Dokter Meets CEO

Dokter Meets CEO
Sampai jumpa Rusia


Gabby menelusupkan wajahnya pada dada Gabriel, ia menangis sesegukan di dada saudara kembarnya. Sedangkan Gabriel memalingkan tatapannya ke arah lain, ia berusaha mati-matian menahan tangisnya agar tidak tumpah, tangannya terus mengelus punggung Gabby.


Saat ini, ini, Gaby dan Gabriel sedang berada di mobil dan mereka akan pergi ke landasan pacu. Sedari masuk ke dalam mobil, Gabby langsung memeluk Gabriel, lalu Gaby menumpahkan tangisannya di pelukan saudara kembarnya.


Ia tidak menyangka hari ini akan tiba, hari dimana ia meninggalkan Rusia meninggalkan Kenangan manis maupun pahit, meninggalkan negara yang sangat ia cintai. Ia akan berpindah ke negara asing yang sama sekali belum pernah ia tempati. Itu semua demi hidup baru, demi membuka lembaran baru dan demi meninggalkan lukanya dan luka kedua putrinya


“Sudah, Gabby. Jangan menangis!” kata Gabriel saat tangisan Gabby semakin mengencang. Gabriel bisa saja berkata itu pada sang adik, nyatanya tangisnya pun sudah berlinang. Hanya saja, ia berusaha untuk menangis tanpa suara.


Setelah sampai di Jepang, Gabby akan jarang sekali bertemu dengan kakak kembarnya dan juga adiknya. Ia juga harus mempersiapkan dirinya untuk melakukan kemoterapi bersama-sama dengan Laura dan Naura. Itu sebabnya, sebelum pergi, ia ingin puas memeluk Gabriel karena ia tak tidak tahu kapan ia bisa memeluk kakaknya lagi.


Saat ia meninggalkan negara ini, tidak ada tempat berkeluh kesah, tidak ada tempat bergantung, karena setelah di Jepang, ia akan menutup semuanya rapat-rapat. Ia tidak akan merepotkan lagi siapa-siapa. Ia harus belajar untuk menanggung semuanya seorang diri.


“Gabriel .... ” Gabby hanya mampu memanggil nama kakaknya. Mendengar suara Gabby yang begitu rapuh, tangis Gabriel semakin mengencang. Ia yang tadinya menangis Tanpa Suara tiba-tiba menangis tergugu saat mendengar suara Gabby. Walaupun Gabby tidak pernah bercerita tentang lukanya. Tapi sebagai saudara kembar, ia tahu betul apa yang dirasakan Gabby.


“Tidak apa-apa, Gabby. Kau pasti kuat, Kau pasti bisa.”


Setelah melewati perjalanan yang cukup jauh, akhirnya mobil yang di tumpangi Gabriel dan Gabby sampai di Landasan pacu. Sedangkan Laura dan Naura sudah sampai terlebih dahulu bersama Gisel dan yang lainnya.


Gabby sengaja meminta waktu untuk berdua bersama Gabriel. Hingga Gabby dan Gabriel pergi dalam satu mobil dan di kendarai oleh supir.


Saat mobil berhenti, Gabby dan Gabriel menghapus air matanya. Kemudian mereka pun turun dari mobil lalu berjalan masuk ke landasan pacu di mana pesawat sudah menunggu.


Gabriel dan Gisel tidak bisa menemani Gabby ke Jepang, karena mereka ada pekerjaan yang harus ditangani dan mereka berencana menyusul Gabby setelah pekerjaan mereka selesai.


“Daddy Gabriel, kami menyayangimu!” kata Laura dan naura berderai air mata. Bohong jika hati kedua anak kecil itu tidak hancur. Nyatanya meraka hancur karena mereka tidak bisa melihat Gabriel lagi. Walaupun meraka sudah menyerah menggapai hati Nael, tapi ada kesedihan tersendiri saat mereka tak bisa melihat sang ayah lagi.


“Daddy juga menyayangi kalian.” Gabriel memeluk keponakannya semakin erat, ia menangis sesegukan. “Kalian harus tetap baik-baik saja. Daddy akan menelepon kalian setiap hari, kalian harus beranji untuk tidak bertengkar.” Laura dan Naura melepaskan pelukannya dari Gabriel, kemudian mereka berpamitan pada istri Gabriel dan pada Gisel.


Setelah berpamitan pada semuanya, Gabby mengeluarkan tangannya pada Laura dan Naura. “Kami pergi,” ucap ucap Gabby


“Kakak!” panggil Gisel. Ia maju kemudian ia memeluk sang kakak, hingga tangis kakak beradik itu kembali pecah. Sedangkan Gabriel Langsung menangis di pelukan istrinya, mereka tidak pernah berpisah. Tapi kali ini, Gabby malah memilih pergi ke Jepang. Tentu saja itu berat bagi mereka.


“Aku akan baik-baik saja, Gisel. Kau harus baik-baik saja di sini,” ucap Gabby. Setelah itu, ia mencium kening Gisel. Lalu ia pun berbalik.


“Sampai jumpa!” pamit Gaby pada keluarganya. Gabby berbalik, ia berjalan sambil menggenggam Laura dan Naura, kemudian mereka berjalan untuk menaiki pesawat.


Sebelum menaiki tangga, Gabby berbalik. Ia melihat ka arah keluarganya. Lalu melambaikan tangan.


“Terima kasih Rusia, telah menjadi tempat tinggalku selama bertahun-tahun. Berat meninggalkan negara ini. Tapi aku ingin memulai hidup baru bersama kedua putriku, berusaha melupakan luka dan memulai kehidupan baru di sana.”


“Mommy ayo.”Suara Naura menyadarkan Gabby dari lamunannya. Gabby menoleh kemudian melanjutkan langkahnya.


Nangis kejer gas komen gengs