
keesokan harinya
Ayana mematut diri di cermin, ia memastikan tampilannya sudah rapi. Wajahnya memang masih sedikit sembab, tapi tidak terlalu terlihat bahwa ia habis menangis, apalagi di tambah polesan make up yang tipis.
Saat ini, ia sedang bersiap untuk pergi ke kantor dan sepertinya ia akan menghadapi hukuman dari Raymond, karena walau bagaimanapun ia telah membuat Raymond malu, ia yakin Raymond tidak akan melepaskannya begitu saja
Setelah bersiap dan memastikan tampilannya rapih, Ayana berbalik kemudian ia keluar dari kamarnya dan menghampiri Moa yang sedang sarapan.
“Mommy, apa Mommy baik-baik?” tanya Moa, sebab iya tahu sang ibu menangis semalaman. Bahkan ia tidak bisa tertidur, karena terus mendengar tangisan sang ibu.
Ayana mengelus rambut Moa. “Maafkan Mommy, karena mommy kau juga tidak bisa tidur semalaman,” jawab Ayana. Moa menggeleng. “Aku akan tidur di sekolahku nanti,” ucapnya lagi yang buat Ayana terkekeh, kemudian ikut sarapan bersama Moa.
•••
Ayana menghela nafas kemudian menghembuskannya. Ini sudah 10 menit berlalu, ia berdiri di depan ruangan Raymond dan 10 menit itu pula Ayana merasakan ketakutan yang luar biasa.
dann setelah berada di depan ruangan Raymond, Ayana tidak berani masuk. Jujur saja, ia masih trauma ia takut Ray akan menghukumnya. Ayana menghela nafas kemudian menghembuskannya, lalu ia pun memutar gagang pintu dan masuk ke dalam.
“Anda memanggil saya Tuan?” tanya Ayana, sebisa mungkin ia menatap Ray dan tidak menunduk.
Ray menatap wajah Ayana lekat-lekat, ia menyipitkan matanya. Lihatlah, wanita di depannya ini seperti tidak terpengaruh atas kejadian semalam dan itu membuat Rai kesal.
bukankah seharusnya Ayana protes,.atau Ayana mengatakan sesuatu.
“Kau tidak ingin mengatakan apapun padaku?” tanya Ray, ia merasa greget sendiri dengan sifat Ayana. Ayana menggigit bibirnya, kemudian ia menghela napas sedalam-dalamnya.
Raymond menggertakkan giginya saat mendengar jawaban Ayana, kenapa wanita di depan ini begitu lemah, mau saja ditindas oleh orang lain bahkan ayahnya meminta maaf atas kesalahan yang tidak diperbuat dan itu membuat Raymond benar-benar kesal
“Kau yakin siap menerima hukuman apapun dariku?” tanya Raymond, Ayana bergidik. Namun, ia mengakuk.
“Duduk!” titah raymon, membuat Ayana mengangkat kepalanya menatap Raymond dengan bingung. Namun, setelah itu mendudukkan dirinya tanpa bertanya lagi pada Raymond..
Raymond mengangkat gagang telepon, kemudian menelepon seseorang. “Tolong pesankan mie yang super pedas untukku,” ucap Raymond pada seseorang yang ia telepon.
jantung Ayana berdetak dua kali lebih cepat saat mendengar perintah Raymond pada seseorang. Sepertinya ia mengerti apa hukuman yang akan Raymond berikan padanya.
20 menit berselang, pintu ruangan Raymond diketuk. Muncul seseorang membawakan pesanan Raymond, hingga Raymond pun mempersilahkan orang itu masuk.
Sedangkan wajah Ayana sudah pucat, karena ia membayangkan apa yang akan terjadi ke depannya. Tapi mau tak mau ia harus melakukan hukuman dari Raymond, walau bagaimana pun, ia tidak ingin kehilangan kehilangan pekerjaannya. Dan dia takut Raymond memecatnya.
Setelah mie tersaji. Raymond bangkit dari kursi kerjanya, kemudian ia menghampiri Ayana yang duduk di sofa.
“Makan itu di dan habiskan!” ucap Raymond Ayana mengangguk, lagi-lagi membuat Raymond menggeram kesal. Kenapa wanita di depan ini sama sekali tidak melawan. Padahal ia ingin Ayana menolak perintahnya.
Dengan tangan yang bergetar, Ayana mengambil sendok, kemudian ia mulai menyuapkan makanan itu ke mulutnya.
••••