


“Tidak, dia anak yang patuh akulah yang mengajaknya untuk pergi ke konser." Alvaro menggeleng saat melihat tingkah putrinya dia benar-benar seperti Naura yang selalu blak-blakan.


“Kau boleh berpacaran tapi tidak di luar batasanmu, kau sudah remaja seharusnya kau tahu mana yang baik dan mana yang tidak,”


“ Ya tentu, aku tau, mana mungkin aku tidak tahu,” jawabnya.


“Jika kau tahu kenapa kau membolos.”


“Oh, itu ....aku tidak sengaja,” ucapnya lagi-lagi Alvaro memejamkan matanya setiap dia berdebat dengan Ameera, selalu saja putrinya mempunyai jawaban.


“Oke, Daddy pegang kata-katamu untuk terakhir kalinya kau membolos di sekolah, kau boleh bermain dengan kekasihmu tapi tidak di luar, baha dia kemari, di sini juga banyak sekali spot untuk kalian sekedar mengobrol kau mengerti?” tanya Alvaro .


“Tidak, aku tidak mengerti kenapa aku harus berkencan dengan kekasihku di sini, dia akan merasa tertekan.”


”Astaga Ameera.” Alvaro geleng karena kelakuan putrinya dia benar-benar seperti Naura


“Apa kau ingin uang bulananmu Daddy cabut?”


”Tidak ...Tidak , aku tidak aku akan menurut.”


***


“Dad, aku ingin berbelanja pakaian bayi, tidak apa-apa kan aku pergi tanpamu?" tanya Naura ketika mereka sedang sarapan..


Alvaro tampak berpikir. “Sayang, kenapa Kenapa tidak pergi besok saja, besok aku libur Jadi aku akan menemanimu.”


“Tidak ... tidak, aku ingin pergi bersama Sayra, dia juga ingin membeli perlengkapan bayinya.”


“Ya sudah kalau begitu.”


Acara sarapan pun selesai, Naura pergi ke luar untuk mengantar Alvaro, sedangkan Ameera dan Naesa sudah pergi terlebih dahulu bersama sopir.


Dan kali ini setelah Alvaro pergi, Naura yang bersiap karena dia harus pergi bersama Sayra berbelanja pakaian bayi.


“Sayira Kenapa kau mengajakku kemari?” tanya Naura.


“Memangnya kenapa, Mall ini baru dan sangat lengkap, barang-barangnya pun pasti masih sangat bagus.”


“Masalahnya ini mall milik Nauder.”


“Kau serius?” tanya Naura dengan tatapan tak percaya.


Saat Naura akan membalas lagi, tiba-tiba Sayra langsung menyikut tangan Naura, hingga Naura menoleh lalu setelah itu Naura mengikuti tatapan Sayra. Ternyata, Nauder sedang berjalan dengan seorang wanita yang tak lain adalah model yang menjadi brand ambassador mallnya.


“Tunggu, apa mantan suamimu berulah lagi?” tanya Sayra.


“ Sepertinya begitu, dia memang tidak cukup dengan satu wanita. Mungkin dia akan menyesal ketika dia merasa kehilangan. Jika dia berulah lagi, aku akan menjodohkan Elsa dengan Damian, bukankah terlihat jelas bahwa Damian menyukai Elsa" ucap Naura karena memang Naura dan Elsa pun cukup dekat, apalagi mereka tergabung dalam grup sosialita yang sama.


“Ide yang bagus.”