Dokter Meets CEO

Dokter Meets CEO
Memohon Ampun


“Maafkan aku, Mommy. Maafkan aku,” ucap Nael tangisnya semakin luruh saat Grisella sama sekali tidak meresponnya. Padahal, ia berharap sang ibu akan mengelus rambutnya dan menenangkan dirinya. Tapi ternyata tidak, sekarang iya mengerti bagaimana rasanya di posisi putrinya kedua putrinya.


Ia mengerti bagaimana sakitnya menjadi Laura dan Naura dan sekarang Ia pun merasakannya, ketika semua orang mengabaikannya. “Mommy!” Nael mendongak, ia menatap Grisella sedangkan Grisella memalingkan tatapannya ke arah lain, karena enggan untuk melihat putranya.


“Pergilah Nael dari sini, jangan memperkeruh keadaan. Biarkan kedua putrimu tenang di sini.” Tiba-tiba, tubuh Nael melemah saat mendengar ucapan sang ibu. Ia seolah Ia seperti dikuliti oleh semua keluarganya. Tidak ada yang mendukungnya. Benar kata Jordan, saat menyesal tidak akan ada seorang pun yang di sampingnya. Hingga ia harus berjuang seorang diri untuk menggapai hati kedua putrinya dan mendapatkan Maaf dari Laura dan Naura.


“Mommy!” Nael hanya mampu memanggil sang ibu, kemudian ia kembali menaruh wajahnya di paha Grisella. “Bukankah ini yang kau mau? bukankah ini yang kau inginkanl? sekarang semuanya sudah terwujud, Laura dan Naura sudah tidak lagi mau melihatmu dan juga sekarang kau bebas dengan kehidupanmu. Jadi untuk apa kau menangis?” tanya Grisella, hingga tak mampu menjawab, ucapan sang ibu benar-benar menusuk ke hati Nael. Hingga tangisan Nael semakin mengencang.


•••


Waktu menunjukkan pukul 11 malam, Setelah memastikan kedua putrinya sudah tertidur, perlahan Gabby berjalan, kemudian keluar dari ruangan ruang rawat Laura dan Naura, berniat menemui Nael yang sedang menunggunya di tangga darurat.


Beberapa jam lalu, Nael mengirimnya pesan pesan pada Gabby dan meminta Gaby untuk bertemu. Ia ingin berbicara dengan Gabby, begitupun Gabby yang harus menegaskan sesuatu pada Nael.


Karena tidak ada tempat yang cukup privasi, akhirnya mereka setuju untuk berbicara di tangga darurat, dimana tempat itu cukup hening, apalagi Gabby tidak bisa pergi jauh karena takut Laura dan Naura mencarinya.


Saat sudah berada di depan pintu tangga darurat. Gabby terdiam, ia menghela nafas kemudian menghembuskannya. “Kau tidak boleh mengamuk Gabby. Kau tidak boleh marah padanya.” Gabby menguatkan hatinya, ia benar-benar tidak ingin menambah beban dengan mengamuk pada Nael, karena beban di depannya jauh lebih besar. Ia tak boleh membuang energinya dengan hal yang tak penting.


Setelah bisa menenangkan diri, akhirnya Gabby pun membuka pintu, lalu masuk kedalam tangga darurat. Nael yang sedang berdiri dan dan sedang melihat ke arah jendela, langsung menoleh ketika Gabby masuk.


Jantungnya berdebar tak karuan saat melihat Gabby. Entah kenapa saat melihat Gabby, Nael ingin sekali menangis. Terbayang kekejamannya di masa lalu, terbayang rasa sakit Gabby, karena ia menelantarkan Laura dan Naura, terbayang tentang rasa sakit yang selama ini Ia berikan kepada Gabby dan kedua putrinya.


“Nael, apa yang kau lakukan?”


“Gabby, maafkan aku. Ampuni aku,” Ucap Nael bulir bening langsung terjatuh dari pelupuk matanya saat berlutut di hadapan Ibu dari kedua putrinya.


“Nael, jangan begini!” pekik Gabby,


Spoilier di next bab.


Nael membuka pintu ruangan Laura dan Naura, ternyata ruangan itu kosong. Nael langsung berlari ke arah luar.


“Di mana pasien yang ada di ruangan itu?” tanya Nael pada perawat yang sedang melintas di hadapannya.


Seketika itu juga tubuh Nael langsung Ambruk di lantai. Ia tak menyangka Gabby dan Gabriel bersungguh2 dengan ucapan mereka.


Aku punya dua bab dulu ya. Soalnya aku lagi ya enak badan.


Next bab bener pecah! Gas Komen Gengs, ga komen libur seminggu hahahahaha