
Gabby menutup mulut saat mendengar ucapan Arsen pada Kristine. Ia yang baru saja menyelesaikan kegiatan dengan Nael benar-benar tak menyangka, bahwa Arsen berkata seperti itu pada Kristine.
Tiba-tiba, otak Gaby kosong. “Bagaimana mungkin menikahi lelaki seperti itu!” Gaby membatin dalam hati, ketika ia mulai mengetahui Arsen yang sebenarnya. Bahkan Arsen dengan lantang menyuruh Kristine untuk menggugurkan kandungannya.
Nael yang sudah merapikan dirinya, langsung menoleh ke arah Gabby, ia menepuk pundak Gabby. “Gabby, kau tidak apa-apa?" tanya Nael. Seketika itu juga, Gabby langsung memeluk Nael, membuat Nael terpaku, seperti ada yang aneh dengan hatinya.
“Gabb kau kenapa?” tanya Nael, saat tubuh Gabby bergetar dan Gabby menangis di pelukannya. Gabby masih tak menyangka, ternyata selama bertahun-tahun ia hidup bersama seorang monster.
Dan jujur saja, ini semakin menambah kesakitan yang dirasakan ia olehnya. Selama bertahun-tahun. Ia mencintai Arsen dengan tulus. Tapi yang terjadi, Arsen menikahinya hanya untuk merongrongnya, dan sekarang ia mengerti kenapa Arsen tega diam-diam memberikan pil KB padanya.
Nael mengusap punggung Gaby, membiarkan Gabby tenang dalam pelukannya. Ia rasa, ia mengerti apa yang terjadi oleh Gaby, karena ia pun mendengar apa yang diucapkan Arsen pada Kristine.
satu bulan kemudian
Arsen terus mondar-mandir di depan ruangan Nael. Sedari tadi, ia sudah menunggu. Namun, setela dua jam berlalu. Nael tidak kunjung keluar dan beralasan sedang ada tamu. Padahal, tanpa Arsen tahu, Gabby dan Nael sedang memadu kasih di dalam.
Selama sebulan ini, setelah mendengar Arsen menyuruh Kristine untuk mengugurkan kandungannya. Gabby memutuskan untuk tinggal di apartemen Gisel. Ia benar-benar muak bertemu dengan Arsen.
“Kenapa dia lama sekali. Apa ada tamu penting di dalam. Bukankah meeting kita harusnya berjalan sedari tadi?” tanya Arsen pada sekretaris Nael. Sekretaris Nael mengangkat bahunya, “,Saya tidak tahu. Saya akan mencoba menghubungi tuan Nael lagi."
“Aku sudah menunggumu sedari tadi, cepat buka pintu dan jangan menyia-nyiakan waktu ku jika tidak ....” ucapan Arsen terputus, ketika mendengar suara Gabby yang berbicara pada Nael. Ia yakin, itu adalah suara istrinya.
Tiba-tiba, ia menatap sekretaris Nael. “
Apakah adalah wanita di dalam?” tanya Arsen pada sekretaris Nael. Sekretaris Nael terdiam pertanda mengiyakan ucapan Arsen.
Seketika Arsen langsung berlari ke arah pintu ruangan Nael, emosi Arsen sudah di ubun-ubun. Ia tidak bisa lagi berpikir jernih. Ia sudah 2 jam menunggu dan selama 2 jam itu berarti Gabby ada di dalam.
“Buka! jika tidak, aku akan mendobrak pintu ini!” teriak Arsen. karena tidak ada jawaban. Akhirnya, Arsen mengambil stik golf yang ada di sisi pintu, Kemudian ia memecahkan kaca jendela Nael. Setelah itu, ia pun langsung masuk lewat jendela tersebut.
Saat masuk, mata Arsen membulat, ketika melihat Gaby sedang duduk di sofa dan menyender di bahu Nael sambil menyilangkan kakinya dan menatapnya dengan santai
“Ga-Gabby.” wajah Arsen sudah pucat saat melihat istrinya duduk dan menyender di bahu Nael. Lututnya melemas saat melihat leher Gabby di penuhi tanda merah. Apalagi Gabby mengikat rambutnya.
“Ga-Gabby, apa yang kalian lakukan!” Arsen berucap dengan lirih, Nael yang sedang merangkul pundak Gabby menyeringai, begitu Gabby yang menatap Arsen dengan santai.
Gabby ....