
Tatapan Raymond lurus ke depan, ia tidak berkedip sedikitpun, ada gelanyar aneh ketika ia melihat Ayana yang sedang memeluk putrinya. Ya, saat ini Raymond sedang memarkirkan mobilnya di depan rumah Ayana.
Setelah keluar dari kantor, tanpa sadar ia mengikuti Ayana. Seperti ada magnet menyuruhnya untuk mengikuti sekretarisnya.
Ya, Raymond akui, dia memang menarik Ayana sebagai sekretarisnya, karena ia ingin membalas Ayana dan ingin membalas kesombongan Ayana di masa lalu, saat Ayana menolaknya secara mentah-mentah dan itu membuat harga diri Raymond terluka.
Saat sekretari nya yang dulu, menyodorkan kandidat untuk menjadi sekretaris baru. Raymond tanpa sengaja melihat foto Ayana, dan tanpa pikir panjang Raymond memilih Ayana untuk menjadi sekretarisnya dan Raymond bertekad untuk membalas Ayana, Ia juga sudah mencari tahu tentang kehidupan Ayana termasuk tentang masalahnya dengan Jordan.
Entah kenapa, dia bahagia dengan kehidupan Ayana yang hancur. Tapi dia pun merasakan perasaan yang lain. Terkadang, ia selalu senang jika melihat Ayana tampak kesulitan. Tapi terkadang, ia juga tidak tega.
Selama sebulan Ayana bekerja, Raymond sengaja menyuruh Ayana bekerja keras memeriksa berkas-berkas yang sebenarnya tidak penting, dia juga selalu memaksa Ayana untuk makan pedas.
Beberapa kali ia mengajak Ayana untuk makan pedas, karena ia tahu Ayana menderita magh, ia juga sering melihat Ayana memegang perutnya karena kesakitan.
Tapi sekarang, ketika melihat Ayana memeluk putrinya. Entah kenapa ada desiran aneh yang menerpa hati Raymond, semacam perasaan tak tega dan merasa bersalah. Tapi, tak lama, Raymond menggeleng-gelengkan kepalanya. Ia melihat ke sekitarnya.
“Kenapa juga aku harus mengikutinya,” ucap Raymond, Ia pun langsung menyalakan mobilnya dan menjalankannya kembali mobilnya.
•••
“Moa, sejak kapan kau menunggu di luar?” tanya Ayana, ia terus mengelus punggung putrinya.
“Mungkin 3 jam lalu.”
“3 jam lalu?” ulang Ayana. “Kenapa kau menunggu selama itu?"
“Kalau begitu ayo kita masuk, besok mommy akan libur bekerja dan ayo kita pergi dan menginap di pantai!” kata Ayana, Moa menjauhkan tubuhnya, kemudian menatap sang ibu.
“Benarkah apa kita akan pergi ke pantai?” tanya Moa. Ayana mengangguk.
“Ayo masuk!” Ayana pun bangkit dari duduknya, kemudian ia langsung menggendong Moa untuk masuk ke dalam.
satu bulan kemudian
Raymond terus memperhatikan CCTV yang terhubung ke ruang Ayana, di CCTV itu Ayana tanpak fokus mengerjakan pekerjaannya. Ini sudah 1 bulan berlalu semenjak Ayana mengetahui semuanya, dan selama satu bulan ini pula Ayana tetap mengerjakan semuanya seperti biasa.
Dan entah kenapa, Raymond merasa kesal. Ia kesal karena Ayana masih menurut padanya, dan tidak memberontak. Bukankah seharusnya Ayana melawannya atau seharusnya Ayana protes.
Selama sebulan ini pula, ia terus mengerjai Ayana . Bahkan lebih parah dari sebelumnya dan berharap ayahnya protes padanya. Tapi sayang, Ayana malah tetap patuh.
Raymond mengambil gagang telepon, kemudian ia menelpon ke ruangan Ayana. “Datang ke ruanganku sekarang!” titah Raymond setelah itu, ia kembali mematikan panggilannya.
Tak lama, pintu diketuk Ayana masuk ke dalam ruangan. “Anda butuh sesuatu tuan?” tanya Ayana .
“Aku ada pesta, temani aku jam 08.00 malam. #)8 akan mengirimkan gaun untukmu!”
Ayana mengangguk. “Kalau begitu saya permisi!” lagi-lagi Raymond mengusap wajah kasar, saat ayahnya tampak tak keberatan saat ia mengajaknya ke pesta, bukankah seharusnya Ayana bertanya.